Tuesday, December 11, 2007

CNKK’s Event

HADIRILAH KEMBALI!!!

Kajian rutin setiap bulan dengan tajuk

“KENDURI CINTA DESEMBER 2007″
Tema:
“Biarkan Telanjang!”

bersama:
Kiai Budi Hardjono

Emha Ainun Nadjib

Cak Kartolo
Ustadz Wijayanto

didukung oleh:
Kiai Kanjeng Sepuh
Brantas
Mbah Surip

laksanaan:
Jum’at, 14 Desember 2007
Pukul 20.00 WIB - selesai
Lapangan Parkir Taman Ismail Marzuki
Jln. Cikini Raya, Jakarta Pusat

GRATIS………LESEHAN……..BAROKAH

simak dan saksikan juga……

Posted by Nananging Jagad at 04:58:44 | Permalink | Comments (7)

Friday, December 7, 2007

SALAH PAHAM SERUMPUN

Kita Para ”Indon”


Koran SINDO, Jum’at, 23/11/2007

SATU pekan lagi(red), 14 Desember, saya akan sediakan panggung-panggung untuk beberapa penyair PENA Malaysia di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Besoknya saya ajak ke acara Komisi Yudisial, ada Rendra,Taufiq Ismail,M Sobary,Kiai Kanjeng, dll di sana.


Besoknya lagi saya coba koordinasikan dengan Taman Budaya Yogya. Besoknya sesudah itu di padangbulanan Yogya ”Mocopat Syafaat”Yogya. Kemudian sudah saya pesan kerja sama dengan Fakultas Sastra Unair dan Bengkel Muda Surabaya. Justru karena Indonesia dan Malaysia sedang tak enak hati. Orang Indonesia uring-uringan soal ”Rasa Sayange”, ”Reog”, ”Batik”, dll.


Malaysia dianggap ‘ngelunjak’, ang kuh, merendahkan, bahkan semua warga kita yang di Malaysia kebal dengan sebutan ”Indon”. Malaysia sendiri juga punya perasaan yang sama. Heran kenapa Indonesia marahmarah. Pejabat-pejabat di sana mengeluh bahwa pers Indonesia terlalu membesarbesarkan masalah.


Seorang anak muda, dalam acara ”Kongres Budaya Serumpun” mengatakan kepada saya: ”Bangsa Indonesia bersikap seperti itu karena pendidikannya lebih rendah dari bangsa Malaysia”. Sebenarnya agak malas, tetapi saya langsung jawab ketika itu: ”Please don’t ever ever ever say such a word again…”.

Apalagi kalau pas di Indonesia, kalimat itu jangan pernah diucapkan. Saya tidak tergerak untuk membantahnya, meskipun budayawan senior Baharudin Zainal kemudian setengah mati mengatakan: ”Saya dibesarkan secara intelektual di Indonesia.Harsya Bachtiar, Umar Kayam, Goenawan Muhamad,Taufiq Abdullah,dll bukan hanya sahabat-sahabat saya, tapi juga inspirator dan guru-guru saya.

Dalam konteks pencapaian intelektual,kebudayaan dan karya seni, Indonesia sama sekali bukan tandingan kita. Secara keseluruhan, bahkan Indonesia adalah gurunya Malaysia….” Saya sendiri tidak akan membela diri seperti itu.Andaikan dikejar kenapa sa- angya bilang ”Do not ever say that again”, saya akan jawab: ke mana pun pergi, saya selalu belajar dan berguru.Apalagi ke Malaysia.

Kalau guru saya merendahkan saya, maka saya batalkan pembelajaran saya, sebab ekspresi superioritas orang lain sudah lebih dari cukup bagi saya untuk merogoh, menyerap, mencuri dan menelanjanginya sampai ia kopong kosong hampa. Ada sangat banyak dan cukup panjang soal Indonesia-Malaysia ini kalau dituliskan.Banyak segi,dimensi, dan nuansa.

Berulang kali saya ke Malaysia, beberapa kali dengan Kiai Kanjeng, tanpa pernah mengalami sikap angkuh atau meremehkan dari mereka. Ada sejumlah fakta dan data bisa dipakai kalau mau pertandingan keunggulan, bangsa Indonesia sesungguhnya tak terlawan oleh siapa pun di muka bumi ini, kecuali (kita juga memiliki) sejumlah kecenderungan seperti ‘selengean’, ‘cengengesan’, ‘iseng’, tidak percaya satu sama lain, terlalu permisif, dan suka menggampangkan sesuatu.

Kita bisa diskusi tentang Indonesia- Malaysia sekian bab. Misalnya kontinuasi perang dingin dan dendam Melaka-Majapahit. Bab lain tentang Hang Tuah dan Hang Jebat.Bab lain tentang Kementerian Pariwisata dan Eny Beatric.Bab lain tentang TKI-TKW sebagai representasi bangsa Indonesia, sehingga generasi terbaru Malaysia membayangkan Indonesia itu hutan rimba, suku terasing, kampung-kampung, dusun-dusun, uneducated dan uncivilized nation.

