Monday, January 28, 2008

PAMBIOWORO

Wus tilair ing marcopodo kalis ing rubeda, titah dalem kang maha kuwasa, mios jaler, ing wanci lingsir wengi tabuh kalih enjing, surya 12 Suro 1941 Jawa (12 Muharam 1421 H) kaleres 21 Januari 2008 mapan ing Magelang Hadiningrat. Sang ponang jabang bayi banjur kaparingan tetenger:

RADYA HERMAWAN PUTRA

Apalah arti sebuah nama, demikian disampaikan oleh seorang simbah penyair dari masa lampau di negeri sebrang. Namun dalam hal ini sang bopo kurang berkenan dengan konsep nama tanpa makna tersebut hingga kemudian othak-athik gathuk berdasarkan wangsit wingit yang pernah diterimanya.

Nama sebagaimana tersebut di atas berasal dari dua kombinasi kata: Radyaputra + Hermawan

Tinjauan pertama:

# Radyaputra:

1. sisi keilmuan:

radya diandaikan atau dipersepsikan berasal atau mirip dengan kata radial;radiasi. Hal demikian dikarenakan kebetulan sang bopo bekerja di lingkungan medan radiasi. Radial merupakan proses pemancaran sesuatu dari suatu titik pusat pancaran tertentu ke segala penjuru secara simetris atau konvergen, bisa berupa berkas cahaya, panas, atau energi lain. Radiasi merupakan proses perpindahan energi tanpa melalui media perantara, sebagaimana energi panas matahari yang dipancarkan ke segenap penjuru Bimasakti. Oleh sebab itu diharapkan ke depan sang ponang jabang bayi yang menyandang nama tersebut dapat memancarkan nilai positif ke segala penjuru dimensi kehidupan, laksana anak matahari yang menyinari semesta sebagai sumber penghidupan bagi sesama makhluk Tuhan.

2. sisi ontologi linguistik:

menurut kamus bahasa Baoesastro(1935), radya berakar kata sama dengan radyan;rahardyan;raden. Radya atau radyan berarti kerajaan bisa juga raja itu sendiri, sedangkan rahardyan atau raden merupakan orang mempunyai sifat-sifat dapat memengku sebuah fungsi dan misi kerajaan dalam arti luas. Dengan demikian radyaputra merupakan anak kerajaan, anak bangsa, putra pertiwi yang diharapkan dapat menjunjung tinggi martabat tanah air, bangsa dan negara, dapat menghidupi kehidupan serta memayu hayuning bawana, mengasah mingising budi, lan memasuh malaning bumi. Dalam rangka mewujudkan tugas mulia tersebut sang radyaputra akan mendukung namun juga sekaligus didukung oleh sedulur sekawan keblat gangsal pancer.

Sekawan keblat yang dimaksud adalah:

a. raja; dapat berarti kesatuan dari unsur birokrat, teknokrat, alim ulama dan pemegang nilai-nilai kearifan lokal;

b. sentono dalem; diartikan sebagai trah, kerabat atau keluarga besar;

c. abdi dalem; diartikan kanca sejajar,teman karib, sahabat;

d. kawulo dalem; dimaksudkan rakyat atau masyarakat luas.

Sedangkan satu pancer kelima yang dimaksud adalah Tuhan. Dengan berusaha melaksanakan tugas mulia tersebut, diharapkan sang radyaputra kelak dapat menjadi abdi(abdullah) sekaligus manusia paripurna(insan kamil) sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan untuk memakmurkan bumi(kalifahtullah fil ardli).

3. sisi historis jagad pekeliran:

Dikisahkan bahwa Suryoputro alias Suryoatmojo alias Suryoyoga adalah anak sang Dewo Suryo yang dititipkan kelahirannya melalui telinga Dewi Kunthi sehingga dikenal juga sebagai Basukarno(basu:anak; karno:telinga). Dengan demikian lebih dari segalanya sang Basukarno adalah kakak tertua dari para Pandhawa Lima. Sesaat setelah kelahirannya, sang Basukarno dilarung atau dihanyutkan di sungai Gangga sehingga diketemukan sais kereta Prabu Radeya, kemudian diberi peparab Radeyaputra;radyaputra. Kelak di saat detik-detik menjelang meletusnya Bharatayudha, Radyaputra memilih membela tanah air yang telah menghidupinya dan kerabat yang menyantuninya yaitu Astina. Sebagai suatu strategi perang, Ibu Kunthi diperintahkan Basudewa Khrisna untuk membujuk Radyaputra agar bergabung dengan adik-adiknya di Pandhawa. Radyaputra menolak permintaan sang ibu, namun sebagai bukti kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya dan juga sebagai bukti dharma bakti kepada sang ibunda yang telah membuangnya di masa kecil, semua jimat kesaktian diserahkan kepada sang ibu demi kemenangan Pandhawa dan dia berjanji tidak akan mempergunakan senjata kunto(senjata pamungkasnya) saat menghadapi Arjuna, sehingga bahkan dia gugur di tangan Arjuna adiknya sendiri.

Dengan menyandang nama radyaputra, diharapkan kelak sang ponang jabang bayi dapat meneladani rasa narimo ing pandhum, memiliki jiwa jembar samodra, berjiwa sabar dan pemaaf sehingga tidak memiliki sifat pendendam bahkan terhadap orang yang telah menyia-nyiakannya sekalipun. Bakti kepada sang ibuadalah dharma tertinggi dengan perngorbanan segenap jiwa dan raga. Setia kepada janji dan tanah tumpah darah sampai hembusan nafas terakhir(dan memang istri Basukarno bernama Dewi Setyawati).

Tinjuan kedua:

# Hermawan:

Her, warih, tirto, banyu, atau toya adalah dasanama(synonime) dari air. Air merupakan sumber kehidupan, air sejati bersifat suci dan menyucikan. Sifat air adalah mbanyu mili, dia akan mengikuti kodrat alam sesuai perintah Tuhan. Namun ketika aliran air terbendung atau mampat, maka ia akan menjelma menjadi air bah yang sanggup meluluhlantakkan setiap penghadang dan penghalang di hadapannya.

Ma merupakan akronime dari manungso(manunggaling kridho lan roso), manusia, titah sewantah jalma limrah.

Wan adalah kata ganti kepemilikan sifat seorang pria.

Dengan demikian Hermawan dapat diartikan sebagai sosok pria yang mempunyai sifat atau perwatakan air.


Demikian othak-athik gathuk seorang bopo sebagai doa terhadap sang atmojonya agar kelak menjadi orang yang berbakti dan berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara terlebih bagi agamanya. Lepas dari segala harapan dan doa kridhaning ati ora biso mbedhah kuthaning pasthi, budi dayane menungso ora biso ngungkuli garising Kang Maha Kuwasa.

Bagaimana pendapat kisanak?

Posted by Nananging Jagad at 04:57:40 | Permalink | Comments (22)

Monday, January 14, 2008

KIAMAT SUDAH DEKAT

SI MISKIN MEMBANGUN GEDUNG TINGGI
“salah satu fenomena tanda-tanda kiamat besar”
Seminggu berlalu di mesjid sebelah diselenggarakan sebuah tausiah mengambil tema “KIAMAT SUDAH DEKAT”. Dilihat dari judulnya sekilas nampak kesan sinetron banget yo! Tapi penyampaian Subkhi Al Buchori cukup menarik dan kocak. Diawali dengan pandangan mengenai penyambutan tahun baru dengan tradisi peniupan trompetnya. Hal tersebut dinilainya sebagai menyangi malaikat Isrofil yang bertugas meniup sangkakala tanda bumi akan segera hancur musnah tiada sisa yang dikenal sebagai fenomena kiamat besar(kubra).

Beberapa tanda-tanda akan datangnya hari kiamat besar dibagi menjadi tanda-tanda besar dan kecil. Tanda besar diantaranya terbitnya matahari dari arah barat, datangnya nabi-nabi palsu, bangkitnya Nabi Isa untuk memberantas ya’juj wal ma’juj. Sedangkan tanda kecil diantaranya datangnya hujan yang tidak menyuburkan bumi, seringnya lapisan batuan bumi diguncangkan melalui gempa, banyaknya populasi perempuan dibandingkan pria, banyak ibu yang melahirkan tuannya, banyak orang miskin yang membangun gedung tinggi, dan masih ada beberapa contoh lainnya.

