MULIH NDESA
MUDIK LIBURAN
Liburan cuti bersama dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-61 sengaja saya manfaatkan sebaik-baiknya. Jauh hari saya sudah ancang-ancang untuk mudik pulang ke sangkan di kampung halaman tercinta. Dalam hati sih kepingin menikmati suasana detik-detik proklamasi di kecamatan, yang selalu ramai dengan “ritual” khas lengkap dengan segala ubarampe pentas seni tradisional, mulai janthilan, campur, kobra, lutungan, ndayakan, ndolalak, angguk dan lain sebagainya. Namun apa daya maksud hati tak sampai karena kehabisan tiket kereta.
Akhirnya saya putuskan untuk pulang mudik Kamis sore setelah di pagi harinya secara khikmat mengikuti upacara bendera di kantor dan dilanjutkan menonton upacara di Istana Merdeka. Petang hari jam 19.00 tepat kereta api Sawunggalih membawaku meninggalkan Senen menuju Kutoarjo. Tiba di Kutoarjo sekitar jam 03.30 dinihari untuk kemudia kulanjutkan perjalananku menuju Magelang dengan bus.
Sekitar pukul 05.00 pagi, mak nyees kurasakan kesejukan kota Magelang dengan panorama Gunung Tidar yang seakan baru tersadar dari lelap tidurnya. Sengaja pagi itu saya mampir dulu di rumah kakak sulung saya di bilangan Secaba – RINDAM IV.
Siang jam sepuluhan baru kedua kaki ini menginjakkan diri di bumi Merapi ayng telah membalung sungsum di jiwa dan ragaku. Bapak lan Simbok langsung mbagekke kedatanganku, menanyakan kabar pawartos sang Janoko putra tercintanya. Simbok kemudian banyak bercerita tentang “prayaan” tujubelasan di kecamatan yang meriah. Tontonan dan pentas seni lengkap tidak seperti tahun sebelumnya. Yang paling heboh cerita mengenai Pak Djarwo, camatku yang terjatuh pingsan sesaat setelah selesai bertindak sebagai irup. Kasihan deh pak camatku, mungkin karena kelelahan akibat semalaman mengikuti tirakatan sambil nanggap wayang semalam suntuk di pendopo kecamatan.

Malam hari sehabis Isya’ kusempatkan dolan di rumah simbah yang kebetulan masih satu kampung. Lik Mi, adik bapakku, kemudian bercerita panjang lebar mengenai kisah perjalannya ke Ngampel di Boyolali untuk berkunjung ke rumah adik sepupu saya yang kebetulan sedang menggelar acara rejeban di kampungnya. Lik Mi menuturkan semangat gotong royong warga lereng Merbabu tersebut masih ngrembaka. Selain acara ritual, juga digelar pesta seni rakyat yang murah meriah penuh makna. Habis dari Ngampel, Likku mampir di Windusari di lereng Merapi untuk sekedar njagong bayi karena kebetulan adik sepupuku yang lain baru melahirkan anak ke duanya. Wuaduh......bertambah lagi prunanku seorang dan berarti bertambah lagi prunan yang memanggilku pakdhe.










soal prunan, saya malah sudah punya 5 anak memanggil saya mbah. gimana in indoro? (Comment this)