Bab lain tentang paradoks antara fanatisme Melayu, tetapi orientasi kebaratan yang makin meninggi. Bab lain tentang perlunya bangsa Malaysia dikasih data tentang jumlah orang Jawa di tengah bangsa-bangsa dan sukusuku di wilayah Nusantara. Cukup statistik saja dulu, tak perlu hal Ronggowarsito, Gajahmada, filsafat adiluhung, Tari Bedoyo Ketawang, apalagi sampai Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer atau BJ Habibie. Juga tak perlu hitung dulu berapa jumlah mal di Kelapa Gading saja, tak perlu seluruh Jakarta, dibanding Kuala Lumpur.
Bab lain tentang hal-hal internal di kandungan kehidupan bangsa Malaysia.Tentang posisi persaingan Melayu melawan etnik China dan India.Tentang konstelasi nilai pencapaian akademis mahasiswamahasiswa Indonesia di Malaysia. Tentang bandingan omzet Digi, Maxis, dan Celcom yang mencerminkan prestasi manajemen pada perusahaan-perusahaan ‘etnik’ di belakangnya.

Tentang dangdut dan campur sari,serta sejarah etos ekonomi di Chowkit. Tentang tukang batu, tukang kayu Jawa, bagaimana gerangan prestasi ekonomi mereka. Tentang peran masa depan TKW bagi anak-anak Malaysia. Tentang bangsa yang menghindari ”3D”: dirty, difficult, dangerous….

Tetapi semuanya itu sebenarnya tak perlu diungkap.Kalau SBY punya kalimat yang memenuhi kepiawaian diplomatik sekaligus keindahan budaya dan kearifan rohani, segera semua bisa dieliminasi. Kecuali memilih seperti Bung Karno: ”Ganyang Malaysia!”, meskipun terpaksa kita tambahi ”Tapi selamatkan Siti Nurhaliza”. Atau mungkin bisa duta SBY dan perutusan Pak Lah duduk bersama, kemudian bikin pernyataan bersama.

Bangsa Malaysia adalah bangsa yang sebaiknya dipangku disayang oleh bangsa Indonesia. Soal ribut-ribut hak cipta itu silakan pilih beberapa jalan berpikir, misalnya: ”O, itu orang Jawa Sunda Bugis Ambon sendiri yang berbaju Malaysia yang menggoda Indonesia melalui Rasa Sayange dll supaya bangsa Indonesia bangun dari tidurnya, marah, dan bertindak sungguh-sungguh untuk membangun kembali dan membela martabatnya.

Klaim dan godaan itu dilakukan bersumber dari kandungan rahasia rasa nasionalisme anak turun kita sendiri di Malaysia….” Menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali ibn Abi Thalib, menang duel, musuh tergeletak dengan ujung pedang Ali di lehernya. Si musuh meludahi wajah Ali, sehingga Ali menarik pedangnya, ngeloyor pergi meninggalkan musuh yang sebenarnya dengan satu gerakan kecil bisa ditumpasnya.

Ketika ditanya, Ali menjawab: ”Karena diludahi, aku meninggalkannya. Karena aku takut gerak ujung pedangku digerakkan oleh amarah, bukan bergerak karena Allah”. Kita tak perlu pergi seperti Ali, sebab kita sangat besar: kita pangku saja Malaysia. (*)

EMHA AINUN NADJIB

Posted by Nananging Jagad at 01:59:20 | Permalink | Comments (2)

Monday, November 12, 2007

KENDURI CINTA

ROMANTISME
PERJALANAN BUDAYA

Sari Ilmu Kenduri Cinta November

 

Kenduri Cinta malam itu terasa sangat istimewa dan beraroma romantisme, karena malam tersebut Cak Nun mengawali acara dengan mengajak semua jamaah untuk mengenang kembali karya besar beberapa anak bangsa yang telah banyak dilupakan oleh generasi muda penerus bangsa. Hal tersebut dimaksudkan agar kita bisa menemukan akar asal usul keberadaan kita, dan lebih bisa memaknai dan menghargai sebuah karya. Pada kesempatan tersebut sengaja diangkat kembali kisah hidup WS Rendra, Umbu Landu Paranggi dan beberapa tokoh sastra yang lain.

Sengaja malam itu dengan iringan wadyabala Kiai Kanjeng fullteam, dibawakan aransemen beberapa lagu lama dan juga dikombinasikan dengan lagu baru dari generasi baru. Sebagai penampilan iftitah, untuk menghangat suasana dan sedikit bernostalgia satu dasa warsa ke belakang, introsingel album Kado untuk Muhammad. Lagu kedua “Sebelum Cahaya” dibawakan oleh Mbak Via yang dibantu oleh sang anak tiri Sabrang.

Kemudian Cak Nun menguraikan kondisi bangsa khususnya carut-marut masalah keseharian yang dihadapi oleh warga ibukota, seperti kemacetan tiada akhir, ancaman bahaya banjir, kehidupan materialisme, dan segala tetek bengek bahan baku stress yang ada di Njakarta. Kemudian jamaah diajak kembali untuk memetakan segala permasalahan tersebut, meletakkan dalam porsi yang tepat sehingga dapat ditemukan alternatif ide solusinya. Lewat sebuah lagu yang diciptakan di tahun 1976 yang dikatakan sebagai lagu masa depan, yang tidak pernah dikenal apalagi diapresiasi, sebuah lagu ciptaan sang penyair besar “Presiden Malioboro”, Umbu Landu Paranggi berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.

