Monday, February 4, 2008

SERANGAN FAJAR

CARI TUKANG NGARIT

Thit……thirithit….thit thit, demikian pagi selepas mandi ponsel antik saya berbunyi menandakan seseorang di sebrang menghubungi. Dengan bergegas saya angkat. “Hallo?, wis tangi?”, tanya suara bertanya. “Uwis, ono opo?”, kujawab. Kemudian si penelepon berlanjut, “ Iki le ngresiki kebonan ro taman ngarep sido dilekasi, tulung sisan nggoleke tukang ngarite wong loro yo!”, perintahnya cepat seraya memutus hubungan telepon.

Jagad dewo batoro…………, saya rak kaget dan tak menyangka mendapatkan sederetan teror yang tidak saya mengerti tersebut. Saya kemudian amati nomor telepon sang komandan misterius tersebut. Dan…….saya sama sekali tidak mengenalinya. Siapakah dia gerangan, seribu tanya kemudian muncul dan bermain di benak kepala. Pagi-pagi begini disuruh cari tukang ngarit? Yo lelakon opo iki pak Mantep?

Belum genap semenit telepon putus, terdengar lagi nada panggilan. Suara di sebrang langsung menerjang kebingunganku. ” Nuwun sewu Mas, niki Sulis saking Saung Nini. Wau niku salah kontak, jane ajeng ngontak Kang Samijo ken ngresiki taman ngajengan lan sisan pados tukang kebone”. Ooo……Mas Sulis, baru ingat, saya memang mengenalnya sebagai suami Mbak Marsih anak Pak Dukuh Klapaloro I tempat KKN saya dulu. Kami memang masih terus saling berkomunikasi dan berusaha mempererat tali paseduluran. Mereka saat kini mengelola sebuah villa di depan Taman Bunga Nasional kawasan Puncak.

Dengan sisa keheranan sayapun bertanya, ”Lha kok saged kulo sing ketelpon Mas?”. ”Lha njih Mas, soale teng phonebooke jejeran je”, Mas Sulis mencoba menjelaskan. ”Oooo……ngoten, njiih mboten nopo-nopo kok Mas, niki nomer enggal njiih?, jawab saya. ”Njiiih Mas…….njing ampun supe mampir Saung Nini njih?Pareeng riyin njiih Mas!”, pamitnya. ”Njiih Mas…….monggo!!”, jawab saya seraya menutup telpon.

Kaget sekaligus nggumun…….pernahkah kisanak semua mengalami peristiwa sebagaimana  yang saya alami tersebut? Pagi buta disuruh cari tukang ngarit?
Posted by Nananging Jagad at 04:00:40 | Permalink | Comments (11)

Friday, September 7, 2007

QUO VADIS REPUBLIK BHI

VACUM OF POWER

 

Seiring terbertiknya kabar angin mengenai Sang Presiden BHI yang akan winisudo sebagai pinonganten, bagaimanakah nasib selanjutnya Republik BHI? Apakah sudah terbentuk beberapa kaukus dan kubu yang berminat untuk melengserkan keprabonan ndalem?

Nampaknya detik-detik ke depan ini akan menjadi sangat krusial dan kritis bagi eksistensi Republik BHI. Adakah suatu rentang waktu ketidakjelasan proses suksesi sehingga terdapat jeda waktu status quo? Ataukah suksesi keprabon sudah sekian lama dipikirkan oleh segenap wargo dalem, sehingga pergeseran sang penguasa akan berlangsung secara mulus dan sempurna? Tunggu saja ginarising pepesthening kang akarya jagad………… 

 

Posted by Nananging Jagad at 08:04:37 | Permalink | Comments (7)

Friday, May 4, 2007

DETIK-DETIK POLITIK

PERGESERAN PENGAGENG

Titah dalem Bu Ageng selaku pengageng di Ndalem Kebun Kacang pagi ini yang disampaikan kepada segenap cantrik adalah “Bahwa dalam rangka kelancaran tugas dan misi Ndalem KK sebagai bagian integral dan tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, perlu dilakukan reposisi para pengageng di lingkungan Ndalem KK. Oleh karena itu kepada segenap para cantrik diharapkan dalam jangka waktu 2 x 24 jam ini agar tetap siaga di posnya masing-masing”.

