Tuesday, December 11, 2007

CNKK’s Event

HADIRILAH KEMBALI!!!

Kajian rutin setiap bulan dengan tajuk

“KENDURI CINTA DESEMBER 2007″
Tema:
“Biarkan Telanjang!”

bersama:
Kiai Budi Hardjono

Emha Ainun Nadjib

Cak Kartolo
Ustadz Wijayanto

didukung oleh:
Kiai Kanjeng Sepuh
Brantas
Mbah Surip

laksanaan:
Jum’at, 14 Desember 2007
Pukul 20.00 WIB - selesai
Lapangan Parkir Taman Ismail Marzuki
Jln. Cikini Raya, Jakarta Pusat

GRATIS………LESEHAN……..BAROKAH

simak dan saksikan juga……

Posted by Nananging Jagad at 04:58:44 | Permalink | Comments (7)

Friday, December 7, 2007

SALAH PAHAM SERUMPUN

Kita Para ”Indon”


Koran SINDO, Jum’at, 23/11/2007

SATU pekan lagi(red), 14 Desember, saya akan sediakan panggung-panggung untuk beberapa penyair PENA Malaysia di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Besoknya saya ajak ke acara Komisi Yudisial, ada Rendra,Taufiq Ismail,M Sobary,Kiai Kanjeng, dll di sana.


Besoknya lagi saya coba koordinasikan dengan Taman Budaya Yogya. Besoknya sesudah itu di padangbulanan Yogya ”Mocopat Syafaat”Yogya. Kemudian sudah saya pesan kerja sama dengan Fakultas Sastra Unair dan Bengkel Muda Surabaya. Justru karena Indonesia dan Malaysia sedang tak enak hati. Orang Indonesia uring-uringan soal ”Rasa Sayange”, ”Reog”, ”Batik”, dll.


Malaysia dianggap ‘ngelunjak’, ang kuh, merendahkan, bahkan semua warga kita yang di Malaysia kebal dengan sebutan ”Indon”. Malaysia sendiri juga punya perasaan yang sama. Heran kenapa Indonesia marahmarah. Pejabat-pejabat di sana mengeluh bahwa pers Indonesia terlalu membesarbesarkan masalah.


Seorang anak muda, dalam acara ”Kongres Budaya Serumpun” mengatakan kepada saya: ”Bangsa Indonesia bersikap seperti itu karena pendidikannya lebih rendah dari bangsa Malaysia”. Sebenarnya agak malas, tetapi saya langsung jawab ketika itu: ”Please don’t ever ever ever say such a word again…”.

Apalagi kalau pas di Indonesia, kalimat itu jangan pernah diucapkan. Saya tidak tergerak untuk membantahnya, meskipun budayawan senior Baharudin Zainal kemudian setengah mati mengatakan: ”Saya dibesarkan secara intelektual di Indonesia.Harsya Bachtiar, Umar Kayam, Goenawan Muhamad,Taufiq Abdullah,dll bukan hanya sahabat-sahabat saya, tapi juga inspirator dan guru-guru saya.

Dalam konteks pencapaian intelektual,kebudayaan dan karya seni, Indonesia sama sekali bukan tandingan kita. Secara keseluruhan, bahkan Indonesia adalah gurunya Malaysia….” Saya sendiri tidak akan membela diri seperti itu.Andaikan dikejar kenapa sa- angya bilang ”Do not ever say that again”, saya akan jawab: ke mana pun pergi, saya selalu belajar dan berguru.Apalagi ke Malaysia.

Kalau guru saya merendahkan saya, maka saya batalkan pembelajaran saya, sebab ekspresi superioritas orang lain sudah lebih dari cukup bagi saya untuk merogoh, menyerap, mencuri dan menelanjanginya sampai ia kopong kosong hampa. Ada sangat banyak dan cukup panjang soal Indonesia-Malaysia ini kalau dituliskan.Banyak segi,dimensi, dan nuansa.

Berulang kali saya ke Malaysia, beberapa kali dengan Kiai Kanjeng, tanpa pernah mengalami sikap angkuh atau meremehkan dari mereka. Ada sejumlah fakta dan data bisa dipakai kalau mau pertandingan keunggulan, bangsa Indonesia sesungguhnya tak terlawan oleh siapa pun di muka bumi ini, kecuali (kita juga memiliki) sejumlah kecenderungan seperti ‘selengean’, ‘cengengesan’, ‘iseng’, tidak percaya satu sama lain, terlalu permisif, dan suka menggampangkan sesuatu.