Kisah kemudian berlanjut saat Cak Nun mengembara di awal 80an di negeri tetangga Philipina dan berkawan dengan seorang aktivis LSM penentang Markos. Sang aktivis tersebut memaksa Cak Nun untuk ikut blusukan di belantara raya, jlajah deso milangkori berkejaran dengan tentara negara. Adalah seorang wanita bernama Selena, sang marsinahnya Philipina yang membela harkat dan martabat kaumnya, serta menjadi tumbal untuk menghantarkan Qory Aquino merebut pemerintahan. Ya sebuah lagu dengan dialek khas Tagalog, berjudul Selena dibawakan Cak Nun dengan penuh penjiwaan.

Masih berkembara di sudut pedesaan, sebuah lagu berjudul Salam dari Desa yang diciptakan oleh Leo “Imam Sukarno” Kristi. Syair lagu yang kemudian diurai tuntas sebagai simbol penjajahan kota atas desa dimana segala komoditas dan kekayaan desa diboyong ke pusat kota untuk kepentingan para pemilik modal. Hingga semua tiada tersisa lagi, sawah ladang bukan kami punya. Namun satu hal nampaknya masih tersisa dan akan tetap bersemayan dalam lubuk hati penghuni desa, kasih sayang kami punya.

Perjalanan berlanjut ketika banyak orang yang seringkali salah paham dan keliru menyapa Cak Nun. Suatu saat ketika di Kuala Lumpur tiba-tiba datang menghampiri seseorang dengan menunjuk Cak Nun seraya bertanya, “Bimbo ya?……Bimbo kan?”. Juga seringkali di Jakarta orang salah menafsirkan antara Cak Nur dan Cak Nun. Sebuah lagu dibawakan untuk mengapresiasi kebesaran Bimbo, Flamboyan………berjatuhan, berserakan……..Perjalanan nostalgia kemudian ditutup sementara dengan lagu Ruang Rindu yang dibawakan langsung oleh Sabrang.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengangkat tema diplomasi kebudayaan dalam rangka menegakkan nilai dan spiritualitas kemanusiaan dengan nara sumber Mas Ian Leonartbeth, Mrs Vionna(atase kebudayaan Autralia), dan Ibu Linda(mantan atase kebudayaan RI di Berlin).

Diskusi kemudian diselingi dengan penampilan Trio Gorilla(Mbak Bertha, mBah Surip, dan Endang) yang membawakan lagu Mak Erot, Sleepingbed, dan Tak Gendhong. Pembicaraan berlanjut dengan uraian Sabrang mengenai fenomega “surip-isme”, dimana lebih dari 50 kali jamaah disuguhi dengan lagu dan penampilan mBah Surip yang selalu itu-itu saja, namun setiap kali orang tertawa dan bergembira tanpa ada perasaan jenuh atau bosan. Rupanya bukan lagi masalah lagu baru atau lama, bukan lagi masalah dimensi bahasa dan penampilan, tapi lebih tinggi lagi ternyata, satu sama lain sudah mencapai pada hubungan frekuensi tingkat tinggi yang mengkomunikasikan hati. Dan itulah bahasa cinta sejati….bahasa kemanusiaan.

Diskusi berlanjut mengenai masalah keberadaan aliran sesat dan strategi per-inteligen-an oleh Mas Iwan dari BIN, dan Pak Wahyudi dari PETA(Pejuang Tanpa Akhir). Disampaikan bahwasanya Indonesia akan sangat tertinggal pembangunannya dengan negara lain akibat friksi-friksi antar anak bangsa yang banyak memakan sumber daya. Negara lain sudah mapan menari dengan dunia nuklir, sementara negara kita masih terus berpolemik, dan di tingkat penentu kebijakan tidak berani secara tegas mengambil keputusan strategis.

Acara ditutup dengan serangkaian pembacaan puisi oleh Cak Nun dengan setting penampilan panggung dan pembawaan persis pada saat masa muda di Jogja dulu, dengan polesan iringan musik oleh Kia Kanjeng. Tak terasa jam menunjukkan angka 03.30 WIB pada saat acara diakhiri. Jamaahpun berdoa bersama seraya berniat untuk kembali bermaiyyah sebulan ke depan di tempat yang sama.
Posted by Nananging Jagad at 04:17:16 | Permalink | Comments (10)

Monday, November 5, 2007

CNKK’s Event

Assalamu’alaikum wr.wb.


Mengharapkan kehadiran rekan-rekan dalam acara bulanan
KENDURI CINTA NOVEMBER 2007

dengan tajuk
“LONTHONG OPOR”
Olone Kothong, Olone Diporo-poro


bersama:
EMHA AINUN NADJIB
Muhammad Sobari
Romo Beni
Kiai Budi Hardjono
Bertha

didukung oleh:
Kiai Kanjeng Sepuh
mBah Surip
Brantas
dan siapa saja……………..
************

Hari Jum’at, 09 November 2007
jam 20.00 WIB - selesai
Parkir Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat

GRATIS…….LESEHAN………BAROKAH

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Panitia Penyelenggara

Informasi:
Aldi - 0818217616
Rusdi - 0812004328

Posted by Nananging Jagad at 03:39:29 | Permalink | Comments (10)

