Wednesday, November 21, 2007

KIPNAS IX

VISI TEKNOLOGI DAN KEMAKMURAN NASIONAL
Ambisi sang pakar rudal
“Beranilah bermimpi karena mimpi akan menuntun kita untuk berpikir, dan pikiran akan menuntun kita untuk bertindak!” Demikian pesan penting yang disampaikan oleh Dr. Avul Pakir Jainulabden Kalam, mantan Presiden India ke-11 periode tahun 2002-2007 salaku pembicara kunci dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional(KIPNAS) IX hari Selasa 20 November 2007 kemarin. Kalam dikenal sebagai ilmuan yang menggeluti aeronautical engineer bidang peroketan balistik.

India adalah salah satu bukti darena pernyataannya tersebut. Dengan menggeluti dan mengembangkan iptek India mampu berlari mengejar ketertinggalannya dari negara lain dan berada pada jajaran terdepan penguasaan teknologi persenjataan nuklir. Atas jasa Kalam, India memiliki lima jenis rudal balistik antar benua berhulu ledak nuklir. Rudal Rag merupakan rudal anti tank, Prithvi rudal balistik darat ke udara, Akash rudal jarak menengah darat ke udara, Trishul rudal jarak pendek reaksi cepat dari darat ke udara, dan Agni rudal jarak menengah. Karena kepemilikan senjata tersebut posisi India tidak bisa lagi dianggap enteng oleh negara maju.

Di masa pemerintahan Kalam, ia merumuskan kebijakan pembangunan jangka panjang yang terkenal dengan VISI 2020 IT (India Today) untuk mencapai India menjadi negara maju baru. Melalui implementasi visi tersebut, kini pertumbuhan ekonomi India dilecut tumbuh pesat pada angka 9 persen. Luar biasa….nampaknya impian Kalam di tahun 2020 akan optimis dapat dicapai dengan gemilang.

Salah satu konsep program yang digulirkannya adalah PURA. Providing Urban Amenities in Rural Areas ini bertujuan mengintegrasikan wilayah pedesaan yang menjadi domisili mayoritas penduduk India, dimana 30-50 desa akan digabung menjadi suatu pusat pertumbuhan ekonomi dengan membangun infrastruktur penunjang terpadu, mulai dari jaringan jalan dan transprotasi, pusat ekonomi baru, pusat kesehatan, dan pusat pendidikan, serta pusat informasi dan teknologi.

Nampaknya memang tidak terkesan begitu mewah impian Kalam tersebut, mengingat negara Mahabarata tersebut memiliki kaum intelektual muda yang tersebar luas di dunia dan India sendiri dikenal sebagai negeri dengan biaya pendidikan termurah di dunia. Kita tentu pernah mendengar betapa 30 persen para kaki tangan Bill Gates di Microsoft merupakan putra India, demikian halnya sebagian besar dokter di Amerika juga berasal dari bumi Hindustan.

Sedikit ironi barangkali dengan negara yang dipuji sebagai apunjung wukir, gemah ripah loh jinawi semacam Indonesia yang kian terseok dengan kekalahan peradaban di era globalisasi. Padahal di masa lalu, seakan tahapan pembangunan dan mimpi-mimpi mengenai negara yang makmur telah tertata dengan rapi, namun kini kandas tanpa sempat tinggal landas. Apakah kita sebagai bangsa besar sebagaimana India, tidak mampu bangkit untuk membangun mimpi baru sebagai spirit perjuangan menjawab tantangan globalisasi jaman? Pripun pak presiden?……….Ampun pemrentah!!!

Posted by Nananging Jagad at 05:55:18 | Permalink | Comments (5)

Friday, August 3, 2007

PENDIDIKAN KILAT

DIKLAT

Beberapa waktu yang lalu mendapatkan kehormatan  “ketiban sampur” untuk   “ngangsu kawruh” mengikuti Diklat Simbah Radioaktif di Padepokan Pusat Teknologi Simbah Radioaktif di BATAN Serpong. Lumayan dapat pencerahan “kawruh baru”, temen dan tentunya sedulur sak perguron.
Barangkali  ada rekan-rekan yang berminat untuk berdarma wisata kesana, pihak padepokan tersebut membuka pintu lebar-lebar untuk masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat “simbah” kita tersebut.
 
