Wednesday, January 16, 2008

OPO TUMON?

PROGRAM
KETAHANAN PANGAN NASIONAL

“Sebuah Kisah Ironi Bagi Petani”

Dalam satu kesempatan rapat kabinet terbatas di Departemen Pertanian 15 Januari 2008, Presiden Susi menyampaikan bahwa terjadinya bencana alam yang menimpa tanah air akhir-akhir ini juga banyak menimpa daerah-daerah sentra produksi pangan nasional. Hal tersebut membuatnya khawatir bahwa bencana alam yang terjadi akan disusul dengan bencana kelaparan akibat tidak adanya ketahanan pangan nasional yang mampu menyediakan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Untuk itu diluncurkanlah di awal tahun ini program untuk peningkatan ketahanan pangan nasional.

Dana yang dianggarkan untuk program tersebut mencapai sembilan triliun rupiah, ini berarti terdapat peningkatan anggaran di Departemen Pertanian sebesar 40% yang secara khusus akan digunakan untuk pembangunan kembali infrastruktur penunjang sektor pertanian seperti bendungan, saluran irigasi, penyediaan bibit unggul dan sarana produksi, serta prasarana pasca panen. Selain dipicu oleh berbagai bencana alam di tanah air, program tersebut juga sebagai respon adanya kekurangan stok berbagai produk pertanian untuk kebutuhan dalam negeri, seperti kedelai dan gandum, bahkan juga beras yang terpaksa harus diimpor dari luar negeri.

Nampaknya pemerintah tidak akan pernah kehabisan ide dan kreativitas untuk menciptakan suatu program baru. Hanya pertanyaan masyarakat adalah sejauh mana program yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan efektif dan mendapat respon dari pelaku di lapangan, sehingga dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Di pertengahan Juni 2005, barangkali masih segar di ingatan kita, Presiden Susi meluncurkan program revitalisasi pertanian, kehutanan dan kelautan. Program tersebut identik dengan program ketahanan pangan, namun apa lacur, bagaimana kabar program tersebut, apakah berhasil, ataukah gagal total?

Sepertinya suatu program pembangunan di era pemerintahan Presiden Susi ini hanya abang-abang lambe, sekedar pemanis bibir, sehingga antar suatu program dengan program lainnya tidak terintegrasi dengan baik, sehingga selalu amburadul dalam implementasinya di lapangan. Disamping itu seringnya terjadi perubahan struktur organisasi dan pergantian pejabat menjadi penghambat keberlanjutan program yang telah dicanangkan sebelumnya, sehingga masalah keberlangsungan dan kelanjutan program tidak dapat tertangani dengan baik. Masih ingat barangkali, di era Menteri Pertanian Prakoso dicanangkan Gema Palagung(Gerakan Masyarakat Palawija dan Jagung), era Bungaran Saragih dengan program agribisnis dan agroindustrinya, dan sekarang era Anton telah berubah dua kali pencanangan program, ditambah pola impor berbagai bibit unggul varietas pertanian dari luar negeri seperti RRC dan Thailand. Nampaknya program hanya tinggal program di dunia awang uwung.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pembina HKTI, Siswono Yudhohusodo mengatakan bahwa yang paling penting untuk dilakukan pemerintah adalah peletakan pondasi yang kokoh bagi suatu kebijakan politik pertanian yang terencana dan terimplementasi dengan baik, sinergis, dan berkelanjutan. Kebijakan yang dibuat secara parsial dan terpotong-potong tidak akan menuai hasil yang optimal.

Pertumbuhan penduduk di muka bumi berkembang sangat pesat mencapai satu miliar jiwa per tahun. Hal tersebut jelas harus diiringi dengan penyediaan cadangan pangan yang mencukupi sehingga ke depan harga pangan akan senantiasa naik secara signifikan. Sebagai satu contoh harga cpo sepuluh tahun yang lalu US$ 220 kini telah mencapai US$ 880 per tonnya. Indonesia sebagai negara tropis dengan luas lahan pertanian jutaan hektar sangat berpeluang untuk menjadi negara penghasil komoditas produk tropis terbesar di dunia. Hanya saja kebijakan pemerintah nampaknya sangat mengesampingkan peluang tersebut.