Kita bisa diskusi tentang Indonesia- Malaysia sekian bab. Misalnya kontinuasi perang dingin dan dendam Melaka-Majapahit. Bab lain tentang Hang Tuah dan Hang Jebat.Bab lain tentang Kementerian Pariwisata dan Eny Beatric.Bab lain tentang TKI-TKW sebagai representasi bangsa Indonesia, sehingga generasi terbaru Malaysia membayangkan Indonesia itu hutan rimba, suku terasing, kampung-kampung, dusun-dusun, uneducated dan uncivilized nation.

Bab lain tentang paradoks antara fanatisme Melayu, tetapi orientasi kebaratan yang makin meninggi. Bab lain tentang perlunya bangsa Malaysia dikasih data tentang jumlah orang Jawa di tengah bangsa-bangsa dan sukusuku di wilayah Nusantara. Cukup statistik saja dulu, tak perlu hal Ronggowarsito, Gajahmada, filsafat adiluhung, Tari Bedoyo Ketawang, apalagi sampai Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer atau BJ Habibie. Juga tak perlu hitung dulu berapa jumlah mal di Kelapa Gading saja, tak perlu seluruh Jakarta, dibanding Kuala Lumpur.
Bab lain tentang hal-hal internal di kandungan kehidupan bangsa Malaysia.Tentang posisi persaingan Melayu melawan etnik China dan India.Tentang konstelasi nilai pencapaian akademis mahasiswamahasiswa Indonesia di Malaysia. Tentang bandingan omzet Digi, Maxis, dan Celcom yang mencerminkan prestasi manajemen pada perusahaan-perusahaan ‘etnik’ di belakangnya.

Tentang dangdut dan campur sari,serta sejarah etos ekonomi di Chowkit. Tentang tukang batu, tukang kayu Jawa, bagaimana gerangan prestasi ekonomi mereka. Tentang peran masa depan TKW bagi anak-anak Malaysia. Tentang bangsa yang menghindari ”3D”: dirty, difficult, dangerous….

Tetapi semuanya itu sebenarnya tak perlu diungkap.Kalau SBY punya kalimat yang memenuhi kepiawaian diplomatik sekaligus keindahan budaya dan kearifan rohani, segera semua bisa dieliminasi. Kecuali memilih seperti Bung Karno: ”Ganyang Malaysia!”, meskipun terpaksa kita tambahi ”Tapi selamatkan Siti Nurhaliza”. Atau mungkin bisa duta SBY dan perutusan Pak Lah duduk bersama, kemudian bikin pernyataan bersama.

Bangsa Malaysia adalah bangsa yang sebaiknya dipangku disayang oleh bangsa Indonesia. Soal ribut-ribut hak cipta itu silakan pilih beberapa jalan berpikir, misalnya: ”O, itu orang Jawa Sunda Bugis Ambon sendiri yang berbaju Malaysia yang menggoda Indonesia melalui Rasa Sayange dll supaya bangsa Indonesia bangun dari tidurnya, marah, dan bertindak sungguh-sungguh untuk membangun kembali dan membela martabatnya.

Klaim dan godaan itu dilakukan bersumber dari kandungan rahasia rasa nasionalisme anak turun kita sendiri di Malaysia….” Menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali ibn Abi Thalib, menang duel, musuh tergeletak dengan ujung pedang Ali di lehernya. Si musuh meludahi wajah Ali, sehingga Ali menarik pedangnya, ngeloyor pergi meninggalkan musuh yang sebenarnya dengan satu gerakan kecil bisa ditumpasnya.

Ketika ditanya, Ali menjawab: ”Karena diludahi, aku meninggalkannya. Karena aku takut gerak ujung pedangku digerakkan oleh amarah, bukan bergerak karena Allah”. Kita tak perlu pergi seperti Ali, sebab kita sangat besar: kita pangku saja Malaysia. (*)

EMHA AINUN NADJIB

Posted by Nananging Jagad at 01:59:20 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, December 4, 2007

KTT PERUBAHAN IKLIM

PERUBAHAN IKLIM……

SALAH SIAPAKAH?

Selama kurang lebih sebelas hari, terhitung tanggal 3-14 Desember 2007 bertempat di Bali diselenggarakan KTT mengenai Perubahan Iklim. Belakangan memang kita sebagai orang awam sekalipun sangat merasakan terjadinya perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu lingkungan, anomali musim, curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun, hingga masalah kelangkaan air di musim kemarau dan “kelebihan” air(bah) di musim hujan. Pertanda apakah ini?….Itulah yang dimaksud dengan perubahan iklim.


Salah satu penyebab yang diindikasi sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim tersebut adalah berkurangnya fungsi paru-paru bumi akibat pembabatan hutan secara liar. Dan Indonesia sebagai salah satu kawasan paru-paru dunia dianggap telah lalai merusak kawasan hutannya. Kemudian untuk membayar kelalaian tersebut dunia internasional memfonis agar Indonesia lebih memperbesar anggaran dana untuk penghijauan kembali hutannya. Adilkah hal tersebut???