Posted by Nananging Jagad at 08:11:45 | Permalink | Comments (6)

Tuesday, June 12, 2007

TAFSIR MIMPI

SENJAKALANING SEORANG PENGGEDHE

Alkisah pada suatu malam lewat lingsir wengi, mendekati sepertiga malam akhir, saya mengikuti sholat tarawih yang akan diimami oleh seorang Ndoro Penggedhe. Saya berdiri tepat di belakang Ndoro Penggedhe, sedangkan di sisi kanan saya ikut bermakmum Ndoro SBY. Setelah beberapa saat sholat akan dimulai dan semua makmum sudah siap…..eee ternyata sang imam malah diam mematung tanpa memberikan komando. Karena Ndoro Penggedhe diam seribu bahasa, para makmum menjadi bingung dan penasaran. Tidak beda juga halnya dengan Ndoro SBY, beliau kemudian berujar,” Sampeyan itu gimana to, semua makmum sudah siap mengikuti komando sang imam, malah Sampeyan diam dan bengong……..sudah-sudah diganti saja, Sampeyan segera lengser dan mundur. Sampeyan tak becus jadi imam!”

Setelah Ndoro Penggedhe lengser keimaman, kemudian tanpa diduga tampuk posisi imam digantikan oleh tiga orang bocah cilik yang jauh lebih fasih bacaan Qur’annya. Mereka memimpin sholat secara bergantian, masing-masing bocah pertama dan ke dua memimpin empat raka’at, dan bocah terakhir menutupnya dengan witir.

Ternyata saudara, itu hanyalah sekedar mimpi di pagi buta pertengahan Februari 2007 yang lalu. Hal tersebut sempat saya ceritakan kepada seorang teman sejawat di pondok penggawean saya. Ketika teman tersebut kemudian mendesak saya menerangkan secara jlentreh dan runtut maksud, arti dan tafsiran dari mimpi tersebut, secara sedikit diplomatis dibumbui dobosan saya katakan, ” Bahwasanya mimpi saya tersebut terjadi di pagi hari akhir sepertiga malam”.

Menurut penuturan para pinisepuh, kejadian mimpi berdasarkan periode waktu terjadinya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu titiyoni, gondoyoni, dan puspotajem. Titiyoni artinya kejadian mimpi di awal malam, biasanya merupakan refleksi dari pikiran yang tidak mampu ditinggalkan oleh sesorang menjelang tidur seperti rasa gelisah, stress, kalut dan lelah dengan aktivitas kerja dan rutinitas keseharian. Mimpi jenis ini tidak ada artinya sama sekali dan sering dialami oleh seseorang yang tidur terlalu sore.

Jenis mimpi yang kedua disebut gondoyoni, terjadi di pertengahan malam hingga menjelang lingsir wengi. Mimpi inipun sebagaimana titiyoni tidak mempunyai makna khusus dan disebut hanya sekedar sebagai kembange turu, bunga tidur. Lain halnya dengan mimpi ketiga, puspotajem. Mimpi ini terjadi setelah lewat waktu lingsir wengi menjelang pagi hari. Mimpi ini dikatakan oleh para sesepuh sebagai isyarat jaman, tanda-tandaning kasejaten. Dipercaya sebagai firasat atau kabar ghoib yang diberikan oleh Tuhan terhadap sesuatu hal yang akan terjadi.

Berlanjut ke pertanyaan sejawat saya di atas, saya sampaikan bahwasanya Ndoro Penggedhe yang ada di mimpi saya tersebut akan segera dilengserkan dari jabatannya terkait dengan satu kasus yang semua orang di kantor sudah tahu sama tahu. Dan ternyata, jagad dewo batara……dua minggu yang lalu, di pagi hari ketika saya baca sebuah surat kabar terkemuka, diberitakan bahwa dua orang pejabat eselon atas telah ditangkap Tim KPK dan ditahan di kepolisian terkait mark up proyek pengadaan tanah di Bogor. Ampuuuuuun pemrentah…………

Posted by Nananging Jagad at 02:07:12 | Permalink | Comments (9)

Wednesday, April 4, 2007

RIBET

 

HARI-HARI YANG MELELAHKAN

 

SEHINGGA……….MESTI REHAT SEJENAK

MENERAPKAN RESEP 3W……….WANGSUL WONTEN WANAGALIH

PAREEEEEEEEENG!!!!