 

Kebijakan yang seringkali dibuat malahan sering memukul sektor pertanian di dalam negeri sendiri. Di negara belahan dunia manapun negara selalu memproteksi produk pertanian dalam negeri dengan penerapan bea masuk impor yang tinggi sebagaimana Jepang yang menerapkan angka 400%, Taiwan 140%. Kebalikan dengan negara kita, bahkan untuk kedelai, pemerintah menghapuskan sama sekali bea masuk menjadi 0%, hal ini jelas akan mejadikan Indonesia sebagai pasar yang dibanjiri kedelai dari berbagai negara. Negara seperti Amerika Serikat sebagai penghasil kedelai terbesar jelas akan berpesta pora menikmati keadaan tersebut, sedangkan nasib petani kedelai kita akan semakin hancur karena sistem pertanian yang tidak didukung kebijakan yang menunjang. Beberapa dekade yang lalu, saat bea masuk kedelai masih tinggi, para petani bergairah menanam kedelai hingga mencapai luas lahan 1,4 juta hektar dan mampu mensuplai kebutuhan nasional hingga 80%. Saat ini dengan bea masuk 10%, kedelai luar mulai membanjir, hingga petani kedelai melesu dan luas lahan berkurang menjadi 700 ribu hektar dan hanya mensuplai 60% kebutuhan nasional. Bayangkan dengan bea masuk 0%! Apa yang akan terjadi?

 

Contoh lain kebijakan yang salah juga terjadi untuk komiditas coklat atau kakao. Pada saat produksi bagus pemerintah menerapkan PPn sebesar 10% untuk pabrik pengolahan kakao di dalam negeri, sedangkan bea ekspor diterapkan 0%. Akibatnya banyak pabrik pengolahan yang gulung tikar dan kakao kemudian banyak lari ke luar negeri yang disambut dengan sangat baik oleh sebuah perusahaan di Johor yang menjadikannya sebagai pengolah kakao terbesar di Asia Tenggara. Dan lucunya kemudian produk coklatnya banyak dijual kembali ke Indonesia. Nampaknya hal tersebut bisa terjadi kemungkinan karena dua hal, pertama bodohnya pembuat kebijakan, atau hal yang ke dua adanya kolusi dan manipulasi untuk keuntungan oknum tertentu.

Dalam kondisi demikian, dimanakah keberpihakan pemerintah kepada petani, kepada anak bangsa sendiri? Apakah nasib petani selamanya hanya menjadi komoditas bagi kepentingan penguasa semata? Sepertinya petani dari jaman ke jaman hanya senantiasa dijadikan sebagai tumbal atas nama stabilitas pangan dan pembangunan nasional. Mohon renungkanlah kembali. Ampuuuuun pemrentah….!!!
Posted by Nananging Jagad at 04:15:44 | Permalink | Comments (12)

Friday, December 14, 2007

PROFESOR RISET

mikroPROFESOR


Hari ini mendapatkan anugerah kesempatan yang luar biasa dari Tuhan karena dapat ikut menyaksikan suatu prosesi pengukuhan profesor riset oleh LIPI. Apa sih sebenarnya yang dimaksud profesor riset? Barangkali yang selama ini telah dipahami kebanyakan orang adalah gelar profesor sebagai pengukuhan guru besar di padepokan perguruan tinggi. Lalu yang satu ini model ‘makanan’ opo meneh?

 

Profesor riset jebulnya merupakan “gelar” tertinggi seorang fungsional peneliti yang diberikan kepada ahli peneliti utama(APU) setelah melampaui kriteria tertentu. Gelar ini masih tergolong baru karena baru dilaunching melalui Keputusan Menpan No. 128/2004.

 

Kriteria sebagaimana dimaksud di atas rupanya bahwa seorang ahli peneliti utama harus sudah mencapai skor 1050, disamping yang dapat menyandang gelar tersebut minimal berpendidikan S2 atau apabila S1 harus menulis paling kurang dua makalah ilmiah yang dipublikasikan secara internasional dalam jangka waktu dua tahun.

