Friday, December 15, 2006

ANJANGSANA

MBAH RAMIDJAN van GEJUGAN

Minggu kemarin saya diajak seorang priyagung tetangga kampung untuk mengunjugi Mbah Ramidjan van Gejugan di gang Lontar kawasan Lenteng Agung. Simbah ini sebenarnya bukan saudara atau kerabat saya. Sang Simbah pada dahulu kalanya berasal dari dusun Gejugan tetangga dusun saya. Barangkali kesamaan asal-usul inilah yang membuat “garis kekerabatan khusus” diantara kami. Mbah Ramidjan memang lain dengan Mbah Maridjan, sosoknya tambun dan nampak semakin uzur meski baru memasuki usia enam puluhan.

Simbah dulu pertama kali datang ke Njakarta di tahun 70-an sebagai seorang staf administrasi di Depdikbud. Di tahun 2000 kemarin, Simbah memasuki masa paripurna pengabdiannya sebagai punggawa negara. Ketiga putranyapun sudah memasuki dunia kerja dan masing-masing telah berkeluarga, sehingga tinggallah Sang Simbah sekalian Mbah Putri tinggal di ndalem sederhananya. Memang Simbah sebagaimana di setiap kesempatan kondurnya, senantiasa menjadi simbol seseorang yang telah berhasil menundukkan Njakarta mengangkat derajat hidupnya, meskipun jiwanya tetap prasojo.

Pertemuan kami dimulai dengan berbasa-basi memperkenalkan diri lagi karena Simbah sudah sedemikian lupa dengan kami, karena setiap kali Simbah pulang mudik tidak menjumpai kami, dan beliau hanya mengenal kami dari cerita orang tua-orang tua kami. Memang Simbah sendiri tidak mesti dua-tiga tahun sekali pulang ke dusunnya. Namun demikian setiap pulang, pasti beliau menyempatkan diri untuk beranjangsana ke beberapa kenalan di dusun saya dan pasti menemui Bapak.

Obrolan kemudian berlanjut dengan pertanyaan Simbah yang nanjehke kabar kakak-kakanya yang masih tinggal di dusun. Sang priyagung teman saya yang sering manjawab soal itu, karena dialah yang masih menetap di rumah dan lebih mengetahui kondisi aktual yang ada. Nampak sekali roman muka Simbah yang nampak terharu mendengar cerita tentang kampung halaman yang sekian lama ditinggalkannya. Barangkali memang begitulah keadaan seseorang di perantauan, ketika dimensi jarak dan waktu telah menghempaskannya ke sisi dunia yang lain atas nama mencari pengupa jiwa.

Ketika sedikit saya singgung, kenapa Simbah tidak pulang saja kembali ke dusun untuk nentremke jiwa di masa senja usianya. Simbah menjawab bahwasanya semua hak milik dan harta benda yang diwariskan oleh kedua orang tuanya sudah bukan lagi menjadi miliknya karena sudah diliru oleh saudara-saudaranya. Oleh karena itu, seandainya beliau harus pulang, lantas mau tinggal dimana dan mau ngapain. Atau mungkin juga Simbah sudah demikian menyatunya dengan bumi Njakarta, dan mungkin baginya dimanapun bumi dipijak di situlah langit akan dijunjungnya.

Terkadang saya juga jadi ikut mikir, nasib saya sebenarnya tak beda jauh dengan Simbah. Sayapun atas nama nasib dan luru pangupa jiwa, ikut-ikutan mengadu nasib dan nyasar di bumi Betawi ini. Namun sampai saat ini, saya masih belum dapat memahami hakekat ketersesatan saya ini. Ataukah kota ini memang ditakdirkan untuk menjadi paraning hidup saya? Tapi yang jelas sampai saat ini saya tidak sepenuhnya bisa menjiwai menjadi orang Njakarte, dan sebagaimana ungkapan Ndoro Sinyo van mBangsari, tetap bercita-cita suatu saat nanti saya harus kembali ke dusun terpencil saya di lereng barat Merapi. Roda nasib memang harus terus berputar, dan saya termasuk yang belum bisa memahami dimana awal dimana akhir, dimana sama dimana beda, dimana sangkan dan dimana paraning dumadi.

 

Posted by Nananging Jagad at 08:23:35 | Permalink | Comments (6)

Monday, June 26, 2006

DOLAN - DOLAN

Dolan SUROBOYO

        Menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya by kereta malam itu terasa sunyi dikarenakan tidak semua kursi terisi penumpang. Perjalanan tersebut aku tempuh karena suatu tugas pekerjaan bersama seorang rekan kerja yang lain. Seperti biasa nasibku mesti apes kalau melakukan perjalanan jauh, dalam hal teman duduk. Terlebih malam itu, karena sengaja rekanku mojok di sudut gerbong sehingga diriku jangankan perawan ayu, nenek tuwek elekpun gak ada yang bisa diajak ngobrol.
Untuk menghilangkan kejenuhan akhirnya aku baca beberapa buku dongeng yang sengaja aku bawa untuk bocah angon di kampungku, sampai kemudian aku terlelap tidur.