Hutan kita dibabat oleh para pemodal yang melakukan ilegal logging, tanpa memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Kayu hasil pembalakan tersebut kemudian diekspor secara ilegal pula ke beberapa negara. Dan negara-negara penerima kayu ilegal tersebut sangat menikmati kayu dengan harga yang murah meriah tersebut. Dengan demikian semetinya mereka, negara-negara penikmat kayu ilegal tersebut juga harus menanggung dana untuk pemulihan hutan agar kemabli hijau. Dan ini berarti kerusakan hutan tropis sebagai paru-paru dunia adalah kontribusi dunia yang telah langsung maupun tidak langsung ikut andil merusaknya, sehingga sebagai konsekuensinya harus ditanggung renteng bersama-sama.


Oleh karena itu, sangatlah tidak adil ketika negara-negara berkembang dituntut meratifikasi Protokol Kyoto untuk mengurangi emisi gas rumah kaca akibat kegiatan industri dan pembakaran fosilnya, juga akibat berkurangnya areal hutan sebagai penghisap karbondioksida, sementara di sisi lain negara maju seperti Amerika enggan dan tak mau meratifikasi protokol tersebut. Belakangan memang Australia ikut meratifikasi. Bagaimana pendapat kisanak sedoyo?

Posted by Nananging Jagad at 01:01:05 | Permalink | Comments (3)

Tuesday, November 27, 2007

POLLING!!!

SMS LEBARAN

Setelah bulan Syawal 1428 H berlalu sekian minggu, kiranya baru teringat bahwa pada detik-detik kedatangan Hari Raya Idhul Fitri kemarin banyak teman, rekan, dan sanak kadang serta sedulur yang berucap maaf melalui pesen cekak di ponsel. Dan berikut beberapa diantaranya ditampilkan sebagai lima sms terfavorit untuk tahun ini……..

Posisi pertama:

Warto bagyo suko ngiring condro, angruwat saliro lumunturing samodro pangaksomo, ambabar sedyo tumuju dadyo jalmo utomo….SELAMAT IDUL FITHRI 1 syawal 1428 H, sami-sami nggih, matur nuwun……..(Mas Naryo&keluarga – Bendaharawan KC Community).

Posisi ke dua:

Samo-samo…..Di sawah nan bakiambang, banyak padi nan tak mangisi, kok gawa buliah ditimbang, pado badoso ampunbawali..Mohon maaf lahir bathin…..(Mas Budi – nDalem KK).

Posisi ke tiga:

Lontong kramat campur tahu, nggowo kupat kecemplung santen, bodo jum’at nopo setu, sdoyo lepat nyuwun pangapunten…….(Febri+keluarga – Kebumen).

Posisi ke empat:

Anak kodok makan ketupat, makan ketupat sambil melompat, berjabat tangan kagak sempat-sempat, sms-pun no what-what…Selamat Idul Fitri 1428 H Mhn maaf lhr btn…….(Idin – Ex4Bhe)

Posisi ke lima:

 Harga paling berharga adalah sabar, dulur paling setia adalah amal,  ibadah paling indah adalah ikhlas, pekerjaan paling terpuji adalah memaafkan. Minal aidin wal faizin……(Lik Tangerang)

Posted by Nananging Jagad at 00:52:53 | Permalink | Comments (5)

Wednesday, November 21, 2007

KIPNAS IX

VISI TEKNOLOGI DAN KEMAKMURAN NASIONAL
Ambisi sang pakar rudal
“Beranilah bermimpi karena mimpi akan menuntun kita untuk berpikir, dan pikiran akan menuntun kita untuk bertindak!” Demikian pesan penting yang disampaikan oleh Dr. Avul Pakir Jainulabden Kalam, mantan Presiden India ke-11 periode tahun 2002-2007 salaku pembicara kunci dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional(KIPNAS) IX hari Selasa 20 November 2007 kemarin. Kalam dikenal sebagai ilmuan yang menggeluti aeronautical engineer bidang peroketan balistik.

India adalah salah satu bukti darena pernyataannya tersebut. Dengan menggeluti dan mengembangkan iptek India mampu berlari mengejar ketertinggalannya dari negara lain dan berada pada jajaran terdepan penguasaan teknologi persenjataan nuklir. Atas jasa Kalam, India memiliki lima jenis rudal balistik antar benua berhulu ledak nuklir. Rudal Rag merupakan rudal anti tank, Prithvi rudal balistik darat ke udara, Akash rudal jarak menengah darat ke udara, Trishul rudal jarak pendek reaksi cepat dari darat ke udara, dan Agni rudal jarak menengah. Karena kepemilikan senjata tersebut posisi India tidak bisa lagi dianggap enteng oleh negara maju.