 

Skor 1050 merupakan penghargaan untuk setiap kegiatan penelitian yang dilakukan, termasuk penulisan makalah ilmiah, presentasi dalam suatu pertemuan ilmiah, keikutsertaan dalam seminar atau workshop atau pelatihan,dll.

 

Tradisi pemberian gelar profesor riset tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan spiritualitas guna memacu para peneliti untuk lebih giat meneliti guna memecahkan berbagai persoalan di masyarakat dan upaya pengembangan ilmu pengetahuan, disamping untuk peningkatan profesionalisme peneliti sendiri. Hal tersebut menjadi penting dan strategis dikarenakan dorongan negara berupa dana dan insentif untuk penelitian sangat minim. Kembali satu fakta ironi yang dihadapi negara berkembang(baca:miskin) seperti kita.

 

Untuk para pengembara dunia maya di alam perbloggeran, guna memacu profesionalisme para blogger, barangkali perlu dibuat suatu penjenjangan keahlian ngeblog sehingga dunia tersebut semakin berkembang dan berdayaguna. Seorang rekan bahkan telah mengusulkan gelar tertinggi yang kelak dianugrahkan memakai titel mikroPROFESOR. Bagaimana menurut kisanak?


Posted by Nananging Jagad at 08:47:20 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, November 21, 2007

APAKAH KITA INGAT?

HARI POHON
21 November 2007

        Ternyata ada to yang namanya Hari Pohon, tepatnya diperingati pada tanggal 21 November tiap tahunnya. Barangkali banyak orang tidak mengetahui mengenai keberadaan hari tersebut, tapi satu yang pasti…..semua orang kiranya sepakat bahwa pohon merupakan bagian terpenting dalam menopang fungsi alam bagi kehidupan manusia.

           Pohon merupakan jenis tumbuhan tingkat tinggi yang terdiri berbagai macam spesies, ordo dan kelas-kelasnya. Pohon dengan daun berklorofil mampu menyerap karbon dioksida hasil proses pembakaran sebagai bahan baku proses fotosintesa sehingga menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan untuk pernafasan makhluk lain, termasuk manusia. Dengan demikian kebradaan pohon sangat berguna bagi keberlangsungan hidup manusia. Lalu mengapa ada pihak yang membabat alas seenak perutnya sendiri?

            Pembabatan alas menyebabkan hutan jadi gundul, hingga jika terjadi hujan deras mengakibatkan terjadinya tanah longsor, erosi tanah dan tentu saja bencana banjir bandhang. Demikian pula peran pohon di lingkungan perkotaan sangat vital untuk menyaring udara agar tercipta lingkungan sejuk dan segar. Namun yang terjadi di lingkungan kota adalah dibabatnya pepohonan tanpa proporsional yang tepat dan malah digantikan dengan pohon-pohon beton yang menambah panas udara kota.

     Keberadaan pohon di sekitar lingkungan kita harus diupayakan seimbang dengan banyaknya sebaran karbondioksida yang timbul akibat aktivitas manusia. Dengan demikian pembabatan untuk proyek tertentu tidak boleh dilakukan dengan semena-mena dan harus ada kompensasi untuk mengganti dengan pohon yang baru. Pohon sebagai sarana penghijauan lingkungan harus kembali ditanam di setiap jengkal tanah yang memungkinkannya dapat tumbuh.

           Dalam soal penanaman pohon untuk pengijauan lingkungan, barangkali sedikit kita bisa belajar dari Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul dengan program Jati Palakrami-nya. Palakrami mengandung pengertian pernikahan atau perkawinan. Lalu bagaimana hubungannya dengan jati, atau lebih jauh dengan program penghijauan?

         Sudah menjadi kebijakan pemerintah setempat yang diamini oleh masyarakat bahwasanya setiap pasangan muda yang akan melangsungkan pernikahan untuk membentuk mahligai keluarga baru diwajibkan menanam pohon jati baru minimal 2 pohon untuk masing-masing pasangan. Dan yang lebih penting, pohon tersebut tidak boleh ditebang sebelum anak-anak hasil perkawinan tersebut berusia remaja. Jenis jati yang ditanam adalah varietas jati emas, yang merupakan jenis jati unggul yang berumur genjah karena sudah layak dipanen pada usia sepuluh tahun. Dengan program ini diharapkan masyarakat dapat menghijaukan lingkungannya masing-masing dan senantiasa menjaga untuk tidak sembarangan membabat pohon seenaknya sendiri karena senantiasa dikontrol oleh para pamong desa.