Posted by Nananging Jagad at 01:24:30 | Permalink | Comments (24)

Tuesday, February 13, 2007

KESAKSIAN

2 FEBRUARI 2007

Sebuah Kisah Kesaksian Suatu Pengkhianatan

        Alkisah pada masa akhir pemerintahan Prabu Kertanenagara di singgasana Kerajaan Singosari, terdapatlah seorang menantu sang prabu bernama Ardharaja yang melakukan pembelotan alias pengkhianatan keji sehingga menyebabkan hancurnya kerajaan yang didirikan oleh Wangsa Rajasa tersebut.

Kisah berikut ini sebenarnya tidaklah sebesar kisah Ardharaja tersebut, namun yang menjadikannya sama adalah pada corak suatu sifat yang bernama “pengkhianatan” yang dalam wacana budaya modern saat terkini disebut sebagai perselingkuhan.

Dikisahkan, saya kebetulan punya beberapa teman seperguruan sewaktu sama-sama menuntut ngelmu di Padhepokan Nggajah Mada, dan ndilalahnya kemudian teman tersebut saat ini juga satu prakaryan dengan saya. Sebut saja teman tersebut bernama Ardha dan Bedhes. Ardha adalah seorang lelaki yang kebetulan kepernah sedulur tuwa saya sewaktu nyantrik, namun dirinya kini menjadi adik leting saya di prakaryan. Sedangkan Bedhes seorang wanodya adik seperguruan dan saat ini juga menjadi junior saya di kantor.

Si Bedhes kebetulan sudah terikat rembug tuwo dengan teman seangkatannya yang notabene jelas adik seperguruan saya juga. Rencana punya rencana Bedhes akan melangsungkan perhelatan akbarnya pada pertengahan Februari ini, namun karena jejibahan harus mengikuti suatu ritual “ospek” yang diberlakukan bagi setiap pekerja baru di kantor kami sehingga event tersebut dengan sangat senang hati harus diundur. Kenapa saya katakan dengan senang hati???

Duduk persoalane begini….Semenjak bulan Agustus 2006, Bedhes mulai makarya mengadu nasib di ibukota Njakarta. Semenjak detik awal tersebut status dia terikat rembug tuwo dengan sang korbannya anak sesuku bangsa dengan Yusuf Kalla, alias penjantan dari timur, Makassar. Namun semenjak awal makaryo tersebut pula, Budhes runtang-runtung rerentengan dengan seorang pria idaman lain yang di awal telah saya sebut bergelar Ardha(bukan yang aku tak biasa lho…..!).

Bagi saya pribadi persoalan tersebut sebenarnya bukan menjadi urusan saya. Namun kok yo soyo suwe tansaya kebangeten aggone orang berdua tersebut show of kepada kami keluarga besar kantor. Sehingga tanpa sembunyi dan malu-malu, tanpa tedheng aling-aling dan tak menghiraukan sedikitpun unggah-ungguh dan norma kesusilaan mereka menjadi tontonan yang sangat memuakkan. Dan yang menjadi puncaknya bagi kesaksian saya adalah pada waktu Jum’at Kliwon malam Sabtu Legi tanggal 2 Februari 2007 pukul 21.00 WIB yang lalu saya tanpa dinyana-nyana memergogi sepasang orang gila tersebut sedang berduaan di bawah pohon tak jelas di seputar parkir IRTI Monas.

Semula saya sengaja diam seribu basa dan seolah-olah tak menghiraukan keberadaan mereka dan dengan acting seolah-olah saya tak melihat mereka, saya melintas beberapa meter di depan mereka. Sepertinya mereka agak kedher juga melihat gelagat kerawuhan saya. Mungkin mereka berdua sengaja merapal mantra dan doa-doa ilmu sirep yang membuat mata saya lamur dan tak melihat mereka. Setelah beberapa puluh langkah melewati mereka, dengan sekonyong-konyong dan tiba-tiba saya balik kanan dan menuju ke arah mereka dengan langkah tegap seorang komandan saya langsung mengacungkan tangan ke arah mereka. Mereka seakan tergagap….