Di masa pemerintahan Kalam, ia merumuskan kebijakan pembangunan jangka panjang yang terkenal dengan VISI 2020 IT (India Today) untuk mencapai India menjadi negara maju baru. Melalui implementasi visi tersebut, kini pertumbuhan ekonomi India dilecut tumbuh pesat pada angka 9 persen. Luar biasa….nampaknya impian Kalam di tahun 2020 akan optimis dapat dicapai dengan gemilang.

Salah satu konsep program yang digulirkannya adalah PURA. Providing Urban Amenities in Rural Areas ini bertujuan mengintegrasikan wilayah pedesaan yang menjadi domisili mayoritas penduduk India, dimana 30-50 desa akan digabung menjadi suatu pusat pertumbuhan ekonomi dengan membangun infrastruktur penunjang terpadu, mulai dari jaringan jalan dan transprotasi, pusat ekonomi baru, pusat kesehatan, dan pusat pendidikan, serta pusat informasi dan teknologi.

Nampaknya memang tidak terkesan begitu mewah impian Kalam tersebut, mengingat negara Mahabarata tersebut memiliki kaum intelektual muda yang tersebar luas di dunia dan India sendiri dikenal sebagai negeri dengan biaya pendidikan termurah di dunia. Kita tentu pernah mendengar betapa 30 persen para kaki tangan Bill Gates di Microsoft merupakan putra India, demikian halnya sebagian besar dokter di Amerika juga berasal dari bumi Hindustan.

Sedikit ironi barangkali dengan negara yang dipuji sebagai apunjung wukir, gemah ripah loh jinawi semacam Indonesia yang kian terseok dengan kekalahan peradaban di era globalisasi. Padahal di masa lalu, seakan tahapan pembangunan dan mimpi-mimpi mengenai negara yang makmur telah tertata dengan rapi, namun kini kandas tanpa sempat tinggal landas. Apakah kita sebagai bangsa besar sebagaimana India, tidak mampu bangkit untuk membangun mimpi baru sebagai spirit perjuangan menjawab tantangan globalisasi jaman? Pripun pak presiden?……….Ampun pemrentah!!!

Posted by Nananging Jagad at 05:55:18 | Permalink | Comments (5)

APAKAH KITA INGAT?

HARI POHON
21 November 2007

        Ternyata ada to yang namanya Hari Pohon, tepatnya diperingati pada tanggal 21 November tiap tahunnya. Barangkali banyak orang tidak mengetahui mengenai keberadaan hari tersebut, tapi satu yang pasti…..semua orang kiranya sepakat bahwa pohon merupakan bagian terpenting dalam menopang fungsi alam bagi kehidupan manusia.

           Pohon merupakan jenis tumbuhan tingkat tinggi yang terdiri berbagai macam spesies, ordo dan kelas-kelasnya. Pohon dengan daun berklorofil mampu menyerap karbon dioksida hasil proses pembakaran sebagai bahan baku proses fotosintesa sehingga menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan untuk pernafasan makhluk lain, termasuk manusia. Dengan demikian kebradaan pohon sangat berguna bagi keberlangsungan hidup manusia. Lalu mengapa ada pihak yang membabat alas seenak perutnya sendiri?

            Pembabatan alas menyebabkan hutan jadi gundul, hingga jika terjadi hujan deras mengakibatkan terjadinya tanah longsor, erosi tanah dan tentu saja bencana banjir bandhang. Demikian pula peran pohon di lingkungan perkotaan sangat vital untuk menyaring udara agar tercipta lingkungan sejuk dan segar. Namun yang terjadi di lingkungan kota adalah dibabatnya pepohonan tanpa proporsional yang tepat dan malah digantikan dengan pohon-pohon beton yang menambah panas udara kota.

     Keberadaan pohon di sekitar lingkungan kita harus diupayakan seimbang dengan banyaknya sebaran karbondioksida yang timbul akibat aktivitas manusia. Dengan demikian pembabatan untuk proyek tertentu tidak boleh dilakukan dengan semena-mena dan harus ada kompensasi untuk mengganti dengan pohon yang baru. Pohon sebagai sarana penghijauan lingkungan harus kembali ditanam di setiap jengkal tanah yang memungkinkannya dapat tumbuh.

           Dalam soal penanaman pohon untuk pengijauan lingkungan, barangkali sedikit kita bisa belajar dari Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul dengan program Jati Palakrami-nya. Palakrami mengandung pengertian pernikahan atau perkawinan. Lalu bagaimana hubungannya dengan jati, atau lebih jauh dengan program penghijauan?