Hal yang menarik adalah ketika di akhir pekan kemarin saya sempat mudik, pulang kampuang di kampuang nan jauh di mato lereng Gunung Merapi. Ruar biasa….. baru sekitar tiga bulan tidak ngaruhke dusunku tercinta tersebut, sudah terdapat beberapa perubahan pemandangan yang sangat mencolok. Memasuki mulut dusun, langsung disuguhi sebuah bangunan mentereng nan menjulang tinggi yang dibangun oleh seorang “juragan baru” yang saat ini sedang mendulang won di Korea dan tengah berada di puncak karirnya. Sebuah rumah bergaya kemewahan kota dengan bertingkat tinggi.

Bergeser kira-kira 500 meter memasuki jalan utama dusun terlihat sebuah rumah setengah jadi bertingkat dua berdinding batako yang belum tersentuh plesteran. Rumah ini dibangun oleh seorang “cukong” yang mengaku sebagai pemborong yang barusan menerima uang gusuran rumahnya di Tangerang. Sang cukong kemudian mudik dan membangun rumah tersebut dengan sejumlah anggaran yang sangat fantastis yang selalu tergembar-gemborkan menjadi perbincangan warga dusun.

Kemudian tepat di ujung dusun, juga berdiri sebuah bangunan rumah bertingkat lagi, yang nampak masih jauh dari selesai. Konon rumah tersebut dibangun sebuah pasangan keluarga baru yang keduanya mantan TKI di Malaysia.

Hal penting yang menjadi keprihatinan saya sebenarnya adalah bahwa kisah pembangunan rumah-rumah gedung berukuran tinggi menjulang oleh para OKB tersebut dilatari oleh suasana keprihatinan yang terjadi di internal keluarga masing-masing. Untuk rumah yang pertama, sebuah keluarga kecil yang ditinggalkan sang kepala keluarga mengadu nasib di Korea. Kurangnya perhatian dari ayah nampaknya membuat si sulung menjadi sulit terkontrol untuk ukuran anak seusianya sehingga menjadi anak “kurang cerdas” diantara sebayanya. Dan yang lebih memrihatinkan, “tanda-tanda kepremanan” sudah nampak di depan mata. Ugal-ugalan pake motor untuk anak seusia kelas enam esde di sebuah kampung terpencil nampaknya menjadi aib tersendiri bagi sebuah keluarga. Nampaknya sang bapak di rantau sangat kurang bijak dalam “ngejor” semua kebutuhan sang anak yang berakibat menjadi bumerang di masa depan. Kejadian kedua terkait pembangunan rumah mewahnya adalah jatuhnya kurban seorang tukang bangunan akibat tersengat listrik pada saat pemasangan atap. Hal tersebut dikarenakan tinggi rumah yang menyundul kawat listrik PLN. Tak tanggung-tanggung, dua orang menjadi kurban meskipun tidak sampai meninggal, namun memerlukan perawatan di rumah sakit sekitar 2 minggu, dan hingga kini, dua bulan berselang dari kejadian naas tersebut sang tukang masih terbaring lemah di pembaringan.

Rumah tinggi ke dua juga nyundul kawat listrik PLN, namun tidak ada korban. Keprihatinan muncul karena setelah pembangunan rumah yang tidak diiringi dengan kecukupan dana pendukung membuat proyek mogol di tengah jalan, ibarat pepatah besar pasak daripada tiang. Gaji para tukang yang seharusnya dibayarkan terpaksa sampai saat ini masih diutang. Hal tersebut membuat pasangan suami istri yang baru pulang kampung setelah “sukses” menjadi orang “kaya” sering ricuh dan terjadi pertengkaran hebat yang membuat geger warga dusun. Dan sebagai puncaknya, si istri minggat dari rumah tanpa kabar jelas keberadaannya hingga kini. Dan tragisnya tiga orang anak ditinggalkan telantar, yang paling kasihan barangkali si bungsu yang baru berusia dua tahuan-an.

Rumah tinggi ke tiga tidak perlu saya lanjutnya……..gak jauh berbeda. Hal yang membuat saya nggumun, apakah fenomena OKB warga dusun kami, yang sebenarnya hanyalah orang “kere”(mohon maaf) yang sedang munggah bale tersebut ada hubungannya dengan salah satu tanda kecil akan datangnya tiupan Sang Terompet Isrofil?Bagaimana menurut kisanak sedoyo?