         Tugas yang aku bawa dari kantor tak sampai setengah hari aku selesaikan dengan lancar. Kucoba hubungi adik sepupuku yang dines di Marinir agar dapat menemuiku. Namun dia tidak bisa menjanjikan dapat keluar tangsi sampai sore, dia hanya meberiku harapan agar aku pulang ke Muntilan malam saja siapa tahu sore dia bisa izin keluar.

 
     Untuk sekedar mengisi waktu akhirnya kami, aku dan rekanku, mencoba sedikit plesiran di pusat kota Pahlawan. Pertama kami bertandang ke WTC sekedar ingin tahu aktivitas di tempat tersebut. Ternyata WTC Surabaya semacam duplikatnya Roxy di Jakarta, merupakan pusat penjualan ponsel dan segala thethek bengeknya. Puas melihat WTC, kami kemudian bergeser ke utara mengunjungi Surabaya Plaza. Di tempat ini fokus kami hanya pada toko buku Gunung Agung untuk menjelajahi koleksi buku yang ada di situ. Capek muter-muter di situ, kami meneruskan anjangsana ke Monumen Kapal Selam di tepian Kali Mas.

Kapal selam KRI Pasopati 410 salah satu kapal selam TNI AL dari satuan Kapal Selam Armada RI kawasan Timur. KRI Pasopati termasuk jenis SS type whisky class di buat di Vladi Rusia tahun 1952. Masuk jajaran TNI AL (Satselarmatim) tanggal 29 Januari 1962 dengan tugas pokok menghancurkan garis lintas musuh (anti shipping), mengadakan pengintaian dan melakukan “silent raids”. KRI Pasopati juga berperan aktif menegakkan kedaulatan negara dan hukum di laut yurisdiksi nasional, misalnya dalam operasi Trikora. KRI Pasopati terlibat langsung di garis depan, memberi tekanan-tekanan psikologis terhadap lawan, sehingga Irian Barat/Jaya [sekarang Propinsi Papua], dapat kembali ke dalam wilayah RI.

        Pengunjung di monumen ini dapat melihat dan masuk ke dalam kapal dan mengamati dari dekat ruang kendali, ruang perwira, ruang tamtama, ruang peluncuran torpedo dll. Di samping melihat dan masuk ke dalam kapal selam, pengunjung juga disuguhi pemutaran diorama TNI AL di sebuah home theatre yang cukup nyaman.

        Puas pengembaraan di Monumen Kapal Selam, kami melanjutkan klinong-klinong kami ke Tunjungan Plaza. Di sini kami berkunjung ke Matahari(tapi tak panas lho….) dan Sogo(bukan sego tapi…) di sampingnya. Bertandang ke Sogo bersamaan waktunya sholat Ashar sehingga kami mencoba mencari sekedar mushola tempat sholat. Ternyata dari informasi yang kami dapat mushola terletak di lantai 7. Sebuah mushola kecil mojok di sudut perpakiran kendaraan dan berada di bawah selang-selang gedung, mengingatkanku pada tulisan Cak Nun tentang Tuhan di bawah selang-selang.

    Nampaknya memang dalam tatanan sistem arsitektur bangunan modern, mushola dianggap sebagai klilip sehingga keberadaanya harus tidak terlalu mecolok agar tidak mengganggu pemandangan. Tuhan ditempatkan di sudut-sudut pengap gedung dan di bawah selang-selang ruang parkir. Di era modern barangkali manusia sudah kurang atau bahkan merasa tidak membutuhkan Tuhan sehingga Tuhan ditaruh di belakang tumitnya. Tuhan bukanlah sesuatu yang penting dan menentukan. Semoga ini hanya pesismisme saya saja.

    Di mushola tersebut kami bertahan sambil beristirahat mengendorkan otot kaki yang lemas sampai waktu Maghrib untuk kemudian kami cabut menuju terminal Bungurasih. Aku menuju Mount Island di barat Merapi, sedangkan rekanku ke kota Mapatih Nambi, Lamongan. Begitu kisah sehari di Suroboyo…….

Posted by Nananging Jagad at 03:19:05 | Permalink | Comments (14)

Tuesday, June 13, 2006

JANOKO

Janoko bali nDeso

 

         Sore pukul 17.00 aku ayunkan langkah menuju stasiun Senen untuk memulai perjalanan panjang yang sudah tertunda sekitar dua tahunan untuk napak tilas menemui salah satu sangkanku yang ada di sudut tenggara Jawa Tengah. Gandrungmangu itulah tujuanku, sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Cilacap. Menjelang jam 18.00 loket tiket dibuka dan segera aku pesan dua buah tiket satu untuk diriku dan satu lagi untuk nDoro Sinyo sahabatku yang mudik ke mBangsari, sebuah desa di mBantarsari tetangga kecamatan.