Monday, September 17, 2007

KENDURI CINTA SEPTEMBER

PEMULIAAN CITRA, PEMBUSUKAN CINTA

Malam sehabis tarawih ke tiga itu tetap digelar acara rutin bulanan di halaman Taman Ismail Marzuki Cikini. Tema diskusi yang sengaja diangkat merupakan fenomena rutin tahunan terkait hadirnya Bulan Suci Ramadhan. Sebagaimana kita ketahui bersama, situasi budaya bangsa kita dalam menyambut bulan puasa senantiasa gegap gempita dengan ritual-ritual pemaknaan lahiriyah semata. Mulai dari tayangan-tayangan “islamis” di media elektronik, sinetron islamis, kusi religius, sms taqwa, qur’an seluler, gosip islamis, dlsb. Belum lagi berbagai tawaran iklan berbagai macam produk barang dengan berbagai variasi diskon dan bingkisan lebarannya………Fenomena apakah ini?

 

Sekali lagi, barangkali tepat bidikan teman saya, Marhaban ya Ramdhan……selamat datang bulan sok alim. Lingkungan kita, mulai dari rumah tangga, media massa, tatanan dan tataran kehidupan sosial kita sepertinya senantiasa menempatkan sisi formalitas sensualitas “agama” sekedar dalam tataran dan wacana kulit sosial. Dalam beragama kita seringkali lebih mementingkan raut muka, wadag lahiriah, citra dan gengsi kemanusiaan kita. Kita tidak pernah terdidik dan tergembleng untuk sedikit demi sedikit belajar seiring waktu untuk lebih mempelajari secara lebih mendalam mengenai hakikat setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada manusia.

Hampir di setiap Ramdhan kita senantiasa disuguhi dengan banyaknya tayangan yang dikemas secara “islamis” untuk jadi komsumsi kaum muslim yang tengah beribadah puasa. Sinetron ilahi, dengan pemeran para artis lengkap dengan busana muslim, jilbab, kerudung, hingga lengkap dengan sarung dan kupluk identitas seorang muslim yang akan segara ditanggalkan oleh sang artis ketika bulan Ramdhan pergi meninggalkan kita, untuk kemudian diganti lagi dengan model pakaian trendi dan seksi yang mempertontonkan urat dan aurat. Islam dengan segala simbolisasinya hanya dibutuhkan media selama bulan puasa untuk “sebenarnya” merauk keuntungan sebesar-besarnya para pemegang modal permediaan dengan memanfaatkan momentum dan trend yang sedang hangat di masyarakat. Tentunya memang tidak semua acara dikemas demikian, namun tampaknya sulit dipungkiri bahwa kita sedemikian sulit untuk menyebutkan jenis dan acara yang memang sengaja dikemas untuk tujuan kemashuran agama yang secara tulus ikhlas dipersembahkan hanya khusus untuk keridzoaan-Nya semata.

Seoalah memang di jaman gombalisasi ini, segala sesuatu diukur dengan parameter materi. Barangkali sebagai seorang muslim kita sangat mendambakan tayangan yang semurninya dibuat untuk menggapai nilai religiositas denga tingkat estetika yang tinggi tanpa diembeli pamrih duniawi. Kita tentunya tidak ingin agama hanya sekedar dimaknai secara dangkal dan sempit hanya pada tataran fisik dan ritual semata. Jangan sampai ritualitas agama disembah sedmikian rupa sehingga kita malah lupa terhadap tujuan penyembahan yang sejatinya hanya untuk Tuhan. Agama dan segala ritualitasnya hanyalah sarana dan metode untuk menuju kepangkuan ilahi, bukan tujuan akhir pengabdian dan penyembahan manusia.

Oleh karena itu penting untuk dilakukan ritualitas agama yang dilakukan dengan dasar rasa iman serta menggunakan metodologi pengamalan sesuai yang diajarkan Kanjeng Nabi. Iman pada intinya menuntut adanya kesatuan pengertian, komitmen dan tekad antara keyakinan di dasar lubuk kalbu, terucap pada lidah dan pelavalan lisan kita, dan tentunya yang paling inti dilaksanakan oleh segenap anggota tubuh kita. Dan itulah kesejatian cinta seorang makhluk kepda khaliknya.

Cinta adalah sesuatu yang bersifat fitrah, esensial dan sangat hakiki. Segala perbuatan yang dilandasi atas nama cinta tentunya akan terpancar melalui sebuah citra dalam naungan nur ilahi rabbi dan menebarkan sebaik-baiknya manfaat bagi alam raya semesta. Jadi citra merupakan kulit, wadah serta fenomena penampakan lahiriah semata. Seyogyanya memang antara esensi rasa dalam kedalaman jiwa dan kalbu harus dilakukan sepenuh hati dan memancarkan sebuah citra orisinil dan tanpa adanya kepalsuan. Ke depan mudah-mudahan kemasan acara yang ada di media kita benar-benar menjadi hidangan yang asli tanpa embel-embel kepalsuan, sehingga benar-benar menjadi sarana pendidikan untuk menjadi menusia yang lebih berperadaban sebagai “menungso” titahing jawoto ing marcopodo………..