         Sudah menjadi kebijakan pemerintah setempat yang diamini oleh masyarakat bahwasanya setiap pasangan muda yang akan melangsungkan pernikahan untuk membentuk mahligai keluarga baru diwajibkan menanam pohon jati baru minimal 2 pohon untuk masing-masing pasangan. Dan yang lebih penting, pohon tersebut tidak boleh ditebang sebelum anak-anak hasil perkawinan tersebut berusia remaja. Jenis jati yang ditanam adalah varietas jati emas, yang merupakan jenis jati unggul yang berumur genjah karena sudah layak dipanen pada usia sepuluh tahun. Dengan program ini diharapkan masyarakat dapat menghijaukan lingkungannya masing-masing dan senantiasa menjaga untuk tidak sembarangan membabat pohon seenaknya sendiri karena senantiasa dikontrol oleh para pamong desa.

         Di sisi lain, masyarakat setempat juga mempunyai kepercayaan bahwa setiap desa atau dusun harus senantiasa memelihara resan, sebuah pohon keramat yang tidak boleh disentuh-sentuh apalagi ditebang sembarangan karena diyakini sebagai tempat ruh para nenek moyang dan danyang penguasa tanah sakukuban bersemayam. Nampaknya masyarakat tradisional malah lebih berperadaban dalam bersahabat dengan pohon dan lingkungan hidup di sekitarnya dengan bertumpu pada nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwarisi secara turun temurun.

Posted by Nananging Jagad at 00:51:42 | Permalink | Comments (6)

Thursday, November 15, 2007

SEPUTAR SEMINAR

HUJAN SEMINAR
Sebagaimana lagu Guns N’Roses bertajuk “November Rain”, dan juga kenyataan di lapangan akan derasnya curah hujan yang senantiasa disertai badai, topan, dan lesus(tanpa Timbul dan Tarsan tentunya) termasuk si genit puting beliung, ternyata banyak instansi yang membanjiri hari-hari kerjanya dengan kegiatan seminar, lokakarya, workshop dan sejenisnya(ngejar realisasi anggaran tentunya). Jadi teringat masa-masa ngangsu kawruh ing Yoja mbiyen…….
Semasa kuliah dulu, hari-hari kami(AlHas crew) yang kebetulan dapat kortingan langganan koran KR, setiap pagi diwarnai rutinitas membaca koran kebanggaan wong Yoja tersebut. Informasi yang kami cari pertama kali pastilah soal seminar (gratis). Dalam pola pikir yang diajarkan Kiai Agus Salim van Kudus lan Romo Agus Sulis(para mahasiswa abadi-waktu itu), bahwa yang bernama ilmu pengetahuan itu bisa diperoleh dari berbagai tempat dengan berbagai sarana serta media, dan salah satunya lewat seminar. Dan adalah menjadi hak asasi bagi setiap anak bangsa untuk dapat memperoleh ilmu tersebut, dengan demikian tidak menjadi alasan kenapa biaya pendidikan begitu mahal di negri ini. Demikian pula dengan seminar, banyak seminar yang dijual begitu mahal kepada mahasiswa.
Karena anggapan kami bahwa seminar itu sarana diseminasi ilmu pengetahuan, maka otomatis forum itu juga menjadi hak anak bangsa untuk berperan di dalamnya. Dengan bekal dalil seperti itu, maka kami senantiasa bergerilya untuk mengikuti seminar sekedar untuk memperluas cakrawala pengetahuan kami(…….meski motivasi awal sekedar numpang makan siang gratisan).


Berbagai petualangan di medan seminar sepertinya pernah kami jalani, mulai seminar mengenai IT, politik, ORNOP, budaya,sosial, hukum, otonomi daerah, heritage community, pertanian dan masih banyak bidang yang lain termasuk manasik haji. Dan semua itu kami lakoni dengan gratisan semua(tentunya untuk seminar yang gratis sudah otomatis). Kemudian bagaimana dengan seminar yang larang regane bagi kami cah sekolah kere yang sekedar makan sekali sehari bisa membayarnya? Bagi kami ternyata muncul suatu rumus dan strategi jitu untuk soal yang satu itu.


Rumusnya sederhana…….“kami senantiasa menjadi instruder” dalam forum itu. Carane piye? Kami biasa datang ke seminar pada saat coffe break pertama, setelah acara seremonial pembukaan selesai. Langsung gabung ngopi, ambil kue dll, dan saat para peserta kembali memasuki ruang sidang kita dengan sengkut segera ikut bergabung. Dan kemudian…..tinggal cari posisi yang bagus untuk ikut menyimak sabda dan titah para nara sumber. Dan kamipun taat dengan semua titah panitia, termasuk untuk kembul bujono, makan siang berjamaah…….alangkah indahnya dunia kuliah kami.

