Akhir Mei 2006 merupakan hari yang ditunggu oleh sekian juta warga urban nJakarta dikarenakan selang waktu tersebut, berdasarkan SKB Tiga Menteri telah ditetapkan sebagai hari cuti bersama bertepatan dengan Hari Kenaikan Isa Almasih yang jatuh pada hari Kamis 25 Mei 2006, sehingga empat hari berturut-turut merupakan hari libur. Bagi warga urban waktu tersebut jelas akan dimanfaatkan untuk mudik ke tanah halaman nun jauh di pedalaman Jawa. Begitu halnya dengan Kang Paijo, jauh hari ia telah mempersiapkan segenap uba rampe untuk menengok sang buah hati yang selama ini terpaksa dititipkan kepada mertuanya di kawasan Piyungan, mBantul, wilayah Mataram. Dikarenakan sang istri Kang Paijo yang bekerja sebagai pegawai partikelir di salah satu perusahaan nJakarta sehingga dengan agak berberat hati ia menunda kepulangannya hingga Jum’at petang.
Dengan semangat empat lima, suami istri Kang Paijo bagaikan Batara Kama dan Dewi Ratih yang nampak bahagia akan bertemu dengan si buah hati, beriringan budhal dari ndalem “Kapaijan” menuju sebuah stasiun kereta yang akan membawanya ke Jogja.
Singkat cerita pada pada Sabtu, 27 Mei 2006 jam 08.30 WIB, bertepatan hari terjadinya gempa, kereta yang dinaiki Kang Paijo and his wife, tiba di stasiun Lempuyangan. Semenjak dalam perjalanan kereta memasuki Kutoarjo, telah terdengar kasak-kusuk bahwa telah terjadi gempa skala besar di Jogja, sehingga ketika kereta tiba orang menjadi antusias untuk segera turun dan mencari informasi yang lebih benar tentang kejadian gempa tersebut.
Rupanya pada sekitar pukul 08.00 WIB telah terjadi gempa susulan dan gawatnya disertai dengan isu akan terjadinya tsunami. Isu tersebut membuat warga mBantul dan Jogja panik dan semua bergerak menuju ke arah utara mencari daerah yang lebih tinggi dan aman. Mereka tak peduli lagi dengan rumah dan harta benda mereka yang porak poranda oleh gempa pertama, bahkan korban sanak keluarga yang tertimbun runtuhan bangunan, baik yang telah meninggal ataupun yang masih hidup ditinggal begitu saja.
Begitupun di sekitar stasiun Lempuyangan di kala Kang Paijo tiba, suasana jalanan hiruk pikuk oleh kepanikan warga. Kang Paijo keluar dari area stasiun dan berusaha mencari bus angkutan yang bisa mengantarnya ke kawasan perempatan ring road – Jalan Wonosari. Namun dalam kondisi kacau balau ternyata tak satupun bus kota yang biasa menjadi tumpangannya nongol, bahkan jalanan dipadati kendaraan pribadi yang saling berebut jalan menuju kawasan utara. Kang Paijo tetap bertekad bahwa dirinya harus melanjutkan perjalanan ke Piyungan untuk mengetahui kondisi anak, mertua dan rumahnya. Stelah berjalan ke arah Pasar Lempuyangan akhirnya ia mendapatkan becak yang disewanya menuju daerah Kusumanegara dengan harapan di sana masih beroperasi bsu kota. Arah Jalan Hayam Wuruk – Gadjah Mada dilaluinya dengan tersendat dan perlahan karena suasana hiruk pikuk kemacetan yang sangat parah.
Akhirnya begitu sampai di kawasan Jalan Kusumanegara di daerah pertigaan Taman Siswa, Kang Paijo turun dari becak untuk kemudian berjalan ke arah timur dengan harapan dapat bertemu dengan bus kota yang menuju arah Jalan Wonosari. Harapan yang sia-sia dalam kodisi demikian, karena suasana di kanan kiri jalan sebagian besar dipadati warga yang hilir mudik tak karuan dan beberapa orang yang duduk seakan cemas dan kebingungan mengkhawatirkan keluarganya. Bahkan di sekitar Puro Pakualaman dilihatnya banyak para korban gempa terluka banyak dirawat sementara di tepian jalan.