 

Kabinet Pertama(diambil dari id.wikipedia.org)
“Dengan demikian nantinya bila terjadi perkembangan politik yang dinamis dan berlangsung dengan sangat cepat, para cantrik dapat langsung mengetahuinya dari Bu Ageng sendiri, tanpa harus melewati orang lain atau media massa”, demikian disampaikan Kang Krisno Duto Negoro selaku juru warta Ndalem KK.
 
Para Punggawa Ndalem KK periode 2003 - 2008
 
 
AMPUUUUUN PEMRENTAH……..!!!!!!
Posted by Nananging Jagad at 01:44:26 | Permalink | Comments (24)

Thursday, March 1, 2007

Al Wudun bin Menyun

ROSO SAKIT Itu……

Al kisah sudah kurang lebih empat hari ini, saya diberi nikmat berupa sebuah miniatur gunung sisa lumpur Lapindo Brantas di janggut sisi kanan saya. Awalnya saya kira gundukan nylekit itu hanya merupakan cikal bakal sebuah jerawat yang sebenarnya jarang mendera para priyagung. Sejak hari pertama bintik kecil itu muncul, si Enjeli cucune Bu Ageng selalu mengunyel-ngunyelnya seakan mendapatkan mainan baru yang unik.

Lha kok hari-hari berikutnya bengkak itu kian membesar dan menyadikan roso kaku dan senut-senut di sekitar tulang rahang saya. Meski tanpa ada pemberitaan dari Badan Vulkanologi maupun BPPTK, saya kemudian berinisiatif melakukan investigasi akan hal apa gerangan yang telah terjadi dan langsung saya putuskan, melihat kecenderungan peningkatan gunung mini tersebut, bahwasanya saya harus memasuki kesiapan Siaga I. Yang paling nggak lazim sebenarnya adalah posisi al wudun tersebut yang mendungul di atas janggut yang ”nawon kemit” tersebut. Selidik punya selidik, sepertinya di daerah persendian rahang kanan tersebut merupakan jalur patahan yang sangat memungkinkan terjadinya tumbukan lempeng ”ngisor gulu” dan ”nduwur janggut” yang mengakibatkan pengangkatan lempeng dan timbullah apa yang disebut fenomena al wudun tersebut(ketok ngawure to…).

Mengenai fenomena al wudun sendiri hanya pernah terjadi ketika usia balita saya, itupun posisinya selalu tersembunyi di sekitar ”brokong” dan tidak pernah neko-neko bin kreatif menggusur daerah lain. Pernah dulu waktu sedang aktif-aktifnya al wudun menyerang brutu saya, sampai ditemukan beberapa deret pegunungan wudun, sehingga dengan terpaksa simbok saya melarang pakai celana dan dipakaikannya rok mbakyu saya. Sudah barang tentu hal tersebut menjadi bahan olokan dan gosip tak sedap antar tetangga. Usia saya waktu itu sekitar tiga tahunan, dan kemana-mana saya harus mbrangkang sambil ngerrok.

Ihtiar yang selalu dijalani simbok waktu itu biasanya masih dengan cara-cara tradisional warisan nenek moyang. Obat yang paling manjur katanya didudutkan pupus pohon salak untuk diambil pondoh(pangkal pupus) untuk kemudian dikunyah terus ditempelkanlah ramuan tersebut di pucuk al wudun. Resep lainnya adalah dengan ngupili al wudun minal upil(kalau nggak percaya jangan pernah nyoba). Ditunggu beberapa hari tentu al wudun tersebut akan mateng untuk diproses lebih lanjut. Terapi selanjutnya adalah pembedahan wudun dengan cara mencukilmatawudun yang berupa ”kaldera” berbentuk ”strato”, untuk kemudian melalui kawah terbuka tersebut dilakukan pemlothotan gunung dengan sadis dan ngoyo hingga menimbulkan roso sakit yang luar biasa. Dikuras sampai habis-bis darah kotor yang berwarna merah hitam pekat tersebut bersama lelehan nanah yang iiiihhhhh amit-amit medeni hiii……tapi habis itu rek, uuu… lueegone ati dan tinggal menunggu proses recovery saja.