Posted by Nananging Jagad at 02:51:30 | Permalink | Comments (3)

Tuesday, November 27, 2007

POLLING!!!

SMS LEBARAN

Setelah bulan Syawal 1428 H berlalu sekian minggu, kiranya baru teringat bahwa pada detik-detik kedatangan Hari Raya Idhul Fitri kemarin banyak teman, rekan, dan sanak kadang serta sedulur yang berucap maaf melalui pesen cekak di ponsel. Dan berikut beberapa diantaranya ditampilkan sebagai lima sms terfavorit untuk tahun ini……..

Posisi pertama:

Warto bagyo suko ngiring condro, angruwat saliro lumunturing samodro pangaksomo, ambabar sedyo tumuju dadyo jalmo utomo….SELAMAT IDUL FITHRI 1 syawal 1428 H, sami-sami nggih, matur nuwun……..(Mas Naryo&keluarga – Bendaharawan KC Community).

Posisi ke dua:

Samo-samo…..Di sawah nan bakiambang, banyak padi nan tak mangisi, kok gawa buliah ditimbang, pado badoso ampunbawali..Mohon maaf lahir bathin…..(Mas Budi – nDalem KK).

Posisi ke tiga:

Lontong kramat campur tahu, nggowo kupat kecemplung santen, bodo jum’at nopo setu, sdoyo lepat nyuwun pangapunten…….(Febri+keluarga – Kebumen).

Posisi ke empat:

Anak kodok makan ketupat, makan ketupat sambil melompat, berjabat tangan kagak sempat-sempat, sms-pun no what-what…Selamat Idul Fitri 1428 H Mhn maaf lhr btn…….(Idin – Ex4Bhe)

Posisi ke lima:

 Harga paling berharga adalah sabar, dulur paling setia adalah amal,  ibadah paling indah adalah ikhlas, pekerjaan paling terpuji adalah memaafkan. Minal aidin wal faizin……(Lik Tangerang)

Posted by Nananging Jagad at 00:52:53 | Permalink | Comments (5)

Friday, August 24, 2007

PITULASAN ala nDALEM KRONGGAHAN

PITULASAN - Lutungan

Pitulasan, begitulah ungkapan para simbah di dusun kami meyebut peringatan HUT Kemerdekaan RI setiap tahunnya. Dan alhamdulillah, tidak seperti tahun kemarin, pada pitulasan kali ini saya berkesempatan bali ndeso untuk ikut mangayubagyo. Tiba di ndalem romo petang menjelang maghrib. Tanpa dinyana Mbah Soma, tetangga samping rumah kami yang baru saja mudik setelah sekian lama menetap di Lampung, manyambut saya.

Mbah Soma sudah sudo rungon, tak mampu lagi mempergunakan indra pendengarnya secara optimal, sehingga beliau seringkali bicara ndleming tanpa peduli lawan bicara. Secara berapi-api Mbah Soma langsung memulai cerita historik mengenai perjuangang melawan Londo. ” Jaman mbiyen aku melu berjuang. Dhek jamane Jepang ono hero, PETA, sukarela,lha aku melu sukarela.” begitu ungkap beliau. Sukarela di sini maksudnya adalah para petani yang dipekerjakan untuk romusha.

Yang luar biasa dari simbah satu ini adalah meski usianya sudah udzur, 106 tahun, namun semangat beliau untuk rutin berjaah lima waktu di mesjid sangat tinggi. Meski jalan sudah thuyuk-thuyuk ngandhong opo mbecak paribasane, namun beliau selalu mewasiatkan kepada anak cucu agar rajin belajar dan mengaji. Hanya dengan bekal agama dan kemuliaan budi pekertilah manusia akan dapat berguna bagi nusa, bangsa dan agama sehingga dapat mikul dhuwur mendhem jero terhadap kedua orang tuanya.