          Pukul 19.45 kereta Citrajaya yang kutunggu memasuki jalur 1 dan segera diserbu penumpang yang sedari tadi tak sabaran. Bergegas aku masuk ke gerbong 3 dan kucari tempat duduk sesuai yang tercantum di tiket yang kubeli. Beberapa saat aku temukan kursiku dan segera kuatur bawaanku agar dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Beberapa penumpang masih simpang siur mencari tempat duduknya karena beberapa diantaranya salah memasuki gerbong dan bahkan ada yang saling berebut tempat duduk dengan nomor sama tanpa mau mengalah satu sama lainnya. Setelah dijelaskan oleh petugas dan penumpang sekitarnya untuk mengecek kembali nomor gerbong sesuai dengan tiket yang dipesan, akhirnya persoalan tersebut berhasil diselesaikan dengan tuntas.

Di tengah kesemrawutan penumpang yang hilir mudik, tanpa sengaja kulihat seorang penumpang membawa sebuah gandewa, busur panah besar terkalung di pundaknya. Maka secara spontan aku bisikkan ke nDoro Sinyo di sampingku “ Janoko bali ndeso Dab!!!”, karena terbersit di benakku Raden Arjuna, sang penengah Pandawa yang menenteng sebuah busur panah di pundaknya menuju Padang Kuruseta. Selidik punya selidik ternyata yang dibawa oleh sang Janoko yang unik ini bukannya gandewa tetapi sebuah knalpot sepeda motor yang dibelinya di kota sebagai souvenir kepulangannya ke kampung halaman. Sepanjang perjalanan tak habis pikir dan tanpa sengaja sering kuamati sang Janoko sampai akhirnya ia mendarat selamat di Sidareja, sebuah kota kecil sebelum Gandrung tempat tujuanku.

Sang Janoko yang satu ini mungkin merupakan perwakilan dari perwujudan dialektika desa dan kota yang senantiasa bersanding secara kontras. Di satu sisi terdapat fenomena terserapnya sumber daya baik alam maupun manusia dari desa ke kota lewat proses eksploitasi dan urbanisasi, namun di sisi yang lain masyarakat desapun senantiasa menggeliat dengan adopsi terhadap perkembangan teknologi modern. Pemuda desa yang pada umumnya merupakan generasi penerus petani kebanyakan kurang berminat lagi untuk meneruskan kehidupan bercocok tanam di sawah dan ladang serta lebih memilih untuk mengadu nasib di kota.

Hal tersebut bisa terjadi karena pola pikir yang memandang kehidupan petani sebagai bagian kelas sosial yang kurang bergengsi dan senantiasa identik dengan keterbelakangan baik segi intelektual maupun taraf ekonominya. Alasan kedua mungkin seiring dengan peningkatan tingkat pendidikan generasi muda di pedesaan, generasi berpendidikan tersebut lebih memilih profesi sesuai dengan keahlian yang diperolehnya dari bangku sekolah atau kuliah yang seringkali mengharuskannya hijrah mengadu nasib ke lain daerah, kota atau bahkan negara lain. Alasan berikutnya barangkali karena memang keluarga generasi muda tersebut tidak lagi memiliki lahan garapan yang layak, karena kebanyakan dari petani kita merupakan petani gurem yang sekedar menggarap lahan yang luasnya pas-pasan atau malahan hanya menjadi penggarap atau buruh lahan orang lain. Dengan demikian pandangan masyarakat terutama generasi muda masa kini memandang sektor pertanian kurang menjanjikan untuk dijadikan sandaran penghidupan mereka.

Memang harus diakui mungkin hal tersebut sudah menjadi kaharusan jaman, namun perlu ada suatu kompromi yang adil sehingga masyarakat desa dan kota bisa berdampingan secara harmonis dan saling menguntungkan satu sama lain. Perlu ada keseimbangan berpikir agar sang janoko-janoko tersebut  tidak terlampau luntur jiwa kepribadiannya oleh arus kehidupan kota yang seringkali tidak bersahabat dengan budaya mereka. Justru harus diyakinkan bahwa dengan pengembaraan sang Janoko di kota besar mampu menjadikan “kawah candradimuka” baru sebagai pertapaan yang mampu menempa diri mereka menjadi sosok ksatria utama penebar kebajikan di setiap langkah hidupnya. Semoga jiwa sang Janoko senantiasa hidup di tengah masyarakat kita………..

Posted by Nananging Jagad at 08:42:06 | Permalink | Comments (7)