Upaya lain yang dilakukan berkenaan dengan kehadiran al wudun biasane yang disertai dengan timbulnya berbagai pringkilan atau ”panjer” pada lekuk-lekuk persendian dekat lokasi penggunungan, seperti di sendi siku, kelek ataupun di selangkangan. Nah untuk gejala ini, dulu di kampung saya ada Mbah Dul yang sering dimintai tolong untuk mengurut mencairkan panjer tersebut. Ketika pasien datang, Mbah Dul langsung mengambil minyak, bisa minyak klentik ataupun minyak mambu, untuk mengurut pringkilan. Biasanya beliau memberitahukan berapa jumlah pringkilan, yang menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Pringkilan tersebut kemudian diurut dengan disertai pringisa  kesakitan para pasien untuk kemudian diberikan sugesti dan donga bahwa ”nggak popo lan mesti bakal waluyo jati peparinge kang sejati”. Tinggal menjalani proses resep simbok saya di atas.

Al wudun kelihatannya hanyalah penyakit sepele wal ndesit, tapi dari catatan sejarah, banyak para pemimpin dan tokoh dunia yang ternyata pernah mengalami fenomena al wuduniyyah ini. Salah satu contoh yang terkenal adalah raja ke dua Majapahit, Sang Prabu Jayanegara. Bahkan penyakit ndesit inilah yang kemudian memberikan kesempatan kepada Tabib Tanca untuk meracuni sang raja sebagai upaya nglingsir keprabon yang dipimpim oleh Kuti, seorang perwira darmaputra. Dan wal hasil sang prabupun meninggal dan tahta berhasil diduduki oleh kaum pembrontak untuk beberapa saat.

Kalau di era kemajuan sekarang ini sih fenomena al wudun tidak terlalu menjadi majalah dan lebih mudah serta praktis penangannya. Sudah banyak tersedia di pasaran obat oles berupa salep, tinggal dioles dan tunggu kempesAl wudun bin bisul……heeem, pernahkah anda mengalaminya juga???? sendiri sang gunung itu.

Posted by Nananging Jagad at 01:18:19 | Permalink | Comments (30)

Thursday, February 1, 2007

NASIONAL PUNYA

GIGI TANGGAL TIGA

(meski sekarang baru tanggal 1….:-)

Rupane tidak hanya gigi roda kereta api yang tanggal meninggalkan lintasan rel sehingga mengakibatkan anjloknya beberapa kereta belakangan ini. Si Bocah Angon cucune Bu Ageng di Ndalem Kebun Kacangpun baru-baru ini mengalami tanggal gigi.

Dan yang lebih aneh lagi secara berturut-turut gigi depan atas copot satu per satu mengikuti irama antrian penumpang busway. Minggu ke 2 Januari copot satu bagian tengah, minggu ke 3 serambi kanan, dan akhirnya di minggu ke 4 gigi pendamping kiri menyusul. Yang ngedap-edapi lagi, ketika si Bocah Angon dintaya tentang keberadaan jenazah giginya dibuang kemana, dia menjawab, “giginya sudah dikubur di tanah”.

“Kok dikubur di tanah?tidak dibuang ke atas ya?”, tanya Bang Rudi. Si Bocah Angon menjawab dengan percaya diri yang tinggi, “gigi atas lepas harus dikubur di tanah, biar gigi yang baru bisa tumbuh dan arahnya tetap ke bawah kalau gigi bawah yang copot maka harus dibuang ke atas biar gigi baru yang tumbuh bisa tetap mengarah ke atas”.