Saya langsung nrocos, “wah pura-pura gak lihat yo, ethok-ethok ra kenal.Kenapa gak pada nyapa saya dari tadi”. Terlihat dengan jelas mereka grogi dan raut mukanya pucat setengah basi. Saya bilang lagi, “ Ngapain malam segini bengong sendirian di sini Budhes?”, sengaja saya teror pertanyaan rekenan tersebut karena kebetulan Ardha berkulit hitam dan saya katakan saya tak melihat gelebat bayangan apalagi wujud wadagnya. Memuakkan batin saya……

Rupanya kasak kusuk dan kabar burung yang selama ini beredar sedikit banyak ada kebenarannya juga dan malam itu sayalah yang kebagian menikmati kesaksian pedih tersebut. Bukannya apa-apa, yang membuat hati saya trenyuh dan sedih adalah si Bedhes yang satu ini wujud fisiknya adalah seorang perempuan yang berjilbab, dus dia sedikit banyak membawa imej dan jelek buruknya nama baik agama.

Besar kemungkinan nantinya setelah Bedhes menikah dengan si ayam jantan dari timur hanya sekedar status. Bahwasanya secara de jure memang menjadi istrinya, namun secara de facto milik sang Ardha. Mungkin inilah yang oleh Kang Sastro tetangga saya disebut sebagai MTS, “Menikah tapi selinthut”. Di sisi lain barangkali memang Ardha ini juga tipe lelaki yang “pagar makan tanaman”. Dan menjelang detik-detik pernikahan Bedhes yang semestinya sakral, mereka bilang ingin menikmati kesempatan yang tersisa sebelum kemudian mengikat tali keluarga. Omong kosong, barangkali pendapatan sebagian orang.

Nampaknya bagi Bedhes, agama barulah sebatas sebagai ageman, sebagai pakaian fisik atau topeng tanpa ruh dan jiwa sejatinya. Agama adalah suatu topeng kemunafikan. Sosok perempuan yang satu ini nampaknya persih sebagai perwakilan ramalan para pujangga sebagai “wanita murang tata, wanita kang ilang wirange”, dan ini sebenarnya satu gejala tiba waktunya laknat Tuhan akan datang secara beruntun di hadapan manusia. Apakah banjir bandang Njakarta ini ada kaitannya dengan kisah ini??? Ataukah benar kata para pujangga, di jaman edan ini “tak ada gadis yang tak retak?”. Embuh raruh lah….

 

Posted by Nananging Jagad at 00:49:45 | Permalink | Comments (23)

Tuesday, January 30, 2007

KONSERVASI PANTAI

PERMASI

Perhimpunan Masyarakat Konservasi

Sekejap mata saya terhenyak dari tidur yang lelap selepas lingsir wengi semalam. Berita heboh tentang kejadian gempa Manado berskala 6,5 skala Richter memang telah mengantarkan saya terlelap dalam dunia mimpi yang nggegirisi, sehingga tak berapa lama saya merasakan tindihen oleh kilatan kisah mimpi nan ngeri, hingga saya tergagap seketika dari tidur gelisah tersebut. Rupanya tv di ruang saya masih menyala dan rupanya sedang memaparkan cerita menarik tentang kawasan Pantai Wedhi ombo.

Pantai Wedhi ombo merupakan salah satu kekayaan obyek wisata di kabupaten Gunung Kidul, tepatnya terletak di desa Jepitu Kecamatan Girisubo. Dulu kawasan ini secara administratif merupakan bagian dari kecamatan Rongkop, dan setelah terjadi pemekaran kecamatan di tahun 2001, bergabunglah menjadi sebuah kecamatan baru bernama Girisubo. Mengapa kisah mengenai pantai tersebut menjadi daya tarik bagi diri saya? Pertama karena saya pernah merasakan tinggal di sekitar kawasan tersebut, tepatnya di desa Giripanggung Kecamatan Tepus, selama kurang lebih dua bulan di pertengahan tahun 2000 dalam rangka SIBERMAS, Sinergi Pemberdayaan Masyarakat, sebuah program kerjasama antara ADB dan LPM UGM.