Menungso merupakan figur jujur yang berani tampil apa adanya sesuai dengan fitrah ilahi yang digariskan Tuhannya. Menungso harus mampu bersikap andhap asor, tawadzu, rendah hati di antara sesamanya. Oleh karena itu bagi manusia sejati bersikap ksatria lebih dipandang sebagai suatu kemuliaan. Kemunafikan dan topeng palsu yang dicitrakan oleh banyak orang dengan lisptik kepalsuan duniawi berbalut bedak topeng kedustaan tidak layak untuk disandangnya. Agama menjadi menyatu dalam setiap gerak dan aliran nadi nafas dan darah, meanunggal ke dalam sanubari jiwa terdalam yang harus menyatu padu terejawantah dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Dan pancaran citra yang alamiah ilahiyah inilah yang merupakan citra sejati tanpa kepalsuan. Semoga adanya bulan puasa ini bisa menjadi suatu kawah candradimuka untuk menggembleng kita menuju kejernihan akal dan pikiran untuk berani berlaku jujur terhadap diri sendiri dan orang lain tanpa pembalutan topeng kemunafikan.

Oleh karena itu meskipun orang awam, kita harus lebih jeli mana yang disebut “kiai temen” mana yang “kiaitaiment”, beda antara daitemen dengan daitaiment. Kiaitainment ataupun daitaiment,juga ……taiment yang lain merupakan turunan dari infotainment, artinya just the show, hanya suatu tontonan yang tidak bisa dijadikan tuntunan dan peniatan awal hanya pada tataran keuntungan material saja, uang, popularitas, gensi dlsb……..waspadalah saudara!!!!.

 

.

 

 

Posted by Nananging Jagad at 02:42:27 | Permalink | Comments (2)

Friday, July 13, 2007

KENDURI CINTA

BAJU ITU TANGGAL DI HADAPAN TUHANMU

ITULAH malam paling menyakitkan yang pernah kualami.Tapi akhirnya aku tahu bahwa ada perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Penyakit itu destruksi terhadap hakekat hidup. Tapi sakit justru sanggup membawamu memasuki sebuah situasi sakral yang misterius. Ada semacam tetesan kebahagiaan yang diiming-imingkan oleh rasa sakit, oleh luka dan kepedihan. Aku yakin engkaupun tahu bahwa ternyata rasa sakit dan kepedihan sesungguhnya adalah kebahagiaan yang tidak menjumpai tempat persemayamannya di dalam jiwamu.
Sudrun menghardikku sepanjang malam, sebelum akhirnya ia mendadak lenyap entah ke mana tatkala fajar berakhir. la kemudian digantikan kehadirannya oleh cahaya matahari, yang pagi itu lain sama sekali dengan cahaya yang pernah kukenali sebelumnya, ketika kutatap dengan mataku dan kuhayati dengan batinku.
Aku merasa bukan aku. Aku merasa lahir kembali sebagai aku yang sama sekali bukan yang kemarin.
Aku pernah menjadi seorang Bupati dan aku menyangka bahwa aku adalah Bupati, sehingga ketika aku tak lagi menjabat sebagai Bupati aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku pernah menjadi seorang Menteri, di saat lain aku menjadi seorang Jendral dengan jabatan dan kewenangan besar. Aku juga pernah menjadi seorang bos besar dari sebuah perusahaan, kemudian menjadi pemimpin panutan beribu-ribu orang yang setiap kali ketemu setia mencium punggung tanganku.
Ketika kemudian aku berangkat tua, aku mulai tak bisa mengelak untuk mengerti bahwa sesungguhnya aku bukan bos besar, bukan penguasa dan bukan pemimpin. Dan akhirnya tatkala orang-orang mengakat kerandaku dan memasukkanku ke lubang kuburan yang begitu amat sempit dibandingkan yang pernah kubayangkan tentang kebesaran hidupku: aku sungguh-sungguh memahami bahwa yang dikuburkan ini bukanlah menteri, bukan bos besar, bukan pemimpin masyrarakat. Yang meringkuk di kuburan dan tak bisa mengelak dari tangan Mungkar dan Nakir ini adalah diri yang sama sekali lain, yang selama hidupku justru jarang kusapa dan kuperhatikan.
Pada saat itulah tumbuh kecerahan pikiran dan sekaligus penyesalan. Betapa si bupati, si menteri, si bos besar dan si pemimpin ummat, seharusnya sudah sejak awal kukuburkan sendiri; dan semestinya aku melawan habis-habisan apabila beribu-ribu orang itu mencoba menggali, menghidupkan, mengangkat di atas kepala mereka sambil menyanjung-nyanjung sesuatu yang telah kukuburkan itu.
Aku bukan bupati, karena yang disebut bupati itu hanyalah bajuku. Aku bukan menteri, sebab yang bernama menteri itu hanyalah nama dari tugasku. Aku bukan bos, bukan pemimpin, bukan kiai, bukan ulama, bukan budayawan dan bukan apa saja – karena semua itu sekedar inisial untuk menandai pekerjaan hidup sosialku. (“Kiai Sudrun Gugat”, Emha Ainun Nadjib, Grafiti Press, 1995)
 
Posted by Nananging Jagad at 02:31:26 | Permalink | Comments (4)