Welha dalah, bocah ini tahu juga formula mujarab warisan nenek moyang tersebut. Dan ketika Bang Rudi bertanya kepada Wan Abid sang pendekar Aceh apakah di sana juga mengerti rumus baku membuang gigi yang lepas tersebut, Wan Abid menjawab, “sama aja Bang, itu resep INDONESIA PUNYA………Welha dalah jagad dewa batara.

Posted by Nananging Jagad at 00:57:46 | Permalink | Comments (21)

Monday, January 15, 2007

HANTU DALAM KAYU

Dedicated for Mas Joko

        Salah satu sifat Allah adalah esa, atau tunggal, dalam teori fiqih disebut wahdaniyah. Oleh karena itu merupakan suatu kemustahilan jika dikatakan Tuhan berbilang atau lebih dari satu. Jika tuhan seseorang banyak, berarti dia memiliki tuhantuhantuhantuhantuhan……..jadilah hantu, kata sang begawan filsafat Damardjati Supadjar.

        Suatu malam Jum’at Kliwon dalam suatu sarasehan perbincangan di Ndalem KK, pembicaraan terseret arus suasana ke sekitar dunia perhantuan. Hantu sebenarnya satu konsep teoritis yang sudah eksis semenjak jaman klenik ala nenek moyang dulu, meskipun secara metodologis sulit dicerna dan dibuktikan secara ilmiah, namun sebagian orang mempercayainya sebagai suatu realitas dunia lain.

        Pembicaraan bermula dari pancingan saya bahwa di Ndalem KK, khususnya bilik ksatriyan di gandok utama, terdapat mitos keberadaan hantu, meskipun saya yang telah menempatinya selama dua tahunan tidak pernah sekalipun menemuinya. Mas Joko, yang kala itu baru semingguan menjadi ksatria baru di Ndalem KK, kemudian terhanyut untuk kemudian menuturkan pengalamannya melewati “malam pertama” di biliknya.

        Alkisah di tengah malam, Mas Joko sulit untuk memejamkan mata, padahal badannya sudah didera kelelahan yang teramat sangat. Balik kanan, balik kiri, guling kanan, guling kiri, namun tetap sulit untuk tertidur. Akhirnya dia memiringkan badan ke arah tembok, dengan salah satu telinga terganjal di atas bantal. Mendengarkan swaraning asepi barangkali itulah yang coba dilakukannya.

Tiba-tiba radar telinganya menangkap suara aneh……”krek…..krek….krek….kriuk….kriuk”. Degub jantungnya bertambah kencang oleh rasa mencekam dalam batinnya. Sejam dua jam suara tersebut terus berlangsung. Dengan mengumpulkan rasa keberaniannya, Mas Joko menengok ke kolong peraduannya. Tak terlihat apapun. Kemudian dengan segala kenekatan dibongkarnya kasur tidurnya, lalu ditempelkannya lekat-lekat telinganya ke galar yang ada. Suara itu bukannya kian surut, malahan semakin terdengar keras.

        Selidik punya selidik ternyata suara tersebut berasal dari dalam kayu palangan galar yang ada. Sebuah kayu sengon muda yang masih setengah basah. Akhirnya Mas Joko yakin bahwa suara tersebut bukan suara hantu, dugaannya adalah suara semacam ulat penggerek batang yang orang Ndalem Kronggahan menyebutnya “gendhon”. Diambilnya bilah palangan tersebut, kemudian dinyalakannyalah korek api untuk nylomot kayu tersebut. Pada posisi yang diperkirakan, terdengar semakin keras suara sang gendhon, lalu dengan sebilah cutter, dibedahnya kayu palangan dan ternyata benar, didapatinya gendhon sang hantu dalam kayu.

