Senin, Agustus 14, 2006

TILIK SIMBAH

BIYUNG: JIMAT ANAK PUTU

Seminggu yang lalu, saya menerima kabar dari Simbok saya di kampung yang menceritakan bahwa Biyung (simbah, biyung tuwa alias nenek, red) sudah selama tiga minggu ini anjangsana di tempat kakak sepupu saya di Serpong. Karena berbagai kesibukan penggawean di kantor menyebabkan tertundanya rencana saya untuk sekedar ngaruhke beliau. Baru hari Minggu kemarin akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk atur sungkem.

Dengan sebuah KRL akhirnya saya tempuh perjalanan sekitar satu jam melewati jalur Tanah Abang - Serpong. Sebuah lintasan rel yang sangat akrab bagi saya, karena setiap hari saya melewatinya pulang pergi makarya di pusat kota, tiga tahun yang lalu. Sebuah kenangan kembali terngiang tatkala sekelompok grup pengamen dengan peralatan lengkap(gitar, bas, minidrum, akordion) menyanyikan lagu SMS.....keren banget dech.

Sampai di tempat Mbak kira-kira jam 10, saya ucapkan greeting saya, "kula nuwun .... ". Serta merta suami Mbakku yang sedang mbengkel di depan rumah terkejut seraya memanggil "Mbah Buyut cucune datang ki". Biyung nampak trenyuh melihat kedatanganku, sudah setengah tahun lewat saya tak sempat ketemu Biyung.

Setelah mbagekke kabar keslametanku, Biyung langsung mengeluh betapa nglangutnya dia menjalani hari-hari selama tiga minggu ini di rumah Mbakku. Siang terasa terlalu panjang dan malampun terasa terlalu lambat berjalan. "Tiap hari kerjaannya hanya thenguk-thenguk ines di tritikan", kisahnya. Intinya Biyung kepingin cepat pulang kampung kembali menghirup angin gunung.

Untuk sekedar nylamur waktu, Biyung minta dibelikan telo pendhem untuk kemudian dibuatnya timus, pagi tadi. Dan saya sebagai wayah yang dikasihnya diminta mencicipinya untuk pertama kali. Tangan Biyung memang masih cekatan dan trampil mengolah bahan masakan, karena memang Biyung sedari muda seorang pengrajin tempe dele yang handal di kampungku, dan hasilnya sepiring timus yang lezat.

Sambil terus menyantap hidangan, Biyung sedikit ndongeng mengenai masa lalunya. Dia tak habis pikir mengingat betapa jauh jarak yang ia tempuh dari Merapi - Bekasi - hingga terdampar di Serpong. Jaman dulu orang tidak pernah punya angan-angan pergi jauh dengan berkendaraan. Kemanapun orang pergi, kedua kakinyalah yang menjadi penyambung langkah. Dia mengenang tatkala menjadi bakul gaplek dan sayuran menempuh jarak puluhan kilo meter dari lereng Merapi menuju lembah Borobudur. Semua dijalani dengan penuh kebersamaan bersama teman-temannya, dan semangat itulah yang membuat pikiran selalu riang sehingga membuat dadanya lapang dan langkahnya kemudian menjadi ringan penuh keriangan. Orang sekarang nggak mungkin kuat menjalani kehidupan berat sedemikian.

Biyung juga terkenang Biyung Sarinten, kakak kandungnya. Di masa kecil Biyung berdua tersebut, sebagai anak sulung dan nomor dua mendapat tugas yang berat untuk nggula wentah adik-adiknya dua belas bersaudara. Dikatakannya Biyung berdua selalu mendapat tugas memasak di dapur, kemudian angon bebek dan ngarit rumput. Sudah harus menjalani tugas berat, seringkali mereka dimarahi oleh Mbah Buyut yang memang terkenal ringan tangan. Pernah satu ketika, Biyung disuruh membawa garu(alat bajak) ke sawah. Garu selalu dibawa dalam posisi miring, namun karena Biyung seorang perempuan, dia membawanya mendatar sehingga waktu melewati depan rumah Mbah Basir garunya nyangkut di pohon waru doyong dan sang garu jatuh menimpa tubuh Biyung. Sambil menahan rasa sakit diteruskannya membawa garu ke sawah. Sampai di sawah, bukannya dimaklumi oleh Mbah Buyut, malah pecutan gagang pecut yang didapati. Mbah buyut malah menuduh Biyung keluyuran kemana-mana.