Daya tarik desa terpencil tersebut juga tak lepasa dari keberadan sosok Mbah Tomo yang konon merupakan salah satu guru spiritual Presiden Soekarno yang sampai saat ini masih segar bugar. Dan konon para ahli waris Soekarno, termasuk Megawati masih sering mengunjungi sang Simbah.

Kedua memang tertarik dengan liputan berita yang mengisahkan tentang sekumpulan anak muda yang merasa prihatin akan kelestarian lingkungan hidup sekitar pantai Wedhi ombo yang telah mengalami degradasi beberapa tahun terakhir ini. Pantai tersebut merupakan pantai teluk yang tersusun dari batuan karst khas deretan Pegunungan Sewu yang secara geologist diduga sebagai hasil evolusi morfologis batuan karang dasar laut yang terangkat ke atas oleh gaya endogen menjadi permukaan darat. Pantai ini merupakan pantai fyord yang merupakan tebing tinggi nan terjal dan berkelok. Yang unik di sana terdapat batuan berbentuk kipas raksasa yang tampak indah dipadu dengan goresan jingga di cakrawala langit setiap menjelang senja hari. Pantai Wedhi ombo juga merupakan salah satu pantai berpasir putih di Gunung Kidul selain Krakal di sebelah baratnya. Kawasan pantai ini juga merupakan habitat monyet ekor panjang yang saat ini sering mengganggu tanaman pertanian petani akibat kerusakan hutan habitat asli mereka.

Liputan utama warta tersebut terfokus pada kegiatan kelompok relawan beberapa anak muda setempat yang diprakarsai oleh Mbah Sutadi yang tergabung dalam PERMASI(Perhimpunan Masyarakat Konservasi). Tujuan paguyuban tersebut adalah melakukan konservasi terhadap kawasan pantai sepanjang sekitar 10 km. Kerusakan utama pantai disebabkan oleh abrasi gelombang laut yang mengakibatkan daratan semakin terkikis dan merusak kawasan hutan pantai. Disamping itu ulah para pengunjung pantai yang seringkali membawa pulang pasir ataupun batuan pantai sebagai “souvenir”.

Kegiatan yang dilakukan oleh PERMASI adalah merintis pembibitan tanaman pantai untuk mereklamasi dan menghijaukan kembali kawasan pantai. Bibit yang ditangkarkan diantaranya tanaman pandan, sengon laut, bakau, ipik, akasia dan tanaman khas pantai yang lain. Disamping upaya penghijauan, kelompok tersebut juga secara bergiliran malakukan piket penjagaan pantai untuk mengingatkan pengunjung agar jangan melakukan hal-hal yang dapat merusak kelestarian lingkungan hidup. Luar biasa memang yang dilakukan rekan-rekan tersebut, mereka membiayai sendiri kegiatan mereka dari swadaya masyarakat setempat dan tanpa mengharapkan imbalan dari siapapun, terlebih dari pemrentah.

Selain pantai keindahan wisata pantai, kawasan tersebut juga menyimpan potensi keindahan alam bawah tanah berupa keberadaan gua atau luweng, istilah masyarakat setempat. Daya tarik yang lain di kawasan tebing Ngungap, dimana warga sekitar pada bulan-bulan tertentu melakukan pemanenan sarang burung walet secara tradisional di tebing bibir pantai selatan yang ganas gelombang lautnya tersebut.

Siapa ingin kesana?Ikuuuuuuuuut…………………….