        Senin petang, 8 Januari 2007, tiba-tiba Mas Joko yang baru sempat menikmati kehangatan Ndalem KK selama sebulan, mohon pamit untuk undur diri kembali ke Jogja. Sebenare Mas Joko ini seorang keturunan wong Chino yang berasal dari Pontianak, namun karena terlanjur krasan ketika ngangsu kawruh di padhepokan UKDW, kemudian memutuskan untuk menjadi kawula dalem ing Ngayojakarta Hadiningrat. Demikian setelah berkeluarga, anak dan istrinya diboyong pula ke kawasan Kwarasan. Mas Joko pesen agar silaturahmi diantara kami dapat terus terjalin, dan apabila satu waktu ke Jogja berharap pada kami untuk dapat singgah di rompoknya. Mat jalan Mas, mugi rahayu ingkang sami pinanggih………

Posted by Nananging Jagad at 13:30:50 | Permalink | Comments (13)

Monday, December 11, 2006

PANGGILAN DARI GUNUNG

REUNI PARA PRIYAGUNG

Jum’at minggu kemarin Ndalem KK kedatangan tamu priyagung dari kampung, seorang tetangga rumah. Kedatangan sang priyagung sekedar andrawina, dolan-dolan jajah kutha nlisih kahanan donya. Tris, priyagung saya ini, putra pertama Lik Wandi, tetanggaku yang beberapa tahun silam pernah merantau di Bekasi sebagai buruh pabrik kontrak, dan kini ia ditugasi untuk ngemong kedua orang tuanya yang semakin renta di kampung selepas sang adik semata wayang ngayahi jejibahan sebagai bebentenging negara, menjadi tentara di perbatasan rimba Papua.

Sehari-semalaman kami habiskan waktu sekedar ngobrol, nanjehke kahanan ndesa tempat tinggal kami yang dua bulan lepas tidak pernah lagi kudengar kabarnya. Cerita dimulai dari meninggalnya Mbokdhe Sul akibat serangan tetanus sepuluh hari selepas riaya, dan yang membuat bertambah sedih kematian tersebut disusul oleh Mbah Sito, ibu dari Mbokdhe Sul, yang meninggal selang seminggu kemudian. Dengan demikian Pakdhe Yahman harus semakin berlara lapa dalam menjalani hidupnya seorang diri di rumahnya.

Sang priyagung melanjutkan dengan kabar beberapa kerabat dan tangga teparo yang tengah sakit, seperti simbok saya sendiri yang sudah satu minggu ini tidak beranjak dari peturon karena kelelahan yang mendera, dan mungkin akibat kejengklak di galengan beberapa waktu lalu ketika beliau tengah nggendong salak dari sawah, hal tersebut telah menyebabkan tekanan darahnya menurun drastis hingga mencapai titik 60. Lik Irah, seorang tetangga masih menggendong sebelah tangannya akibat terjatuh dari motor ketika diboncengkan Kang Samat sehabis memanen kacang panjang di sawah ngarep Pelas di pertengahan puasa kemarin. Mbah Kromo dan Lik Pingah juga masih belum tuntas penyakitnya sehingga masih harus terus kontrol ke Puskesmas dan mesti rutin minum obat.

Cerita kemudian berlanjut ke datangnya musim hujan di lereng Merapi yang senantiasa menjadi dambaan para kadang tani. Ketika lebaran kemarin saya mudik, keadaan desa begitu bero, di sana-sini kebanyakan sawah dianggurkan karena ketiadaan air irigasi. Kondisi tersebut ternyata pada saat ini belum begitu berubah, karena meski beberapa kali diguyur hujan namun belum mampu mengalirkan air di sungai-sungai sekitar dusun kami. Itu artinya harapan untuk segera nglaboh, menanam padi di sawah-sawah kami masih tertunda sesaat.

Dongeng kemudian berlanjut mengenai aktivitas sosial kemasyarakatan dusun kami. Berawal dari kegiatan masjid dan TPA kami yang mengalami pasang surut didera badai modernisasi. Bagaimana kepedulian orang tua muda sekarang begitu rendah tanggung jawabnya dalam membina dan mendidik, paring tuladha, kepada anak-anaknya untuk belajar dan beribadah di mesjid. Beberapa anak masih setia ngaji ke Kyai Abu Hasan di Pesantren Al Umar, meski madrasah kami terpaksa tutup karena ketiadaan guru pengganti setelah sang pengampu pensiun dari tugasnya. Pengajian selapanan tingkat kelurahan di setiap hari Ngad Wage sudah tidak berjalan lagi, meski pengajian rutin di Mts tiap Ngad pagi masih rutin terselenggara.