Dan hari-hari ini, begitu banyak undangan seminar yang tiada daya untuk saya hadiri karena keterbatasan waktu dan tangan kaki sayapun hanya dua. Dimulai seminar PLTN yang diselenggarakan oleh PTRKN(BATAN)-UIN Syarif Hidayatullah tanggal 6, seminar Standardisasi ISO&IEC oleh BSN tanggal 14. Dan yang meneror saya adalah undangan untuk tanggal 20-22, mulai seminar SDM Teknologi Nuklir di STTN-BATAN Yogya, seminar nasional standardisasi di BSN, KIPNAS(Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional) IX di LIPI, seminar penggunaan iradiator di PATIR-BATAN…..yang akhirnya semua undangan tersebut tidak dapat saya ayahi. Dan jejibahan yang selanjutnya saya lakukan adalah menghadiri acara publik hearing di BATAM bersama para ndoro penggede pabrik, punggowo SETNEG dan Dep HUKHAM. Capeeeeek dech………….ampun pemrentah!!!!!!!


Posted by Nananging Jagad at 05:02:12 | Permalink | Comments (3)

Monday, November 12, 2007

KENDURI CINTA

ROMANTISME
PERJALANAN BUDAYA

Sari Ilmu Kenduri Cinta November

 

Kenduri Cinta malam itu terasa sangat istimewa dan beraroma romantisme, karena malam tersebut Cak Nun mengawali acara dengan mengajak semua jamaah untuk mengenang kembali karya besar beberapa anak bangsa yang telah banyak dilupakan oleh generasi muda penerus bangsa. Hal tersebut dimaksudkan agar kita bisa menemukan akar asal usul keberadaan kita, dan lebih bisa memaknai dan menghargai sebuah karya. Pada kesempatan tersebut sengaja diangkat kembali kisah hidup WS Rendra, Umbu Landu Paranggi dan beberapa tokoh sastra yang lain.

Sengaja malam itu dengan iringan wadyabala Kiai Kanjeng fullteam, dibawakan aransemen beberapa lagu lama dan juga dikombinasikan dengan lagu baru dari generasi baru. Sebagai penampilan iftitah, untuk menghangat suasana dan sedikit bernostalgia satu dasa warsa ke belakang, introsingel album Kado untuk Muhammad. Lagu kedua “Sebelum Cahaya” dibawakan oleh Mbak Via yang dibantu oleh sang anak tiri Sabrang.

Kemudian Cak Nun menguraikan kondisi bangsa khususnya carut-marut masalah keseharian yang dihadapi oleh warga ibukota, seperti kemacetan tiada akhir, ancaman bahaya banjir, kehidupan materialisme, dan segala tetek bengek bahan baku stress yang ada di Njakarta. Kemudian jamaah diajak kembali untuk memetakan segala permasalahan tersebut, meletakkan dalam porsi yang tepat sehingga dapat ditemukan alternatif ide solusinya. Lewat sebuah lagu yang diciptakan di tahun 1976 yang dikatakan sebagai lagu masa depan, yang tidak pernah dikenal apalagi diapresiasi, sebuah lagu ciptaan sang penyair besar “Presiden Malioboro”, Umbu Landu Paranggi berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.

Kisah kemudian berlanjut saat Cak Nun mengembara di awal 80an di negeri tetangga Philipina dan berkawan dengan seorang aktivis LSM penentang Markos. Sang aktivis tersebut memaksa Cak Nun untuk ikut blusukan di belantara raya, jlajah deso milangkori berkejaran dengan tentara negara. Adalah seorang wanita bernama Selena, sang marsinahnya Philipina yang membela harkat dan martabat kaumnya, serta menjadi tumbal untuk menghantarkan Qory Aquino merebut pemerintahan. Ya sebuah lagu dengan dialek khas Tagalog, berjudul Selena dibawakan Cak Nun dengan penuh penjiwaan.

Masih berkembara di sudut pedesaan, sebuah lagu berjudul Salam dari Desa yang diciptakan oleh Leo “Imam Sukarno” Kristi. Syair lagu yang kemudian diurai tuntas sebagai simbol penjajahan kota atas desa dimana segala komoditas dan kekayaan desa diboyong ke pusat kota untuk kepentingan para pemilik modal. Hingga semua tiada tersisa lagi, sawah ladang bukan kami punya. Namun satu hal nampaknya masih tersisa dan akan tetap bersemayan dalam lubuk hati penghuni desa, kasih sayang kami punya.