Sebagai tradisi di dusun kami setiap pitulasan adalah acara lutungan. Lutungan di tempat lain lebih dikenal sebagai panjat pinang. Hanya saja ada yang sedikit berbeda dan unik dari acara lutungan kami. Para lutung, pemanjat jambe, berkostum hitam areng, dan dicat warna-warni, dan beberapa mengeanakan topeng buto, cakil dll. Para lutung berjoged ria dengan diiringi alunan gamelan ala kubro siswo dengan nyanyian lagu-lagu perjuangan dan dakwah islam. Saking barasyik mashuknya para lutung, tak jarang banyak yang sampai ndadi dan tak kalah hebat dengan pemain jathilan. Mereka bisa memecah kelapa, makan beling, minum air kembang dll. Para lutung berjoged mengelilingi jambe dan satu dua memanjat pinang licin setinggi sekitar 15 meter. Hadiah di atas menunggu, diantarane kaos, sepatu, voucer, olie, krupuk, slondhok dll. Acara berlangsung meriah dan banyak penonton dari desa lain dengan seksama menyaksikan sampai acara berakhir di jam 12 malam.

Satu hal perenungan, apakah sebenarnya kita sudah merdeka? merdeka dari kemiskinan, dari kebodohan dan keterbelakangan???? Jawabnya tentu belum. Bahkan bangsa kita tidak semakin dewasa untuk memperkuat persatuan. Kita semakin terpecah belah dan mementingkan kroni, golongan, suku dan kelompok masing-masing. Haruskan kita dijajah secara politik olah bangsa lain lagi untuk bisa bersatu sebagaimana angkatan 45? JIka memang demikan monggo kita sowan bareng-bareng ke Ratu Yuliana dan ucapkan ” mbok monggo negari kulo dipun jajah malih!!!!”.

Ampuuun pemrentah……….!!!!!!!!

 

Posted by Nananging Jagad at 05:04:10 | Permalink | Comments (5)

Friday, May 11, 2007

Janoko Mulih Ndeso

Gumrenggeng swaraning pradangga hangampak-ampak ing katebihan hangebeki sajruning karang pradesan. Duk rikala semanten, tan kocapo carita Bathara Kamajaya kairing sisihanipun nun ninggih Dewi Ratih tumedhak mandhap ing tlatah Magelang Hadiningrat. Negari ingkang hapunjung pasir wukir, rinengkuh ing restuning Kang Murbeng Dumadi dadosa negari ingkang ijo royo-royo gemah ripah iman cemerlang kang dadi semboyane.

Nyuwun tambahing pangestu

Badhe hanglampahi gesang engggal ing madyaning bebrayan agung,

Nananging Jagad & Nininging Jagad

MAGELANG, 19 Mei 2007

Sabtu Legi, 2 Jumadil Awal 1940 EHE

Tabuh wanci jam 10.00 WIB 

 

Ing Tlatah Erenge Redi Merapi

Kronggahan Polengan Srumbung MAGELANG GEMILANG

Nuwun,

Posted by Nananging Jagad at 01:36:56 | Permalink | Comments (33)

Monday, April 9, 2007

PESTA RAKYAT

PILKADES

Secara serentak di wilayah Kecamatan Srumbung, tanah leluhur kami, akan diadakan Pemilihan Kepala Desa pada bulan depan. Pilkades merupakan embrio pemilihan secara langsung baik di tingkat negara, provinsi, ataupun kabupaten/kota. Penyelenggaraan pilkades secara serentak tersebut barangkali salah satu alasannya untuk mengurangi para pebotoh “judi” beraksi. Tahapan pelaksanaan pilkades pada saat ini berkisar pada pendaftaran balon Kades.

Yang paling unik, ketika saya mendaratkan kaki di kampung halaman, Simbok langsung bertutur bahwasanya beberapa hari yang lalu telah datang beberapa tokoh dan perwakilan masyarakat di desa kami untuk berembug tuwo melamar salah seorang anak Simbok untuk ikut mencalonkan diri, magang sebagai calon lurah. Dan yang lebih aneh lagi, anak Simbok yang dipilih tersebut tidak lain dan bukan adalah diri saya sendiri. Wuaaaduh???

Apakah model dapur saya ini ada potongan jadi pamong? Apakah pamor saya sudah sejajar dengan Ki Lurah Semar atau setidaknya Kang Bagong? Pripun niki para sutresno?