Wednesday, July 4, 2007

Indonesia Tak Butuh Iblis

Dalam kehidupan politik dan kebudayaan di Indonesia sering disebut-nyebut kata iblis, sebagaimana sering juga disebut-sebut kata setan, malaikat, tuhan atau Tuhan, fir’aun, dajjal, atau hantu, monster, gendruwo, dlsb. Orang menyebut iblis atau setan biasanya tidak untuk menuding iblis atau setan itu sendiri, melainkan untuk memberi gelar kepada sesama manusia.
Misalnya ada lima kategori manusia. Kategorisasi ini memakai idiom fiqih Agama, tapi tidak dimaksudkan debagai prinsip hukum, melainkan budaya. Ada ‘manusia wajib’, artinya orang yang orang lain tak mau kehilangan dia, karena dia baik dan dicintai. Ada ‘manusia sunat’, di mana orang merasa eman kalau nggak ada dia, meskipun tidak menggebu-gebu mempertahankannya. Ada ‘manusia mubah’ atau ‘manusia halal’, yakni yang wujuduhu ka’adamihi, ada dia kita nggak untung, nggak ada dia kita nggak rugi. Ada ‘manusia makruh’, di mana orang merasa lebih baik nggak ada dia daripada direpoti olehnya.
Terakhir yang paling gawat: ‘manusia haram’. Orang bersikeras agar dia tak ada, agar dia dijatuhkan dari kursinya, agar ia diadili dan dihukum, bahkan didoakan agar segera mati. Bahkan kalau ada orang mati, lainnya menyesal: “Kok bukan si Anu itu yang dipanggil Tuhan…”
Namun harus dicatat, ‘manusia wajib’ di mata manusia, belum tentu sama di mata Allah. ‘Manusia haram’ di pandangan manusia, belum pasti Tuhan berpandangan demikian.(EAN/99 - PmBNet)
Posted by Nananging Jagad at 05:42:24 | Permalink | Comments (9)

Tuesday, June 19, 2007

KEPEMIMPINAN SEJATI

REFLEKSI 20 TAHUN UNIVERSITAS PARAMADINA

 

Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang telah mampu meniadakan dirinya dari dalam diri sendiri, sebagaimana Nabi Muhammad yang telah meniadakan diri sendiri dalam setiap tarikan nafasnya. Dalam diri Muhammad tidak ada lagi Muhammad. Di dalam diri Muhammad yang ada hanyalah dua pihak, Allah dan umat.

Ini berarti bahwa seorang Muhammad tiada lagi pernah sempat untuk memikirkan diri sendiri. Bagi dirinya hidup mulia dan disanjung oleh segenap semesta alam adalah tidak penting dibandingkan dengan urusan Tuhan dan umatnya. Muhammad meniadakan diri, moksa dan meleburkan dirinya dalam cintanya kepada Tuhan dan umatnya.

Di depan Allah, Muhammad tidak pernah meminta dan memikirkan sesuatu kecuali pengampunan serta petunjuk untuk keselamatan setiap umatnya. Dia tiada pernah egois meminta sesuatu untuk dirinya sendiri. Yang selalu menjadikan kegelisahan bagi diri Muhammad adalah bagaimana menjadikan umatnya menjadi manusia-manusia terpilih, sosok-sosok insan kamil yang sanggup menjadi wakil Tuhan, menjadi khalifatullah fil ardzi, menjadi semulia-mulianya makhluk untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Di sisi lain ketika Muhammad berhadapan dengan umatnya, adalah risalah dan wahyu ilahi yang diamanatkan kepadanya yang disampaikan. Dia tidak pernah meminta dihormati sebagaimana raja, dia tidak pernah meminta dilayani sebagaimana seorang kaisar, dia tetaplah seorang nabi pembawa petunjuk. Dia memilih untuk menjadi abdan nabiya(nabi yang pengabdi), bukan mulkan nabiya(nabi yang seorang raja). Dia tiada pernah mengambil keuntungan harta dan benda atas status kenabiannya. Sekali lagi dia, Muhammad, meniadakan dirinya sendiri dari dalam dirinya sendiri.

Demikianlah semestinya seorang pemimpin yang amanah. Dia tiada pernah memikirkan suatu cara untuk memperkaya diri sendiri dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan para kroninya. Di hadapan Tuhan, dia harus berfikir bahwasanya kekuasaan yang diembannya adalah amanat Allah, dia akan tunduk kepada Allah dan menjalankan amanat sesuai aturan yang telah digariskanNya, yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memakmurkan rakyatnya. Di hadapan rakyat, dia akan bersikap arif dan bijaksana, mengerti kesusahan dan penderitaan rakyat, tidak akan bersikap adigang adigung dan adiguna menggunakan kekuasaannya. Dia akan takut melukai dan bahkan menyengsarakan rakyat karena bila ia berbuat demikian, hal itu akan membuat Tuhan marah dan menimpakan azabNya.