Perjalanan berlanjut ketika banyak orang yang seringkali salah paham dan keliru menyapa Cak Nun. Suatu saat ketika di Kuala Lumpur tiba-tiba datang menghampiri seseorang dengan menunjuk Cak Nun seraya bertanya, “Bimbo ya?……Bimbo kan?”. Juga seringkali di Jakarta orang salah menafsirkan antara Cak Nur dan Cak Nun. Sebuah lagu dibawakan untuk mengapresiasi kebesaran Bimbo, Flamboyan………berjatuhan, berserakan……..Perjalanan nostalgia kemudian ditutup sementara dengan lagu Ruang Rindu yang dibawakan langsung oleh Sabrang.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengangkat tema diplomasi kebudayaan dalam rangka menegakkan nilai dan spiritualitas kemanusiaan dengan nara sumber Mas Ian Leonartbeth, Mrs Vionna(atase kebudayaan Autralia), dan Ibu Linda(mantan atase kebudayaan RI di Berlin).

Diskusi kemudian diselingi dengan penampilan Trio Gorilla(Mbak Bertha, mBah Surip, dan Endang) yang membawakan lagu Mak Erot, Sleepingbed, dan Tak Gendhong. Pembicaraan berlanjut dengan uraian Sabrang mengenai fenomega “surip-isme”, dimana lebih dari 50 kali jamaah disuguhi dengan lagu dan penampilan mBah Surip yang selalu itu-itu saja, namun setiap kali orang tertawa dan bergembira tanpa ada perasaan jenuh atau bosan. Rupanya bukan lagi masalah lagu baru atau lama, bukan lagi masalah dimensi bahasa dan penampilan, tapi lebih tinggi lagi ternyata, satu sama lain sudah mencapai pada hubungan frekuensi tingkat tinggi yang mengkomunikasikan hati. Dan itulah bahasa cinta sejati….bahasa kemanusiaan.

Diskusi berlanjut mengenai masalah keberadaan aliran sesat dan strategi per-inteligen-an oleh Mas Iwan dari BIN, dan Pak Wahyudi dari PETA(Pejuang Tanpa Akhir). Disampaikan bahwasanya Indonesia akan sangat tertinggal pembangunannya dengan negara lain akibat friksi-friksi antar anak bangsa yang banyak memakan sumber daya. Negara lain sudah mapan menari dengan dunia nuklir, sementara negara kita masih terus berpolemik, dan di tingkat penentu kebijakan tidak berani secara tegas mengambil keputusan strategis.

Acara ditutup dengan serangkaian pembacaan puisi oleh Cak Nun dengan setting penampilan panggung dan pembawaan persis pada saat masa muda di Jogja dulu, dengan polesan iringan musik oleh Kia Kanjeng. Tak terasa jam menunjukkan angka 03.30 WIB pada saat acara diakhiri. Jamaahpun berdoa bersama seraya berniat untuk kembali bermaiyyah sebulan ke depan di tempat yang sama.
Posted by Nananging Jagad at 04:17:16 | Permalink | Comments (10)

Monday, November 5, 2007

CNKK’s Event

Assalamu’alaikum wr.wb.


Mengharapkan kehadiran rekan-rekan dalam acara bulanan
KENDURI CINTA NOVEMBER 2007

dengan tajuk
“LONTHONG OPOR”
Olone Kothong, Olone Diporo-poro


bersama:
EMHA AINUN NADJIB
Muhammad Sobari
Romo Beni
Kiai Budi Hardjono
Bertha

didukung oleh:
Kiai Kanjeng Sepuh
mBah Surip
Brantas
dan siapa saja……………..
************

Hari Jum’at, 09 November 2007
jam 20.00 WIB - selesai
Parkir Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat

GRATIS…….LESEHAN………BAROKAH

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Panitia Penyelenggara

Informasi:
Aldi - 0818217616
Rusdi - 0812004328

Posted by Nananging Jagad at 03:39:29 | Permalink | Comments (10)

Thursday, November 1, 2007

NATURALIS MISTIS

RINGIN - Simbol Nan Kaya Makna
Orang Jawa menyebut pohon beringin sebagai ringin. Semenjak jaman awal sejarah di era animismedan dinamisme tradisional, pohon ini merupakan simbol bagi suatu persemayaman roh para leluhur. Berawal dari situlah kemudian keberadaan pohon ini pada suatu tempat tertentu dianggap sebagai papan yang angker, wingit atau papan kiwo, karena jarang orang mendekatinya. Dengan demikian nampaknya kurang begitu mengena ketika pohon ini dipilih sebagai simbol persatuan dalam sila ke tiga Pencasila.

