HUT RI

SALAM KEMERDEKAAN
Hari-hari ini merupakan detik-detik menjelang peringatan kemerdekaan kita. Merdeka yang belum mardhika, karena kenyataanya masih banyak ide dan paham penjajahan yang malahan semakin mengakar kuat di tengah kehidupan kita.
Tanpa sadar banyak pihak yang menjadi penjajah sejati. Apakah orang tua terhadap anak, kakak terhadap adik, majikan terhadap buruh, guru terhadap murid, dosen terhadap mahasiswa, atasan terhadap bawahan, gusti terhadap kawula, pusat terhadap daerah, bahkan negara terhadap rakyatnya sendiri.
Bangsa kita semakin tidak mempunyai kiblat untuk memandu arah tujuan bahtera negara. Negara kita berjalan tanpa visi dan misi yang jelas. Format barisan kita amburadul. Bahkan Tuhanpun seakan sudah nglokro dengan sikap pongah dan congkak bangsa besar ini. Hukum Tuhan seakan kita lemparkan jauh ke sudut peradaban. Tuhan sudah tidak dianggep lagi, sekedar terngiang lirih pada tataran konsep bawah sadar kita. Setan dan iblis sudah bingung mencari konsep dan format untuk menyerang manusia. Karena kenyataannya manusia sudah lebih iblis dibandingkan nenek moyang iblis sekalipun. Iblis sudah menjaga jarak sedemikian rupa agar tidak kesurupan manusia.
Melihat kondisi negri ini, nampaknya kita tinggal pasrah penuh kepada Tuhan karena nampaknya hanya kekuatan Tuhan yang mampu mengubah keadaan. Pernah Mas Nevi, seorang seniman Bantul menyindir bangsa ini dengan parikan nylekitnya:
Hana cara ka
Data sawa la
Pada pekok a
Mangga modar a
Bagiamanapun kondisi negri ini, kita harus senantiasa setia dan sedia menjadi bhayangkara. Menegakkan kebenaran semaksimal kesanggupan kita. Ikut menyumbangkan dharma bakti dalam kerangka memayu hayuning bawana.
NDEREK MANGAYU BAGYA
DINTEN KAMARDIKAN NEGARI REPUBLIK INDONESIA
INGKANG KAPING SEWIDAK SETUNGGAL
***********