Itulah sebenarnya hakikat dari konsep manunggaling kawula lan Gusti. Demikianlah sebagian uraian hikmah yang disampaikan oleh Budayawan Muhammad Ainun Nadjib dalam acara Reflesi 20 Tahun Universitas Paramadina Jakarta yang mengambil tema “Revolusi Akal Sehat, Merawat Kewarasan Ruang Publik”

Di sisi lain, tujuan pendirian Paramadina oleh Cak Nur merupakan pembentukan suatu , lembaga pemikiran sebagai wahana dan instrumen dalam rangka mewujudkan ide, gagasan dan konsep masyarakat madani. Masyarakat madani merupakan konsep masyarakat yang diterapkan oleh Baginda Nabi dalam mengatur tata pemerintahan Madinah dengan segala pluralitas masyarakatnya. Diharapkan oleh Cak Nur, hadirnya Paramadina bisa senantiasi menjadi oase bagi setiap komponen masyarakat dan bangsa Indonesia yang serba plural dan majemuk untuk secara damai berdampingan bersama, bersatu padu dalam mewujudkan negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghofur….Amien.

Posted by Nananging Jagad at 01:47:46 | Permalink | Comments (10)

Friday, March 23, 2007

NYASAR di AL IZHAR

REFLEKSI 20 TAHUN

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

AL IZHAR

PONDOK LABU, 11 MARET 2007

Sebuah tempat yang penuh dengan bunga-bungaan atau bisa dibilang taman bunga, begitulah kurang lebih makna kata al izhar, dan siang itu kami, saya dan seorang rekan nyasar di Al Izhar, sebuah lembaga pendidikan Islam di kawasan Pondok Labu. Berawal dari sms seorang teman di Komunitas Kenduri Cinta yang meminta perkenan saya untuk hadir dalam acara CNKK tepat pukul 13.00 WIB di Al Izhar Pondok Labu.

Tanpa berpikir rumit dan bertele-tele, kami nekad berangkat meski dengan referensi informasi lokasi yang masih kabur dan meragukan. Tapi akhirnya tanpa menemui kendala berarti sampai juga kami di lokasi. Selidik punya selidik, ternyata acara yang akan berlangsung tersebut merupakan kegiatan tasyakuran dua puluh tahun keberadaan lembaga Al Izhar.

Al Izhar merupakan lembaga pendidikan di bawah Yayasan Anakku yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Melihat sekilas namanya, seolah mirip dengan Al Azhar. Memang pada awal berdirinya lembaga ini merupakan bagian dari Al Azhar dan bernama Al Azhar Pondok Labu. Dua tahun berjalan kemudian terjadi pemisahan manajemen dan menjadilah Al Izhar.

Puncak acara tasyakuran tersebut diisi dengan penampilan gamelan musik Kiai Kanjeng yang dimotori Cak Nun dan Mbak Via. Di sela-sela hingar musik yang dimainkan, terjadi diskusi yang melibatkan siswa-siswi, para guru dan wali murid. Tema diskusi berkisar tentang dunia pendidikan dalam konteks Islam.

Diskusi diawali dengan pancingan pertanyaan Cak Nun mengenai berapa prosentase pendidikan agama dan umum di Al Izhar. Hampir semua hadirin terjebak ke dalam pola pikir, bahwasanya ilmu dikelompokkan menjadi dua kelas besar yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Apakah paradigma tersebut sudah tepat dan benar?

Cak Nun kemudian mengupas dengan melemparkan pertanyaan ke dua, apakah bila kita belajar ilmu biologi, belajar tentang pohon, dahan, ranting dan daun, kita bisa meninggalkan keberadaan Tuhan, ataukah kita sadar bahwa itu semua ciptaan-Nya? Ternyata secara nalar, belajar ilmu apapun kita tiada akan pernah bisa lepas dari konteks Tuhan karena memang hakikat ilmu itu sendiri merupakan metode untuk mengungkap keberadaan dan keagungan Tuhan, dan semata-mata ilmu itu milik-Nya jua. Dan ini berarti sebenarnya semua ilmu itu merupakan ilmu agama yang islamis.

Agama itu bukan sekedar sebuah departemen, sehingga di pertanian harus ada sentuhan agamanya, di pasar harus ada agama, di pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya harus ada sentuhan agama, dlsb. Agama tidak bisa dilembagakan ataupun dikotak atau dibingkaikan dalam satu disiplin pandangan yang sempit. Agama bagaikan rasa manis yang harus hadir dalam soto, dalam sate, dalam sirup, dalam lodeh, dalam wajik, dlsb tentunya dalam konteks komposisi dan proporsi yang pas.

Dalam konteks ilmu pengetahuan, setiap ilmu yang membawa kepada kepatuhan dan mendorong sikap taqarub kepada Tuhan, berarti itu merupakan bagian dari agama. Agama melintasi dimensi simbolisme. Syahadat, sholat, puasa, zakat, haji dan segala dimensi ibadah mahdzoh hanyalah kompor bukannya hidangan masakan. Ibadah hanyalah hanyalah urusan dapur, metodologi dan cara untuk bertadabur dalam rangka bertaqarub kepada-Nya. Demikian pula musik dan notasi nada hanyalah alat, sehingga semestinya tidak ada musik Islam, Kristen, Jawa, Sunda, Batak, Dayak dlsb. Musik ya hanya sekedar musik, suatu alat yang bebas nilai dan manusialah yang akan memaknainya dengan polesan nilai moralitas dan spiritualitas sehingga musiknya bisa menjadi bernilai religius.