Beberapa tradisi untuk forum diskusi warga sebagai arena musyawaroh, seperti pertemuan selapanan malem Ngad Pon di rumah Pak Bayan sudah demisioner. Arisan para taruna muda tinggal sebagai ajang setor arisan saja. Di kalangan para ibu-ibu, pertemuan dasa wisma makin terseok-seok perjalanannya. Apa yang terjadi dengan dusunku?, dengan masyarakat dan rakyatku?, dengan para pamong dan prabotku?, dengan…….dan dengan ……yang lainnya???

Kisah-kisah tersebut membuat hati saya trenyuh dan bertekad untuk lebih sering lagi ngrungoke swaraning sepi wong cilik di pelosok gunung. Itu artinya saya harus mengatur waktu saya untuk sering ngarohke sedulur-sedulur tersebut, minimal menyapa dari jarak jauh melalui tali roso yang ada kalaupun tidak bisa secara rutin hadir di tengah mereka. Duh Gusti mugi Paduka paringi kekiyatan……..

Posted by Nananging Jagad at 05:37:40 | Permalink | Comments (10)

Wednesday, September 27, 2006

SAHUR BERSAMA

SAHUR Ala Ndalem Kebun Kacang

Tanpa terasa sang waktu demikian cepat merambat, sehingga dengan penuh semangat tanpa merasa berat, kami warga Ndalem KK kembali dapat menjalani ”ritual” tahunan ibadah puasa Ramadhan.

            Seperti tahun-tahun sebelumnya Bu Ageng sanantiasa menawari kami para ksatria penghuni Ndalem KK untuk andrawina, kembul bujana pada saat sahur puasa. Tentu saja bagi kami para ksatria, hal tersebut kami sambut dengan hangat dan penuh suka cita. Bagi kami semangat kebersamaan yang telah diwariskan oleh para leluhur dalam pitutur mangan ora mangan waton kumpul masih sangat membumi di relung hati kami.

Meski dari segi jumlah peserta yang mempunyai komitmen tinggi untuk nguri-uri tradisi ala Ndalem KK ini untuk tahun ini sedikit menurun, dikarenakan beberapa ksatria lama telah lengser ksatriyan manjalani tour of duty di jagad yang berbeda termasuk si Bagor keponakan Bu Ageng, paling tidak masih ada saya, Gus Puad, Wan Abid serta suadara Yerri tanpa ”Tomm”nya. Sedikit sepi memang tanpa kelakar si Bagor yang lugu dan konyol melempar omongan lugu-lugu bathoknya.

Sahur perdana selalu menjadi momen istimewa, terlebih untuk tahun ini sahur langsung dihadiri oleh sedulur Topik van Mount Island, yang sekaligus membuka ritual tahunan ini. Acara sedikit sumringah ketika Wan Abid, yang kebetulan ksatria ragil di Ndalem KK, sedikit grogi sehingga salah ambil dan memegang sendok di kedua belah tangannya, padahal lazimnya orang dhahar memegang sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. Dan yang lebih unik, hal tersebut berlangsung sekian menit tanpa disadarinya. Lucune lagi Wan Abid protes kenapa si Herman(yang waktu sekolah nilainya jelek terus sehingga harus selalu ”her”:-)) kok tidak dibangunkan, dia tidak sadar bahwa Herman mempunyai keyakinan yang berbeda dengan kami.

            Yang bagi saya sedikit mengherankan adalah perilaku Ndoro Sinyo, ksatria sebelah, yang di bulan Ruwah kemarin paling semangat bertanya apakah di Ndalem KK ada kembul bujana sahur, ternyata setiap kali dibangunkan dari sarenya selalu menjawab ”sampun saur”. Lha pripun to Ndoro jane?