Posted by Nananging Jagad at 05:13:58 | Permalink | Comments (21)

Wednesday, January 17, 2007

PLESIRAN BOCAH GUNUNG

Tour de Djakarta,

        Dua hari berturut-turut ini serombongan siswa sebuah SMP dari lereng Gunung Merapi sejumlah tiga buah bus berdarma wisata di ibukota Njakarta Hadiningrat. Bagai melakukan ritual “angon bocah” sejumlah guru turut mendampingi rombongan tersebut. Saya yang sudah beberapa tahun ini terbuang dari kumpulannya, ikut ngenger ngudi upo di ibukota, kemarin petang kedhapuk untuk bertemu mereka di Wisma PHI Cempaka Mas.

          Pertemuan tersebut sekedar tombo kangen dan ngaruhke beberapa siswa yang kebetulan tetangga sebelah rumah di Ndalem Kronggahan. Si bocah gaul Hendi, anaknya Lik Hari terlihat surprise menjumpai saya di ruang depan wisma. Hendi adalah sebagian aset dusun kami yang telah ikut tergilas gelombang modernitas yang melanda pelosok gunung melalui tayangan sinetron bubrahnya. Hal tersebut dapat saya amati dari cara si bocah berpakaian dan potongan rambutnya yang disisir jari semi ngepang, menjulang vertikal bak penangkal petir.

           Hendi merupakan bocah yang longgor, ukuran tubuhnya subur untuk anak seusianya. Yang agak nyentrik lagi adalah kemampuan berpikirnya yang sangat jauh di bawah teman-temannya. Suata hari ketika dia baru memasuki sekolah barunya yang lumayan jauh dari dusun kami, sekitar 3 km, yang biasa ditempuh orang dengan by sikil, sepulang jam sekolah ketika mau pulang dia lupa jalan. Dia hanya mengikuti seseorang di depannya, hingga sampai ke dusun lain di seberang sungai Putih. Akhirnya dia hanya mringis karena kesasar tak tahu arah. Seorang petani di tepi jalan kemudian menanyainya, dan atas jasa baiknya diantarlah si Hendi pulang.

            Dia selalu nglucu, kalau menjawab soal ulangan yang tak bisa dijawabnya. Siswa lain barangkali kalau tidak bisa menjawab soal hanya mengumpulkan lembar jawaban kosong. Lain halnya si Hendi, dia akan meracau menulis seenak perutnya hingga membuat sang guru mrengut memikirkan tingkahnya. Seringkali dia menulis, “jawabe opo hayo bu guru?”,”yang bener si anu dan si ani pasti sering ihik…ihik”, atau “ah soal begini kok diteskan to?”, dan kadang tak jarang muncul ideom saru tumpahan curahan otaknya. Hal itulah yang menyebabkannya menjadi langganan tamu guru BPne. Kasihan memang….catatan akademiknya begitu memprihatinnya, sehingga sebenarnya dia seringkali tak layak untuk naik kelas. Lik Irah, ibunya seringkali bercerita kepada saya, bila satu waktu kebetulan saya pulang kampung.

            Cerita para bocah kemarin diwarnai oleh kegumunan mereka mengenai Jakarta. Jalan-jalane, gedung-gedunge, air mancur, Monas, taman mini, Ancol dll. Hal ini memang tak beda dengan diri saya yang selalu nggumun akan Njkarta, bahkan sampai saat ini. Bagi kebanyakan anak kampung, Njakarta terlalu mewah dan glamor, mereka kadang tidak pernah berpikir bahwa Njakarta banyak menyimpan berjuta masalah sosial dan moral. Kota ini tidak ada apa-apanya dengan ketentraman hidup yang selama ini direguknya dalam kesejukan alam Merapi.

Donya pancen tan kena kinira…………ampun pemrentah!!!! 

Posted by Nananging Jagad at 06:13:35 | Permalink | Comments (10)

Thursday, January 4, 2007

SALAH TANGKAP

Kisah di malam Tahun Baru…..

            Tahun baru biasanya selalu dinantikan oleh setiap orang dengan tradisinya masing-masing. Ada yang melakukan tirakatan dan lek-lekan ala Ndalem Kronggahan, tiup terompet ala bangsawan kuthagara, pesta kembang api model Ancol, dan satu lagi yang pasti tidur nglengkur gaya Wonogalih yang saya amalkan.

