SEPUTAR PATBHE
ANJAS ALIAS SARJANA
Pagi buta itu masih menjelang waktu Subuh, sekitar jam 04.00 di awal Mei 2006 tiba-tiba aku tersentak bangun karena dikejutkan oleh deringan telepon. Sambil masih tergagap, aku angkat telepon tersebut. “Assalamu’alaikum, selamat pagi”, terdengar seseorang di seberang menyapaku. Si Pemilik suara memperkenalkan diri sebagai temannya Pak Sarjana. Yang terlintas di benakku langsung Pak Sarjana orang kepegawaian di tempatku bekerja. “Namun ada apa gerangan beliau yang tidak pernah sama sekali mengontakku, kali itu melakukan serangan fajar kepadaku”, pikirku.
Sejenak kemudian suara di seberang berganti menjadi suara yang samar aku kenal. “Assalamu’alaikum, ane teman SMA sampeyan dan sory sudah mengganggu istirahatnya”,katanya. Oooo alah rupanya ini si Sarjana, teman SMA di Jogja yang sekarang makarya sebagai tentor di salah satu lembaga bimbingan belajar di Serang. Dia kemudian melanjutkan bicara, “Insya Allah Ane mau nikah pertengahan bulan ini”. Aku kemudian bertanya, “Ane siapa yang mau nikah?” Dia menjawab, “ Ane, aku Sarjana”. Oo Ane itu Sarjana, karena setahuku temanku ini namanya hanya Sarjana tidak pake ane-ane segala, dasar cah ndeso. nJakarta memang telah banyak mengubah orang, ruar biasa.

Inti dari kabar tersebut hanya memberitahukan bahwa temanku itu akan nikah dan teman-teman di Jakarta kalau mempunyai waktu luang diminta datang ke resepsinya di kota Labuan-Banten dan ia meminta kepadaku untuk mengabarkannya kepada teman-teman yang lain.
Beberapa hari kemudian kabar tersebut aku tindak lanjuti dengan menghubungi beberapa teman diantaranya Heri, Idin, Mr Bean, Sarmin, serta Fuad dan Topik mantan cantrik Al Hasanah. Sambil memberi kabar kepada teman yang lain tersebut, aku juga mengontak si Rina teman yang tinggal di Serang dan kebetulan seprofesi dengan Jana untuk menanyakan kebenaran kabar tersebut dan meminta keterangan lebih detail mengenai hari pelaksanaan Sarjana krama. Akhirnya tiga hari kemudian Rina memberi kabar bahwa perhelatan Sarjana krama akan diselenggarakan hari Ahad, 14 Mei di Labuan.

Di hari H akhirnya rombongan kami memulai perjalanan dari nDalem Kebun Kacang dengan kendaraan umum. Tim perwakilan ExCyclone yang bisa berangkat terdiri aku, Heri. Lik Sarmin, Mr Bean dan Topik. Lima jam perjalanan kami tempuh menuju tempat hajatan tersebut. Sesampainya di pelataran sebuah keramaian hajatan, sesuai dengan data, peta dan petunjuk dari Rina, kami bertanya kepada sang juru parkir untuk memastikan bahwa tujuan kami tidak salah.
Kemudian kami masuk ke tempat penerima tamu dan mengisi buku tamu serta masing-masing menerima sebuah cenderamata. Teman-teman semua tersentak kaget begitu membaca tulisan yang ada pada cenderamata tersebut. Di situ tercantum nama mempelai pria Anjas Sarjana, wuaaduh….. Hal tersebut membuat kami sedikit panik apakah benar itu teman kami. Aku terus nekat memasuki perhelatan diikuti teman-teman. Begitu memasuki ruang utama terlihat seseoarang yang aku kenal sebagai kakak Sarjana sehingga sirnalah keraguan kami akan nama Anjas Sarjana. Tapi mengapa pake ANJAS?bahkan sang kakak ikutan menambahkan dengan nada guyon matonnya Anjas puja adinda (anjas putra jawa akad nikah dengan gadis Sunda). Puyeeeeng deh kami……
Sebuah pertanyaan yang sangat sulit menemukan sekedar sebuah pembenaran, bahkan hal tersebut mengkondisikan kami untuk lebih jauh menyusun daftar pertanyaan lanjutan. Apakah teman satu ini sebegitu kurang percaya dirinya dengan nama Sarjana pemberian simboknya nun jauh di tepi Progo sana? Ataukah memang simboknya telah merakit jenang abang dan merestui pemakaian kata anjas? Apakah untuk dikatakan lebih keren dan gaul kita harus melupakan sejarah dan asal-usul kita? Apakah ini merupakan tuntutan globalisasi?ataukah sang teman telah bermutasi dan menjadi jenis mutan baru?Ataukah ini memang sudah menjadi keharusan jaman?

Manusia memang serba tidak bisa diduga. Sarjana yang dulu kami kenal sangat lugu dan teguh memegang suatu identitas karakter ternyata luntur juga oleh arus peradaban nJakarta dan teronggok sebagai Homo Jakartensis versi baru. Jakarta memang kejam. “Oooalah Jono-jono………..DODOL”,umpat Topik muda.