Posted by Nananging Jagad at 06:25:27 | Permalink | Comments (7)

Tuesday, October 3, 2006

MATI LAMPU

JAKARTA PUSAT NAN REMANG-REMANG

Senin malam sehabis mengikuti sholat tarawih di Istiqlal yang menghadirkan Syaikh Muhammad Syam, imam besar Masjidil Aqso Palestina, sebagai penceramah, dalam perjalanan pulang ke Ndalem KK tanpa sadar saya perhatikan Taman Monas yang gelap gulita bagai alas gung liwang liwung. Ternyata usut punya usut terdengar informasi dari sopir bus bahwa sebagian Jakarta Pusat mengalami mati lampu. Demikian pula, sepanjang Jalan Thamrin, lampu pengatur lalu lintas juga koit.

    Masuk ke kawasan KK juga mati lampu, gelap, dimana-mana gelap. Suasana tampak mencekam diiringi suara gaduh para precil yang bersenda gurau dengan teman spermainan mereka. Beberapa anak bermain mercon ipret, membuat suasana seakan akan ada kudeta militer di pusat pemerintahan republik ini. Masuk di Ndalem KK nampak si Om sedang berapi unggun ria dengan sebatang lilin di pelataran kedhaton. Suasana gelap mati lampu mengingatkan kepada sebuah lagu parodi campur sarine Mas Didi Kempot yang berjudul “MATI LAMPU”, kurang lebih begini syairnya:
       
        Pet…….lampune mati, peteng ndhedhet omah iki
        Pet…….mati lampune, teplok-teplok diuripke
        Nyamuk-nyamuk pada nyanyi, nguing-nguing terus nyakoti
        Tak inggati ketatap kursi, aduh biyung sikilku mlenthung
 
        Pet…….lampune mati, bocah-bocah padha wedi
        Pet…….mati lampune, thole nangis nggoleki mboke
        Mbah putrine grayah-grayah, mbah kakunge pingin ngopi
        Mlaku ngarep kleru mburi,
        grayah-grayah ngutahke kopi pet……lampune mati
   
        Paling enak sing lagi pacaran
        Lampune mati…….o ……mlah sun-sunan
        Paling enak, sing lagi sun-sunan
        Mati lampune pet…..mati-matian
        Anget tenan mati lampune, anget tenan mati lampune….
 
        Byar……lampune padhang, sing pacaran dha konangan (shokur)
        Byar……lampune padhang, sing sun-sunan ketok tenan
        Byar……lampune padhang, sing pacaran yo konangan
        Byar……lampune padhang, sing sun-sunan ketok tenan
        
        Modar hayyo!!!!
        
 

 

Posted by Nananging Jagad at 02:15:49 | Permalink | Comments (11)

Thursday, September 14, 2006

BOMB SIMULATION

RADIOLOGICAL EMERGENCIES

Sedikit oleh-oleh yang tertunda dari Markas NUBIKA Direktorat Zeni TNI AD Ciseeng-Bogor.


Sasaran bom

 

Ledakan bom
 
Efek Ledakan
 
Pemberian Garis Polisi
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Dekontaminasi Area
 
 
Dekontaminasi korban ledakan
 

Daerah telah steril
 
Evaluasi
 
Nampang bersama
Be carefull with dirty bomb
***********
Posted by Nananging Jagad at 07:22:37 | Permalink | Comments (11)

Thursday, August 24, 2006

MULIH NDESA

MUDIK LIBURAN


Liburan cuti bersama dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-61 sengaja saya manfaatkan sebaik-baiknya. Jauh hari saya sudah ancang-ancang untuk mudik pulang ke sangkan di kampung halaman tercinta. Dalam hati sih kepingin menikmati suasana detik-detik proklamasi di kecamatan, yang selalu ramai dengan “ritual” khas lengkap dengan segala ubarampe pentas seni tradisional, mulai janthilan, campur, kobra, lutungan, ndayakan, ndolalak, angguk dan lain sebagainya. Namun apa daya maksud hati tak sampai karena kehabisan tiket kereta.

Akhirnya saya putuskan untuk pulang mudik Kamis sore setelah di pagi harinya secara khikmat mengikuti upacara bendera di kantor dan dilanjutkan menonton upacara di Istana Merdeka. Petang hari jam 19.00 tepat kereta api Sawunggalih membawaku meninggalkan Senen menuju Kutoarjo. Tiba di Kutoarjo sekitar jam 03.30 dinihari untuk kemudia kulanjutkan perjalananku menuju Magelang dengan bus.