Bukan karena apa-apa di malam tahun baru kemarin saya tidur lebih awal habis Isya’, tetapi karena sirah ini terus cenut-cenut akibat gempuran serangan sekawanan tawon ndas yang menyarangkan rudalnya di pelipis kiri saya. Persitiwanya terjadi di siang harinya, ketika selesai menyembelih sapi hewan kurban, kemudian simbok memintaku menemaninya ngundhuh salak di tegal. Ketika sedang mapras dahan salak, yang ternyata tanpa saya ketahui ada sarang tawon ndas sebesar kendi, walhasil sang tawon merasa tersinggung dan langsung mubal menyerang saya. Tak kurang dari tiga antupan mengenai pelipisku, dan sudah pasti meninggalkan aboh dan rasa kecenutan.

Kisah antik lainnya dialami Mas Ipar saya yang kebetulan di malam tahun baru tersebut kehabisan pulsa phonselnya sehingga terpaksa keluar rumah sekitar jam 20.00. Setelah membeli pulsa di sebuah wartel perempatan Tuguran, samping Secaba Rindam IV/Diponegoro, tiba-tiba HPnya berdering dan langsung dijawabnya.

“Ning ngomah ora Mas?”, tanya si Ahmad di seberang.

“Iki lagi golek pulsa, sedelo ngkas yo mulih, langsung wae dinteni ngomah yo!, jawab Mas Ipe.

“Yoo……..”, sahut si Ahmad.

Belum sempat menutup telpon, tiba-tiba datang tiga orang menyergap Mas Ipe dan berteriak “jangan bergerak!!!”.

“Ono opo iki?”, tanya Mas Ipe sedikit gugup karena kaget.

“Jangan banyak tanya….”, jawab seorang diantara penyergap dan yang lainnya berusaha meraih kunci sepeda motor, satu orang lainnya menarik tangan Mas Ipe ke belakang punggung.

Mas Ipe sedikit berontak sambil berusaha menjelaskan, “kalau mau tangkap saya, lapor dulu sama komandan saya, jangan sembarangan begini”.

Seorang polisi keluar dari sebuah mobil di tepian jalan sambil menggandeng seorang yang diborgol, kemudian berjalan mendekati posisi penangkapan Mas Ipe.

“Bukan ini Pak.”, kata orang yang diborgol.

Rupanya orang diborgol tersebut merupakan merupakan penunjuk jalan bagi satuan regu anti narkoba Polda DIY yang mendapatkan kabar akan terjadi sebuah transaksi narkoba di Magelang. Menurut Polisi tersebut sang tersangka mengendarai sepeda motor hitam, memakai celana hitam, berjaket coklat dan berhelm cakil, persis yang dikenakan Mas Ipe. Ketika Mas Ipe keluar wartel dan menerima telpon si Ahmad, rupanya teman tersangka, si penunjuk jalan, disuruh oleh Polisi untuk menelpon tersangka, dan ndilalahnya Mas Ipe juga langsung angkat HP.

Akhirnya kesalahpahaman tersebut dapat diklarifikasi, dan Mas Ipe menjelaskan bahwa dirinya merupakan anggota kesatuan Rindam IV/Diponegoro, dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, segera Kanit Narkoba Polda DIY yang mengkomandoi langsung minta maaf dan segera pamit tanpa mendapatkan orang yang diincarnya.

Beberapa saat berselang, sekawanan siswa dan pengajar Secaba berlarian keluar ksatriaan sambil berteriak “Pak Sakimun diajar wong ning prapatan, ayo cepet-cepet”. “ Sopo sing kurang ngajar?”, tanya beberapa rekan Mas Ipe.

“ Rapopo kok, mung salah tangkap, Pulisine wis lunga”, jawab Mas Ipe lugas.

Untung satuan unit Polisi kesasar tersebut sudah sempat pergi, kalau tidak barangkali akan terjadi lagi tawuran antara tentara dan polisi sebagaimana pernah terjadi di beberapa sudut tanah air. Mulane ati-ati dalam bertindak, ampun grusa-grusu Pak Pulisi!!!

Posted by Nananging Jagad at 07:01:09 | Permalink | Comments (17)