         Di sisi lain, masyarakat setempat juga mempunyai kepercayaan bahwa setiap desa atau dusun harus senantiasa memelihara resan, sebuah pohon keramat yang tidak boleh disentuh-sentuh apalagi ditebang sembarangan karena diyakini sebagai tempat ruh para nenek moyang dan danyang penguasa tanah sakukuban bersemayam. Nampaknya masyarakat tradisional malah lebih berperadaban dalam bersahabat dengan pohon dan lingkungan hidup di sekitarnya dengan bertumpu pada nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwarisi secara turun temurun.

Posted by Nananging Jagad at 00:51:42 | Permalink | Comments (6)

Friday, July 21, 2006

RENUNGAN

SURUP: Bencana Tidak Mampu Mengubah Binatang Menjadi Manusia

 

Judul di atas diangkat menjadi tema pada suatu acara kajian rutin di Taman Ismail Marzuki pada Jum’at malam, 14 Juli 2006. Surup, waktu senja, merupakan suatu pertanda peralihan dari keadaan terang di siang hari menuju gelap di malam hari.

 Bila seseorang memasuki era kegelapan, paling tidak terdapat dua kemungkinan keberlanjutan peradaban hidupnya. Pertama dengan sedikit harapan yang tersisa, melihat kondisi negara kita, barangkali dalam gelap malam tersebut akan muncul secercah sinar harapan sebagai pelita penuntun agar manusia tidak salah langkah dan mampu melewati malam dengan selamat hingga menuju fajar harapan baru. Ke dua, surup bisa juga dimaknai sebagai berakhirnya suatu peradaban manusia, bisa jadi berupa kiamat nashuha(sebagaimana pernah saya tuliskan).

Bang Ali Shahab seorang putra Betawi asli dan seorang sutradara kawakan yang pernah mengusung film serial Rumah Masa Depan pada kesempatan tersebut menyampaikan, “Bencana alam beruntun yang menimpa bangsa kita hanyalah merupakan bencana yang kecil, sedangkan bencana yang jauh lebih besar dan dahsyat dampaknya adalah bencana moral”. Bencana moral menurutnya sedikit banyak merupakan dampak negatif dari penayangan berita, informasi, sinetron dan film rendahan yang belakangan banyak diproduksi atas nama komersialisasi di berbagai media negri ini.

Dalam forum yang sama sebulan sebelumnya, bertepatan dua minggu pasca gempa Jogja, sempat terlempar satu keyakinan bahwa gempa yang terjadi di Bantul merupakan awal dari gempa-gempa berikutnya yang akan datang secara beruntun paling tidak sampai kurun waktu enam bulan ke depan.

Ternyata saudaraku, dua hari baru berlalu kami mendiskusikan ‘surup’, tsunami kembali menerjang pantai selatan Jawa dan merenggut korban(lagi) terutama di Pengandaran dan Cilacap Timur.

Belum hilang keterkejutan dan rasa shock kita, gempa kembali mengguncang ujung barat Jawa pada Rabu petang disertai dengan isu tsunami, meskipun tidak terbukti terjadi. Kabar tersebut cepat menyebar terutama melalaui siaran salah satu televisi swasta kita, bahkan saya yang pada waktu tersebut berada di Surabaya dan sedang dalam perjalanan kembali ke kota setelah mengantar ‘Bapak’ ke Juanda mendapatkan kabar dari seorang rekan di Jakarta.

Dua kejadian bencana beruntun di depan mata kita, dan korban nyawapun kembali melayang. Apakah hal tersebut ada hubungannya dengan mimpi kehilangan dua gigi depan saya Senin dini hari? Nyawa-nyawa hidup seakan sudah sangat tidak berharga di republik ini. Dimana-mana seakan akan alam sudah memusuhi kita. 