Sekitar pukul 05.00 pagi, mak nyees kurasakan kesejukan kota Magelang dengan panorama Gunung Tidar yang seakan baru tersadar dari lelap tidurnya. Sengaja pagi itu saya mampir dulu di rumah kakak sulung saya di bilangan Secaba – RINDAM IV.

Siang jam sepuluhan baru kedua kaki ini menginjakkan diri di bumi Merapi ayng telah membalung sungsum di jiwa dan ragaku. Bapak lan Simbok langsung mbagekke kedatanganku, menanyakan kabar pawartos sang Janoko putra tercintanya. Simbok kemudian banyak bercerita tentang “prayaan” tujubelasan di kecamatan yang meriah. Tontonan dan pentas seni lengkap tidak seperti tahun sebelumnya. Yang paling heboh cerita mengenai Pak Djarwo, camatku yang terjatuh pingsan sesaat setelah selesai bertindak sebagai irup. Kasihan deh pak camatku, mungkin karena kelelahan akibat semalaman mengikuti tirakatan sambil nanggap wayang semalam suntuk di pendopo kecamatan.


Malam hari sehabis Isya’ kusempatkan dolan di rumah simbah yang kebetulan masih satu kampung. Lik Mi, adik bapakku, kemudian bercerita panjang lebar mengenai kisah perjalannya ke Ngampel di Boyolali untuk berkunjung ke rumah adik sepupu saya yang kebetulan sedang menggelar acara rejeban di kampungnya. Lik Mi menuturkan semangat gotong royong warga lereng Merbabu tersebut masih ngrembaka. Selain acara ritual, juga digelar pesta seni rakyat yang murah meriah penuh makna. Habis dari Ngampel, Likku mampir di Windusari di lereng Merapi untuk sekedar njagong bayi karena kebetulan adik sepupuku yang lain baru melahirkan anak ke duanya. Wuaduh……bertambah lagi prunanku seorang dan berarti bertambah lagi prunan yang memanggilku pakdhe.

Posted by Nananging Jagad at 08:49:53 | Permalink | Comments (9)

Monday, August 14, 2006

TILIK SIMBAH

BIYUNG: JIMAT ANAK PUTU

Seminggu yang lalu, saya menerima kabar dari Simbok saya di kampung yang menceritakan bahwa Biyung (simbah, biyung tuwa alias nenek, red) sudah selama tiga minggu ini anjangsana di tempat kakak sepupu saya di Serpong. Karena berbagai kesibukan penggawean di kantor menyebabkan tertundanya rencana saya untuk sekedar ngaruhke beliau. Baru hari Minggu kemarin akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk atur sungkem.

Dengan sebuah KRL akhirnya saya tempuh perjalanan sekitar satu jam melewati jalur Tanah Abang - Serpong. Sebuah lintasan rel yang sangat akrab bagi saya, karena setiap hari saya melewatinya pulang pergi makarya di pusat kota, tiga tahun yang lalu. Sebuah kenangan kembali terngiang tatkala sekelompok grup pengamen dengan peralatan lengkap(gitar, bas, minidrum, akordion) menyanyikan lagu SMS…..keren banget dech.

Sampai di tempat Mbak kira-kira jam 10, saya ucapkan greeting saya, “kula nuwun …. “. Serta merta suami Mbakku yang sedang mbengkel di depan rumah terkejut seraya memanggil “Mbah Buyut cucune datang ki”. Biyung nampak trenyuh melihat kedatanganku, sudah setengah tahun lewat saya tak sempat ketemu Biyung.

Setelah mbagekke kabar keslametanku, Biyung langsung mengeluh betapa nglangutnya dia menjalani hari-hari selama tiga minggu ini di rumah Mbakku. Siang terasa terlalu panjang dan malampun terasa terlalu lambat berjalan. “Tiap hari kerjaannya hanya thenguk-thenguk ines di tritikan“, kisahnya. Intinya Biyung kepingin cepat pulang kampung kembali menghirup angin gunung.