Menghadapi orang tua yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Biyung Sarinten pernah nguda rasa ke Biyung, " Mi, meskipun kita punya bapa yang galak dan cengkiling, smoga nanti kalau mendapat suami mendapatkan suami yang baik hati dan penyayang". Dan dunia kemudian membuktikan Biyung berdua tersebut memang mendapatkan suami yang jembar segara. Menyimak Biyung bercerita, hatiku terasa trenyuh dan prihatin sedih, kasihan Biyung menghadapi kerasnya dunia.

Setahun yang lalu, Biyung terkena serangan tetanus akibat sempat terjatuh di pematang tegalan dan di amben sewaktu mau sholat. Satu setengah bulan Biyung terpaksa mendapat perawatan intensif di RST Magelang. Sekarang setelah setahun berlalu, tetanus tersebut masih menyisakan berbagai kesulitan yang menghambat aktivitas Biyung. Diantaranya, sampai saat ini Biyung belum bisa simpuh sehingga dia merasa tidak nyaman pada waktu sholat. Biyung seringkali mupus bahwa dirinya sudah tua dan tak mengharapkan apa-apa lagi, sudah mendekati ajal dan bukanlah bagian yang penting lagi bagi perputaran roda kehidupan. Sudah saatnya yang muda menerima estafet tugas memuliakan dunia, pesannya.

Bagi kami, anak cucunya, Biyung adalah sebuah mutiara sekaligus permata yang harus selalu kami uri-uri keberadaannya. Biyung ibaratnya jimat yang sanggup membangkitkan semangat dan kekuatan kami dalam menantang kerasnya dunia. Yung, sungkem pangabekti tansah katur panjenengan...............

Posted by Nananging Jagad at 17:36:20 | Permanent Link | Comments (7) |
Komentar
1 - mumpung masih ada waktu, sempatkan waktu berkumpul sesering mungkin mas... :)
saya dulu menyesal karena nenek yang sangat saya kasihi melebihi apapun di dunia ini, telah berpulang, dan di akhir hayatnya saya kurang meluangkan waktu berkumpul bersama beliau... :( (Comment this)

Ditulis oleh: tifoso at 2006/08/15 - 08:19:19
profile
2 - tifoso, Iya, bener Mas...hal yang sama juga terjadi terhadap kakek saya je. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/08/15 - 11:01:47 in reply to: 1
3 - we lah, aku ora nduwe simbah sejak lama sekali. nunut nduwe simbah entuk ora? (Comment this)

Ditulis oleh: ipoul_bangsari at 2006/08/15 - 11:02:20
4 - wah mbahku tinggal satu orang, yg lain sudah mangkat semua. (Comment this)

Ditulis oleh: Hedi at 2006/08/16 - 01:59:27
profile
5 - ipoul_bangsari, Mesti olehe to Ndoro....mbahku yo mbahmu, mbahmu yo mbahku lak ngono. (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/08/16 - 10:34:28 in reply to: 3
profile
6 - Hedi, Makane sama-sama diwet-wetlah Mas! (Comment this)

Ditulis oleh: anang at 2006/08/16 - 10:37:38 in reply to: 4
7 - telat komen nih....
duh, bikin trenyuh....jd inget biyung dan bopo yg tlh tiada.... (Comment this)

Ditulis oleh: sakura_98 at 2006/08/24 - 09:11:47
Tulis komentar