Satu hal yang pasti, bahwa semangat kebersamaan dan budaya kolektivitas yang dimiliki bangsa kita sebenarnya merupakan aset dan modal yang sangat berharga bagi eksistensi sebuah peradaban bangsa. Oleh karena itu, marilah kita jadikan momentum Ramadhan 1427 H kali ini untuk kembali menggalang kemanunggalan untuk menggapai manunggaling kawula Gusti.

Posted by Nananging Jagad at 06:59:16 | Permalink | Comments (15)

Monday, July 17, 2006

RAZIA KTP

UNTUNG MASIH SLAMET….

Malam itu Sabtu dinihari sekitar pukul 01.30, saya dan seorang rekan menumpang sebuah taksi sehabis ngangsu kawruh di Taman Ismail Marzuki. Tiba-tiba laju taksi kami terhenti karena di hadapan kami, sisi kanan dan kiri jalan penuh dengan Polisi yang memberhentikan semua kendaraan yang lewat.

Seorang Polisi berpangkat bintara segera menghampiri kami dan meminta kami menunjukkan identitas kami masing-masing. Rekan saya yang membawa tas, diminta tasnya oleh Polisi tersebut untuk kemudian dibuka, diudhal-udhal dan diperiksa segala isinya, dikiranya kami bos pengedar narkoba barangkali. Bagi saya yang merasa tidak ada sesuatu yang harus kami cemaskan, tenang-tenang saja menjalani prosesi tersebut.

Ketika sampai pada giliran saya diperiksa, saya tunjukkan KTP Musiman yang sempat saya buat tahun lalu dan sudah berakhir masa berlakunya Januari kemarin. Polisi bertanya, “Lha ini KTPnya sudah kadaluwarsa Mas, ada identitas yang lain?”. Kemudian saya jawab, ” Lha iya Pak, itupun kan KTP Musiman, memang belum sempat ngurus lagi”, sambil kekeluarkan KTP yang kubawa dari kampung.

Sang Polisi bertanya lagi, “kok nggak ngurus KTP Jakarta saja, emang nggak enak tinggal dan jadi warga Jakarta?”. Saya jawab, “ya namanya masih sementara juga kok Pak di nJakarta”. Emang enak hidup di nJakarta? Saya ini sebenarnya hanya “diperjalankan” untuk sampai di ibukota ini karena tak pernah mendapatkan pilihan lain yang lebih baik, ya sebuah keterpaksaan nasib barangkali.

Akhirnya ketika Polisi tersebut mengecek namaku, dia malah tersenyum dan berkata, “lho kok namanya sama Mas?”. Saya jawab sekenanya sambil melirik nama di dadanya, “berarti barangkali kita saudara jauh Pak Sersan Nanang R”. Akhirnya sang Polisi menyampaikan komentar terakhirnya, ” identitas Mas amburadul”, sambil mempersilakan taksi kami berlalu.

Slamet…….slamet pikirku, tanpa tergugah sedikitpun nuraniku untuk kelak mengurus KTP nJakarta yang ribet prosedural administrasinya dan “mahal”. Aturan tinggal aturan selama masih dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memupuk keuntungan atas diri sendiri. So be hati-hati kalau keluar malam di ibukota.

Posted by Nananging Jagad at 02:14:14 | Permalink | Comments (15)

Friday, June 30, 2006

THEKLEK

THEKLEK ala nDalem Kebun Kacang

 

Siang-siang tanpa aktivitas di hari liburan kadang terasa gerah dan menjemukan di dalam nDalem Kebun Kacang. Untuk sekedar memanjakan mata yang terkena teror serangan kantuk, seringkali kuhabiskan waktu rebahan sambil  rengeng-rengeng campur sarinan dan membayangkan seolah klekaran di bawah sebatang waru doyong yang suejuk. Eunak hemm…….seakan tiada lagi kenikmatan dunia yang dapat melebihinya.