Untuk sekedar nylamur waktu, Biyung minta dibelikan telo pendhem untuk kemudian dibuatnya timus, pagi tadi. Dan saya sebagai wayah yang dikasihnya diminta mencicipinya untuk pertama kali. Tangan Biyung memang masih cekatan dan trampil mengolah bahan masakan, karena memang Biyung sedari muda seorang pengrajin tempe dele yang handal di kampungku, dan hasilnya sepiring timus yang lezat.

Sambil terus menyantap hidangan, Biyung sedikit ndongeng mengenai masa lalunya. Dia tak habis pikir mengingat betapa jauh jarak yang ia tempuh dari Merapi - Bekasi - hingga terdampar di Serpong. Jaman dulu orang tidak pernah punya angan-angan pergi jauh dengan berkendaraan. Kemanapun orang pergi, kedua kakinyalah yang menjadi penyambung langkah. Dia mengenang tatkala menjadi bakul gaplek dan sayuran menempuh jarak puluhan kilo meter dari lereng Merapi menuju lembah Borobudur. Semua dijalani dengan penuh kebersamaan bersama teman-temannya, dan semangat itulah yang membuat pikiran selalu riang sehingga membuat dadanya lapang dan langkahnya kemudian menjadi ringan penuh keriangan. Orang sekarang nggak mungkin kuat menjalani kehidupan berat sedemikian.

Biyung juga terkenang Biyung Sarinten, kakak kandungnya. Di masa kecil Biyung berdua tersebut, sebagai anak sulung dan nomor dua mendapat tugas yang berat untuk nggula wentah adik-adiknya dua belas bersaudara. Dikatakannya Biyung berdua selalu mendapat tugas memasak di dapur, kemudian angon bebek dan ngarit rumput. Sudah harus menjalani tugas berat, seringkali mereka dimarahi oleh Mbah Buyut yang memang terkenal ringan tangan. Pernah satu ketika, Biyung disuruh membawa garu(alat bajak) ke sawah. Garu selalu dibawa dalam posisi miring, namun karena Biyung seorang perempuan, dia membawanya mendatar sehingga waktu melewati depan rumah Mbah Basir garunya nyangkut di pohon waru doyong dan sang garu jatuh menimpa tubuh Biyung. Sambil menahan rasa sakit diteruskannya membawa garu ke sawah. Sampai di sawah, bukannya dimaklumi oleh Mbah Buyut, malah pecutan gagang pecut yang didapati. Mbah buyut malah menuduh Biyung keluyuran kemana-mana.

Menghadapi orang tua yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Biyung Sarinten pernah nguda rasa ke Biyung, ” Mi, meskipun kita punya bapa yang galak dan cengkiling, smoga nanti kalau mendapat suami mendapatkan suami yang baik hati dan penyayang”. Dan dunia kemudian membuktikan Biyung berdua tersebut memang mendapatkan suami yang jembar segara. Menyimak Biyung bercerita, hatiku terasa trenyuh dan prihatin sedih, kasihan Biyung menghadapi kerasnya dunia.

Setahun yang lalu, Biyung terkena serangan tetanus akibat sempat terjatuh di pematang tegalan dan di amben sewaktu mau sholat. Satu setengah bulan Biyung terpaksa mendapat perawatan intensif di RST Magelang. Sekarang setelah setahun berlalu, tetanus tersebut masih menyisakan berbagai kesulitan yang menghambat aktivitas Biyung. Diantaranya, sampai saat ini Biyung belum bisa simpuh sehingga dia merasa tidak nyaman pada waktu sholat. Biyung seringkali mupus bahwa dirinya sudah tua dan tak mengharapkan apa-apa lagi, sudah mendekati ajal dan bukanlah bagian yang penting lagi bagi perputaran roda kehidupan. Sudah saatnya yang muda menerima estafet tugas memuliakan dunia, pesannya.

Bagi kami, anak cucunya, Biyung adalah sebuah mutiara sekaligus permata yang harus selalu kami uri-uri keberadaannya. Biyung ibaratnya jimat yang sanggup membangkitkan semangat dan kekuatan kami dalam menantang kerasnya dunia. Yung, sungkem pangabekti tansah katur panjenengan……………

Posted by Nananging Jagad at 10:36:20 | Permalink | Comments (7)