Perjalanan berlangsung sampai sekitar kawasan Balai Kota Timoho dimana di kanan kiri jalan dilihatnya banyak rumah yang rontok gentengnya dan retak di beberapa bagian bangunannya, kemudian Kang Paijo menyewa becak lagi untuk melanjutkan perjalanan. Kang paijo inginya becak tersebut dapat mengantarnya langsung sampai ke rumahnya walaupun dengan biaya mahal karena dilihatnya armada angkutan umum sudah tidak ada yang beroperasi. “Seratus ribu!”, kata Kang Paijo meyakinkan, tetapi si abang becak tidak mau karena merasa tidak berani dengan kondisi yang semrawut di wilayah itu. Akhirnya wilayah Rejowinangun dilewatinya dengan suasana yang tidak berubah, kepanikan warga dimana-mana.
Tiba di Jalan Wonosari, Kang Paijo berusaha lagi mencari kendaraan alternatif untuk melanjutkan perjalanan. Tukang ojeg yang biasa mangkal sudah bubar bagai hilang entah kemana. Cari-mencari lagi akhirnya dapat becak lagi, sehingga untuk ketiga kalinya pasangan sarimbit ini mbecak maning. Perjalanan seakan dijalani dengan lamban bergulir diiringi gejolak pikiran yang harap-harap cemas akan kondisi keluarga. Akhirnya Stasiun JogjaTV dilewatinya, kemudian berbelok ke kanan dan kurang lebih 2 km sampailah Kang Paijo di kediaman sang mertua. Lega namun juga khawatir dan penuh tanda tanya, “untung masih ada becak, matur nuwun Pak Becak”, batinnya.
Porak poranda, begitulah pemandangan yang dilihatnya. Secara spontan Kang Paijo langsung lari menuju puing-puing rumah dan berusaha mencari lokasi bekas kamar anaknya karena rasa khawatir yang teramat sangat. Namun di berbagai sudut puing rumahnya ia tidak menemukan siapapun. Seorang tetangga memberitahukan bahwa anak dan keluarga mertuanya semua selamat dan mereka mengungsi menuju ke arah Jalan raya Wonosari. Legalah hati Kang Paijo mendengar keterangan tetangga tersebut, dalam batin ia mengucap puji syukur kepada Tuhan karena nasib baik masih menyertai keluarganya.
Dengan sepeda motor pinjaman seorang tetangga, Kang Paijo sarimbit mencoba menuju arah jalan raya untuk mencari rombongan pengungsi dari kampungnya. Akhirnya tak begitu lama dan tanpa kesulitan yang berarti, rombongan yang dimaksud berhasil ditemukannya di tepian jalan raya dan beberapa warga berada di tengah tegalan. Terharu dan trenyuh, itulah yang dirasakan dalam pertemuan suatu keluarga yang baru selamat dari ancaman bencana yang membawa maut tersebut. Gempa susulan masih terus berlangsung hingga menjelang senja sehingga warga kampung Kang Paijo terpaksa membangun tenda darurat di tengah tegalan dengan penerangan seadanya. Malam berlangsung dalam suasana mencekam dan basah kuyup oleh cucuran air hujan yang cukup deras mengguyur bumi Mataram waktu itu. Hal tersebut masih berlangsung untuk beberapa hari seiring datangnya bala bantuan dari para dermawan
Menimbang kondisi rumah yang ambruk dan tidak dapat ditempati, akhirnya Kang Paijo memutuskan secara bulat untuk memboyong anak dan mertuanya sementara waktu untuk tinggal di nJakarta saja. Barangkali masih banyak Kang Paijo yang lain yang terpaksa harus berprihatin dan tancut taliwanda lagi untuk bangkit dari keterpurukan bencana. Namun setidaknya dari bencana yang terjadi kita bersama bisa bercermin dan memperkokoh lagi tali persaudaraan, kebersamaan dan rasa solidaritas kemanusian yang seakan banyak dilupakan orang. Mangan ora mangan waton kumpul……………………