Memang, jika kita sadar dan mau bercermin, apakah yang layak diberikan oleh Tuhan atas ‘setoran’ kita kepada-Nya? Bencana bahkan azab mungkin sudah sangat layak diberikan kepada bangsa kita. Hari ke hari, dari waktu ke waktu hanya maksiat dan tindakan bermoral rendah yang kita lakukan.

Manusia sudah kian terpuruk oleh perbuatannya hingga terperosok kepada kehinaan dunia binatang. Apakah tepat pengkambinghitaman tersebut? Kiai sesat mana yang mengajarkan binatang berwatak serakah? Binatang adalah makhluk yang berhenti makan ketika porsi kebutuhannya telah terpenuhi, dan mereka tidak berlebihan. Manusialah yang serakah. Manusia yang selalu lapar sehingga tidak mampu lagi membedakan makanan dengan triplek, mana empal mana aspal, mana madu mana batu. Semua ingin dimakannya. Itulah manusia.

Bencana yang sudah beruntun datang dan menjadi hidangan utama di meja makan kita, ternyata tidak pernah mampu menggerakkan hati nurani kita untuk kemudian sadar dan bangkit memperbaiki diri. Sampai kapan kita akan terpuruk di tengah peradaban global yang menggila ini?

Anugrah dan bencana adalah kehendaknya…………….kita harus tabah menghadapi. Barangkali sepenggal bait lagu Ebiet tersebut menjadi relevan kembali untuk direnungkan. Jangan ndablek rai gedhek…………..

                                                                  ********************** 

Posted by Nananging Jagad at 01:39:59 | Permalink | Comments (15)

Friday, July 14, 2006

LEGENDA

DEGAN WAHYU

Legenda Ki Ageng Pemanahan

Sebuah cerita buat priyayi mBangsari

        Dengan sepeda motor, nDoro Sinyo menjemputku sore itu untuk kemudian mengglandangku dari Gandrung menengok istananya di nDalem mBangsari. Menurut riwayat mBangsari merupakan nama daerah yang diberikan oleh para pinisepuh, yang di kemudian hari desa tersebut secara resmi berganti menjadi Desa Bulaksari. Nama resmi desa jarang disebut oleh masyarakat setempat dibandingkan mBangsari, sebuah kontradiksi kearifan masyarakat lokal yang berusaha mempertahankan historis asal usul desanya dengan kebijakan pemerintah yang seringkali tidak bijak.

Sampai di rumah nDoro Sinyo, aku langsung disambut oleh kedua Romo lan Ibunya selayaknya “priyagung” dari “kuthagara”. Dengan keramahan khas mBangsari, mereka menyuguhkan air degan lengkap dengan uba rampenya kepadaku seraya berucap untuk calon “narendra” masa depan. Begitu mendengar ungkapan narendra aku terhenyak heran dan teringat akan legenda Ki Ageng Pemanahan pendiri dinasti Mataram.

         Alkisah di masa pemerintahan Kerajaan Pajang tersebutlah dua orang sahabat karib, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa yang hidup di tengah pegunungan selatan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijoyo. Dalam satu pertapaannya Ki Ageng Giring mendapatkan ‘wahyu gagak emprit’ berwujud sebuah degan dimana barang siapa meminum air degan tersebut sekali tenggak maka anak turunnya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa.

Dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring menaruh degannya di pawon rumahnya untuk pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menenggak habis air degannya.

Tanpa diduga sebelumya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghuni. Ia kemudian njujuk ke pawon dan mendapati sebuah degan yang ranum di sebuah babagran pawon sahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakan degan tersebut bagi sang tamu yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian diboboknya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.

Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng Giring dari ladang. Ia langsung menuju pawon bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong. “Adi Pemanahan? kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya. “Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan”,jawab Ki Ageng Pemanahan. “Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah ketempuh tadi aku langsung njujug di pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.

“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”,ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”

Pemanahan kemudian menjawab, “ Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dan untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”.Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.

Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama setelah keruntuhan Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, kekuasaan berganti jalur setelah pusat pemerintahan baru berpindah ke Kartasura.