Setelah era pencerahan dengan hadirnya agama dengan sistem monoteisme, ternyata tidak bisa menghapus secara tuntas ritus dan situs ringin sebagai simbol keangkeran tempat bersemayamnya roh halus dan para setan jin parayangan beserta danyang pengauasa alam gaib. Bahkan di pelosok Gunung Kidul Selatan, masyarakat setempat masih mengagungkan dan memuja beberapa ringin yang dijadikan resan oleh warga setempat. Setiap dusun di daerah tersebut memiliki papan keramat tempat bersemayam roh danyang dusun, dapat berupa batu besar yang disebut watu dukun atau pohon besar tertentu yang disebut resan.



Resan merupakan tempat melakukan ritus pemujaan dan persembahan sesaji. Di sanalah orang yang akan mempunyai hajatan meminta restu para danyang, bahkan untuk sekedar urusan turnamen sepak bola antar kecamatan pada saat bersih dusun atau rasulan yang diselenggarakan tiap tahun, harus juga meminta restu untuk kemenangan timnya. Bahkan untuk orang yang sakit juga dicarikan tombo di bawah resan tersebut.


Dalam setiap tata kota sebuah kedaton di Jawa, dua buah ringin selalu ditanam di tengah alun-alun yang kemudian karena dipagari disebut sebagai ringin kurung. Dua ringin di alun-alun kraton Jogja misalnya disebut sebagai Dewandaru dan Kalpataru, merupakan simbol dua dimensi kehidupan manusia. Dimensi vertikal menyangkut hubungan manusia dengan Sang Khalik dan dimensi horisontal menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya, baik makhluk hidup maupun lingkungan alam semesta. Pesan yang ingin disampaikan adalah perlu ada keseimbangan tata kelola hubungan yang harmonis diantara keduanya bagi terciptanya keselarasan hidup.


Namun demikian memang seringkali nuansa mistis yang malah menjadi fokus perhatian masyarakat terhadap pohon ringin. Hal serupa tampak jelas terhadap ringin kurung di alun-alun selatan kraton Jogja sendiri yang diyakini sebagai tempat bersemayam para jin. Nuansa mistis tersebut diaktualisasikan dalam wujud tantangan masangin, dimana seseorang berjalan lurus dari sisi utara ringin dengan mata tertutup untuk melewati sisi tengah diantara dua ringin kurung. Dan ternyata tidak semua orang bisa melewati jalur tersebut dengan benar, konon bila seseorang memiliki hati nurani yang tercemar atau tidak bersih akan diganggu jin sehingga jalannya menjadi berbelok.

Terlepas dari nuansa mistik beraroma syirik tersebut, sebenarnya banyak ahli sejarah berpendapat bahwasanya dikeramatkannya suatu pohon, hutan atau sungai tertentu oleh nenek moyang kita merupakan suatu pesan moral atau sasmita untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup bagi tetap terciptanya keseimbangan alam. Sebagaimana pernah ditulis pada sebuah cerpen Kuntowijoyo mengenai sebuah pohon ringin kramat di lereng Gunung Lawu, yang ketika kemudian ditebang oleh para agamawan, menyebabkan sumber air kehidupan bagi desa tersebut mati sehingga terjadilah kekeringan akibat terganggunnya harmonisasi alam.


Bagaimana pula dengan nasib ringin di kota megapolitan Njakarta Hadiningrat. Ternyata tidak begitu berbeda dengan kepercayaan di daerah. Salah satu contoh ringin di sebelah utara HCB(Harmoni Center Busway) yang mengundang banyak tanya bagi sebagian orang. Konon pada saat pembangunan HCB pohon tersebut akan ditebang, banyak pihak protes dengan berbagai alasan. Ada yang murni karena untuk menjaga kerindangan dan keasrian lingkungan, ada yang merasa terusik tempat pemujaannya. Masih konon lagi, ketika pekerja proyek berusaha menebang ringin tersebut, beberapa diantaranya jatuh sakit bahkan ada yang diceritakan sampai meninggal dunia karena diganggu roh halus penunggu pohon. Sampai-sampai sang pimpinan proyek membuka sayembara berhadiah Rp 50 jt bagi pekerja yang berhasil menebang ringin tersebut.

Prokontra berkembang kian memanas, bahkan beberapa orang kemudian memagari pohon tersebut dengan kain papan catur khas Bali dan menempatkan seperangkat sesaji di bawah sang ringin. Setahun berjalan setelah kejadian ontran-ontran tersebut, sang ringin hidup meranggas gersang nan merana sampai akhirnya 1 Oktober 2007 sekelompok aktivis pemuda dari ormas tertentu membabatnya habis. Oh beringin tua betapa naas akhir kisah hidupmu…………

Posted by Nananging Jagad at 02:40:20 | Permalink | Comments (12)