Di atas tingkatan orang sekedar beribadah adalah segolongan orang berilmu dan lebih tinggi lagi adalah orang yang beramaliah dengan ilmunya. Makna dari kata amal adalah bekerja keras, sehingga konteks “kotak amal” menjadi salah kaprah dalam terminologi bahasa. Dalam pengertian tersebut kita seringkali terlupa dan lalai sehingga seringkali tindakan serta sikap kita merendahkan martabat para pekerja keras. Ini berarti kita harus menghormati martabat para tukang becak, para buruh bangunan, buruh angkut, buruh pabrik, pedagang kaki lima dlsb. Para pekerja keras, orang pinggiran kata Franky, belum tentu kedudukannya di mata Tuhan lebih rendah dan hina dibandingkan para hartawan dan pejabat. Di mata Tuhan ketaqwaan dan ketinggian akhlaklah yang menjadi standar derajat dan kemuliaan seseorang.

Oleh karena itu generasi Islam harus dididik dan dibekali ilmu pengetahuan dan mampu menerapkan konsep amal ilmiah dan ilmu amaliah, artinya setiap amal harus dilandasi dengan ilmu dan setiap ilmu harus diamalkan. Demikian diharapkan peran lembaga Al Izhar, sebagai taman bunga yang siap sedia membentuk buah, akan mampu menghasilkan generasi unggul berbalut akhlakul karimah untuk disumbangkan bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara serta tegaknya panji Islam. Amiiiiiin.

Posted by Nananging Jagad at 02:57:37 | Permalink | Comments (21)

Thursday, March 15, 2007

SARI ILMU (2)

BUMI MEMINTA LANGIT MENAGIH

Sari Ilmu Kenduri Cinta Maret 2007


Bumi meminta langit menagih, begitulah tema sentral diskusi bulanan di Taman Ismail Marzuki kali ini. Malam itu tampak sedikit istimewa karena saat acara baru dimulai beberapa saat, langitpun langsung memberikan curahan air hujannya, bahkan bisa dibilang sepanjang acara hingga pukul 03.00 dini hari, langit tiada pernah berhenti mencurahkan tangisnya.

Suasana diskusi yang sumringah berselang seling dengan alunan musik Kiai Kanjeng menambah seru pembicaraan para jama’ah. Bahkan menjelang tengah malam kami diajak memasuki RUANG RINDU dengan kehadiran segerombolan anak-anak band Letto yang dipimpin Sabrang Mowo Damar Panuluh(Noe) yang kebetulan merupakan yuwaraja bagi Cak Nun, pengasuh KC. Canda ala bapak dan anakpun berlangsung sedemikian hangatnya hingga menimbulkan gelak tawa dan sesekali diselingi ledekan “kethek”. Sentral diskusi berupaya mendudukkan secara obyektif dan seproporsional mungkin, kedudukan alam raya dalam tata kosmos pewujudan keseimbangan peradaban manusia.

Manusia dalam menjalani kehidupan tidak akan terlepas atas keterkaitan dan ketergantungan terhadap lingkungan hidup. Keserasian dan keharmonisan hidup hanya akan tercapai apabila terdapat keseimbangan fungsi dan daya dukung lingkungan terhadap manusia. Tindakan manusia yang terlalu mementingkan kepentingan diri pribadi tanpa menimbang kepentingan generasi mendatang dan kelestarian lingkungan hidup, akan menimbulkan bencana dimana-mana.

Dalam teori penciptaan makhluk oleh Sang Khalik, alam sebenarnya mempunyai sifat netralitas atau bebas nilai. Sebagaimana malaikat yang bebas dari nafsu dan keinginan pribadi, alam juga digariskan untuk tunduk dan patuh terhadap sunatullah-Nya. Alam tidak mempunyai nafsu, sehingga jelas alam tidak bisa marah ataupun susah apalagi bosan. Sehingga kurang pas jika kita kemudian menuduh bahwa alam mulai enggan bersahabat dengan kita.

Dengan demikian setiap bencana alam yang datang menimpa manusia seratus persen akibat kelalaian manusia dalam memperkosa dan mengeksploitasi alam secara semena-mena. Sebagai contoh, kasus air. Air diperintahkan oleh Tuhan melalui sunatullah atau hukum alam, bahwasanya air secara gravitasi akan mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Ketika saluran dan sarana resapan air diambil, bahkan dihilangkan demi kepentingan manusia tertentu, air akan tetap patuh pada kodrat sejati tugasnya. Air akan berusaha mencari celah untuk mengalir dalam rangka menjalankan sunnah-Nya. Akhirnya semua kemungkinan ditempuh oleh air dengan menerjang tanggul, menggenangi pemukiman manusia dan menenggelamkan tanah desa dan kota. Maka terjadilah banjir bandang. Jelas disini terlihat bahwa seratus persen air tidak bersalah apalagi marah.

Hal utama yang menjadi good point adalah bahwa alam senantiasa patuh dan tunduk kepada-Nya, jadi hakikat bumi tidak akan dan pernah meminta kurban akibat ulah manusia, langit tidak akan menagih tumbal dari anak cucu Adam. Manusia sendirilah yang berulah, sehingga jatuhlah kurban jiwa dan harta benda. Manusialah yang mengakibatkan timbulnya kurban dan tumbal sebagai akibatkeserakahannya merusak alam. Jadi monggolah sadar para menungso………!!!!!!!


Posted by Nananging Jagad at 00:40:58 | Permalink | Comments (27)