Posted by Nananging Jagad at 09:22:18 | Permalink | Comments (10)

Monday, May 29, 2006

GEMPA JOGJA

SASMITA DARI JOGJA

Berbagai kejadian bencana alam yang sangat luar biasa dan maha dahsyat nampaknya belum mampu menjadi pelajaran dan wahana mawas diri bagi manusia yang seakan buta terhadap “sasmita” dari Sang Penguasa Jagad Raya. Belum sempat hilang ingatan kita dengan berbagai rangkaian peristiwa bencana mulai dari tsunami Aceh, banjir dan tanah longsor di berbagai daerah, hingga kehebohan geliat Gunung Merapi, kita kembali terhenyak kaget dengan kedahsyatan gemba bumi yang melanda Yogyakarta pada Sabtu, 27 Mei 2006 kemarin.

Bagi sebagian masyarakat Jawa yang masih berpegang kepada mitologi “ilmu titen”, mempercayai bahwa dalam siklus selang waktu di antara 8 tahun(1windu), 32 tahun (1 zaman) dan 100 tahun (1 abad) seringkali merupakan sasmita terhadap akan terjadinya suatu peristiwa yang maha dahsyat. Adalah barangkali sosok Mbah Maridjan yang diberikan sedikit ilmu titen untuk

memahami fenomena Gunung Merapi sehingga beliau senantiasa setia terhadap tugasnya selaku juru kunci Merapi. Ketika opini publik digiring oleh media massa yang menggambarkan seolah Merapi dengan “wedhus gembelnya” seperti monster yang siap menelan banyak korban jiwa dan harta benda dari masyarakat yang berdiam di sekitarnya, beliau tetap memegang filosofisnya bahwa Merapi adalah sahabat yang sedang punya “gawe” sehingga peningkatan aktivitas dipandangnya sebagai suatu kewajaran.

Belum usai perhatian pemerintah untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan meletusnya sang Merapi, dunia dikejutkan oleh gempa yang tak pernah terlintas di benak kita akan menimpa daerah “swapraja” Ngayojakarta Hadiningrat. Dan yang lebih menakjubkan ketika kemudian gempa diketahui berpusat di dasar Laut Selatan yang secara mitologi merupakan kesatuan “kerajaan ghaib” penopang berdirinya dinasti Mataram Islam. Ketika kita menganalogikan Laut Selatan dengan Merapi, sebenarnya Laut Selatan juga mempunyai juru kunci seperti sosok Mbah Mitro yang berdiam di Ngetal Tegalarum Imogiri dan juga ada Mbah Tomo di pertapan Kembanglampir Girisekar Panggang. Adakah kedua sosok sang juru kunci tersebut sebelum peristiwa gempa menimpa menerima sasmita-sasmita sebagaimana Mbah Maridjan terhadap Merapi. Pada dasarnya setiap juru kunci merupakan tokoh sentral terhadap suatu pola kearifan lokal yang memiliki pemahaman yang “linuwih” terhadap gejala dan sifat alam yang menjadi wilayah tanggung jawabnya.

Mengingat kembali terhadap sasmita yang disampaikan oleh Mbah Tomo kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, beliau menyampaikan bahwa: “amenangi jaman edan wong cilik poyang paying, kelangan bandha tegese ora kelangan apa-apa, kelangan nyawa mung kelangan separo ananging kelangan kapercayan/kapribadhen pada karo kelangan sak kabehe….” Apakah pernyataan tersebut relevan terhadap kejadian gempa yang banyak menelan korban jiwa dan harta benda kali ini? Apakah ketika manusia sudah banyak yang meninggalkan tata nilai, norma dan kaidah hukum yang digariskan oleh Tuhan, kemudian Tuhan menyampaikan peringatan melalui berbagai gejala alam dan manusia tetap tidak menemukan arti kesadaran sejati, maka tibakah waktunya Tuhan menghukum makhluknya? Mungkin lebih bijak bagi kita untuk mencoba mawas diri dalam pengertian “mulad sarira hangrasa pribadhi” dan menanyakannya kembali kepada rumput yang bergoyang……….
Posted by Nananging Jagad at 03:16:02 | Permalink | Comments (3)

Friday, May 19, 2006

Mbah Maridjan(2)

Isih bab Mbah Maridjan….