Suatu siang mengalunlah sebuah tembang campur sarinya Om Manthous…….” horotoyo nganggo theklek kecemplung kalen, tinimbang golek Dik, becike aluwung balen……..” kebetulan pada waktu itu nDalem kami sedang kedatangan tamu agung, si Topik teman seperjuangan di Jogja yang telah sejak lama ditasbihkan sebagai cucune Mbah Marto. Sambil ngobrol ngalor ngidul, Topik bercerita tentang keadaan Dik Fuad yang lagi nandang wuyung. Selidik punya selidik aku bertanya wanodya mana yang gerangan dapat memikat lekat hatinya Dik Fuad. Apakah si Atun, pengelola restoran Mc Atun yang selalu menjadi langganan makan malam para ksatria nDalem ini.

Kemudian Topik yang memang punya otak dan selalu otak-atik ngelmu perdetektifan dengan dibantu si Bagor, menyampaikan analisisnya. Menurut data dan fakta yang berhasil dihimpunnya dan beberapa kali mewancarai Dik Fuad, dia meyakinkan bahwa sang wanodya yang digandrungi Dik Fuad adalah seorang lulusan Pakultas Geograpi dan ternyata masih tetangga desa di pelosok Buluspesantren, Kebumen sono. Mereka bertemu secara tak sengaja pada sebuah even yang diselenggarakan di bilangan Jakarta Selatan. Disebabkan kesamaan  dan persamaan asal usul keduanya kemudian menjadi semakin akrab dan dekat, sehingga kemudian berlakulah teori atau lebih pasnya disebut kutukan para leluhur ”tresno jalaran soko kulino”. Wuaaduh………..

Mendengar cerita mengenai kisah percintaan dua insan dengan kesamaan asal usul tersebut, kemudian diinspirasi oleh lagunya Om Manthous lalu kami membangun suatu teori dan menelurkan suatu istilah bagi perjalan kisah asmara Dik Fuad sebagai ”theklek kecemplung kalen”. Secara sederhana dapat diartikan bahwa seseorang yang telah memasuki jenjang kedewasaan dan terlambat menceburkan diri dalam dunia percintaan mempunyai kecenderungan untuk mencari sang belahan jiwa dari bagian masa lalunya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memimalisir resiko dan kemungkinan terjadinya kegagalan di tengah perjalanan karena secara garis besar masing-masing pasangan telah mengetahui perjalanan hidup pasangannya dan relatif lebih mengenalnya.

Dari teori theklek kecemplung kalen tersebut, kemudian seiring berjalannya waktu, Dik Fuad menjadi semakin jarang mempunyai waktu luang bagi kebersamaan nDalem kami seperti waktu-waktu sebelumnya. Hari liburan lebih sering dihabiskannya bersama dengan sang pujaan hati, sehingga apabila ada teman yang mencarinya, kamipun menjawabnya bahwa Dik Fuad sedang sibuk dengan thekleknya. Kemudian istilah theklek mengalami pergeseran dan penyempitan makna di dalam khasanah budaya nDalem Kebun Kacang sehingga eksistensinya dipersamakan untuk menggantikan kata cewek bin themon alias kenya.

Virus theklek itupun kemudian menyebar dan menjadi perbendaharaan kata di nDalem kami. Begitupun ketika Topik mengalami ketersandungan dengan teman TTM-nya di nDalem sebelah gang, dikarenakan tragedi tembak di tempat yang sempat terjadi di sekitar perempatan BI, maka secara spontan kamipun mengistilahkannya tragedi theklek. Bang Sitepu si Direktur Bank yang Batak tulen, pernah suatu malam minggu nylonong keluar dari nDalem kami dan ketika kutanyakan mau kemana, dibilangnya ”Cari theklek, Mas………….”

        Theklekadalah cewek dan cewek adalah theklek. Tanpa maksud merendahkan derajat kaum hawa yang sama-sama selalu kami kagumi sebagai para calon ibu bagi putra-putri pertiwi. Bagi kami itulah bentuk suatu ungkapan nDalem kami yang  berakar pada budaya adiluhung leluhur kita dan merupakan ungkapan keakraban antar kami penghuni nDalem  Kebun Kacang dalam merajut kehidupan yang beragam warna. Oalaaah theklek-theklek…………..
 
Posted by Nananging Jagad at 09:07:24 | Permalink | Comments (14)