Pancen koyone awake dhewe kudu sinau lan mahami apa sing diarani basa simbol. Babagan juru kunci kanthi umum jane nduweni teges pawongan sing tansah nguri-uri utawa mahami kahanane jaman kanthi basa kearifan lokal. Amarga deweke nduweni keluwihan anggone ngrasa rasane alam sahengga kena diarani yen paham basa alam. Alam ing kene pangertene amba, ora mung wujud pisik neng uga sakabehing kahanan kang nduweni dimensi ruang lan wektu.
Kadangkala pancen kang diarani kearifan lokal kuwi mau angel dipahami lan dionceki nganggo nalar uga pengetahuan modern. Sinau seko sosoke Mbah Maridjan, paling ora wong akeh dadi mangerteni yen sing jenenge alam, ing kene Merapi, jane nduweni basa kang alus lan kudu dingerteni kanggo njaga tata keseimbangane alam raya. Merapi najan katone mbebayani nanging beda karo sosoke teroris sing tansah ngupadi banten wong kang ora nduweni dosa, mergo Merapi jane mung nglakoni hukume alam utawa sunatullahe Gusti kang yen dipikir kanthi jero malah bakale ngenehi aset kang ora sithik tumrap masyarakat sekitare. Sepiro akehe muntahan kang awujud krikil, krakal, pasir lan uga watu kang tembene dadi panguripane para sedulur penambang pasir. Durung meneh awune kang disemburake kang minangka rabuk alami sing ningkatake kesuburane lemah kiwa tengene minangka dadi sumber penguripane kadang tani.

Kawit mbiyen mula, Mbah Maridjan tansah kritis lan tatag penemune ngenani kelestariane alam Merapi. Deweke tansah ngelingake cara penambangan pasir sing kanthi ngrusak alas nganggo “bighoe”, bab penggundulan alas nganti kedadeane Taman Nasional Gunung Merapi sing dadi keprihatinane wong akeh ing sak ngisore Merapi. Ora bosen Mbah Maridjan tansah sumanak marang kanca-kanca pendaki Merapi sing asring mampir ing omahe, tansah diwelingi yen munggah Merapi ojo nganti gawe rusake lingkungan lan tansah melu njaga kelestariane.

Mbok menawa penguripane Mbah Maridjan kang sakmadya kuwi sing njalari deweke nduweni kawicaksanan lan kawaskithan bab alam.
Muga wae kahanan iki bisa kanggo pepeling tumrape kawula dasih…….


Manungso tan keno kiniro….

Posted by Nananging Jagad at 09:54:08 | Permalink | Comments (7)

Thursday, May 18, 2006

Mbah Maridjan

Memahami fenomena Merapi dengan segala misterinya seakan tidak ada habisnya di saat kondisi gunung teraktif ini sedang bergejolak. Di samping itu Merapi tak bisa dipisahkan dengan sosok sang juru kunci Raden Ngabehi Surakso Hargo alias Mbah Maridjan. Beliau Mbah Maridjan merupakan penerus ketiga dari juru kunci Merapi sebelumnya yaitu Mbah Wonokaryo dan Mbah Sulakso Hargo.

Mbah Maridjan menempuh pembelajaran lewat proses pemagangan dari tahun 1978, sebelum dinobatkan sebagai juru kunci pada tahun 1982. Tingkat pembelajaran tertinggi yang harus dikuasai seorang juru kunci adalah mengenal, memahami dan merasakan alam semesta untuk memposisikan pengutamaan terhadap kepentingan masyarakat di atas kepentingan dan keselamatan diri sendiri.

Mengambil pembelajaran dari Merapi, melihat kondisi negara yang semakin suram dikarenakan ulah manusia yang semakin mengesampingkan tata keseimbangan dan keharmonisan alam semesta, kiranya negeri ini membutuhkan banyak sekali sosok Mbah Maridjan- Mbah Maridjan yang lain. Sosok yang berani mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang jauh lebi besar, suatu sikap patriotisme dan solidaritas yang semakin luntur di negeri yang katanya gemah ripah ini.

JER BASUKI MAWA BEA………..

Posted by Nananging Jagad at 07:21:54 | Permalink | Comments (2)