Thursday, November 1, 2007

NATURALIS MISTIS

RINGIN - Simbol Nan Kaya Makna
Orang Jawa menyebut pohon beringin sebagai ringin. Semenjak jaman awal sejarah di era animismedan dinamisme tradisional, pohon ini merupakan simbol bagi suatu persemayaman roh para leluhur. Berawal dari situlah kemudian keberadaan pohon ini pada suatu tempat tertentu dianggap sebagai papan yang angker, wingit atau papan kiwo, karena jarang orang mendekatinya. Dengan demikian nampaknya kurang begitu mengena ketika pohon ini dipilih sebagai simbol persatuan dalam sila ke tiga Pencasila.

Setelah era pencerahan dengan hadirnya agama dengan sistem monoteisme, ternyata tidak bisa menghapus secara tuntas ritus dan situs ringin sebagai simbol keangkeran tempat bersemayamnya roh halus dan para setan jin parayangan beserta danyang pengauasa alam gaib. Bahkan di pelosok Gunung Kidul Selatan, masyarakat setempat masih mengagungkan dan memuja beberapa ringin yang dijadikan resan oleh warga setempat. Setiap dusun di daerah tersebut memiliki papan keramat tempat bersemayam roh danyang dusun, dapat berupa batu besar yang disebut watu dukun atau pohon besar tertentu yang disebut resan.



Resan merupakan tempat melakukan ritus pemujaan dan persembahan sesaji. Di sanalah orang yang akan mempunyai hajatan meminta restu para danyang, bahkan untuk sekedar urusan turnamen sepak bola antar kecamatan pada saat bersih dusun atau rasulan yang diselenggarakan tiap tahun, harus juga meminta restu untuk kemenangan timnya. Bahkan untuk orang yang sakit juga dicarikan tombo di bawah resan tersebut.


Dalam setiap tata kota sebuah kedaton di Jawa, dua buah ringin selalu ditanam di tengah alun-alun yang kemudian karena dipagari disebut sebagai ringin kurung. Dua ringin di alun-alun kraton Jogja misalnya disebut sebagai Dewandaru dan Kalpataru, merupakan simbol dua dimensi kehidupan manusia. Dimensi vertikal menyangkut hubungan manusia dengan Sang Khalik dan dimensi horisontal menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya, baik makhluk hidup maupun lingkungan alam semesta. Pesan yang ingin disampaikan adalah perlu ada keseimbangan tata kelola hubungan yang harmonis diantara keduanya bagi terciptanya keselarasan hidup.


Namun demikian memang seringkali nuansa mistis yang malah menjadi fokus perhatian masyarakat terhadap pohon ringin. Hal serupa tampak jelas terhadap ringin kurung di alun-alun selatan kraton Jogja sendiri yang diyakini sebagai tempat bersemayam para jin. Nuansa mistis tersebut diaktualisasikan dalam wujud tantangan masangin, dimana seseorang berjalan lurus dari sisi utara ringin dengan mata tertutup untuk melewati sisi tengah diantara dua ringin kurung. Dan ternyata tidak semua orang bisa melewati jalur tersebut dengan benar, konon bila seseorang memiliki hati nurani yang tercemar atau tidak bersih akan diganggu jin sehingga jalannya menjadi berbelok.

Terlepas dari nuansa mistik beraroma syirik tersebut, sebenarnya banyak ahli sejarah berpendapat bahwasanya dikeramatkannya suatu pohon, hutan atau sungai tertentu oleh nenek moyang kita merupakan suatu pesan moral atau sasmita untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup bagi tetap terciptanya keseimbangan alam. Sebagaimana pernah ditulis pada sebuah cerpen Kuntowijoyo mengenai sebuah pohon ringin kramat di lereng Gunung Lawu, yang ketika kemudian ditebang oleh para agamawan, menyebabkan sumber air kehidupan bagi desa tersebut mati sehingga terjadilah kekeringan akibat terganggunnya harmonisasi alam.


Bagaimana pula dengan nasib ringin di kota megapolitan Njakarta Hadiningrat. Ternyata tidak begitu berbeda dengan kepercayaan di daerah. Salah satu contoh ringin di sebelah utara HCB(Harmoni Center Busway) yang mengundang banyak tanya bagi sebagian orang. Konon pada saat pembangunan HCB pohon tersebut akan ditebang, banyak pihak protes dengan berbagai alasan. Ada yang murni karena untuk menjaga kerindangan dan keasrian lingkungan, ada yang merasa terusik tempat pemujaannya. Masih konon lagi, ketika pekerja proyek berusaha menebang ringin tersebut, beberapa diantaranya jatuh sakit bahkan ada yang diceritakan sampai meninggal dunia karena diganggu roh halus penunggu pohon. Sampai-sampai sang pimpinan proyek membuka sayembara berhadiah Rp 50 jt bagi pekerja yang berhasil menebang ringin tersebut.

Prokontra berkembang kian memanas, bahkan beberapa orang kemudian memagari pohon tersebut dengan kain papan catur khas Bali dan menempatkan seperangkat sesaji di bawah sang ringin. Setahun berjalan setelah kejadian ontran-ontran tersebut, sang ringin hidup meranggas gersang nan merana sampai akhirnya 1 Oktober 2007 sekelompok aktivis pemuda dari ormas tertentu membabatnya habis. Oh beringin tua betapa naas akhir kisah hidupmu…………

Posted by Nananging Jagad at 02:40:20 | Permalink | Comments (12)

Friday, October 5, 2007

SUGENG RIOYO

KARTOSURO KULON SUROKARTO

SDOYO LEPAT KULO NYUWUN PANGAPURO

NDEREK MANGAYUBAGYO DINTEN RIOYO IEDUL FITRI

1 SYAWAL 1408 H

 

************nuwun sewu wangsul ndusun rumiyin*********** 

 

 

 

Posted by Nananging Jagad at 05:11:48 | Permalink | Comments (9)

Tuesday, September 25, 2007

TAMU TUHAN

KIAI SUDRUN ATAUKAH NABI KHIDZIR?

Malam itu sengaja Tuhan mengguyurkan limpahan air sejuknya di langit Jakarta. Suasana di masjid malam itu menjelang sholat Isya’ yang akan dilanjut sholat tarawih. Mendadak seseorang dengan tubuh tambun mengeruyak barisan jamaah di barisan terdepan. Orang tersebut memakai sarung kumel dan menenteng sepotong tongkat pipa. Baju yang dikenakan nampak kusut dan dia juga memakai topi mini yang terlihat tidak cukup untuk dipakainya di ujung kepalanya yang bulat besar.
Bau orang tersebut, yak ampun, super “sengak” sehingga membuat jamaah yang lain menahan nafas. Orang misterius tersebut datang dengan menenteng gembolan dan “gombalan” dalam sebuah tas plastik hitam besar dan langsung meletakkannya di depan imam. Spontan jamaah yang lain mengingatkannya untuk memindahkan bungkusannya tersebut agar tidak mengganggu “pandangan” yang dapat mengurangi kekhusukan jamaah. Setelah memindahkan gembolannya, sang Bapak langsung mendesak barisan shof terdepan.
Di tengah prosesi tarawih, sang Bapak nylonong keluar, gak tahu kencing, wudlu, atau berbuat apa, tak seorang yang memperhatikannya atau jikalaupun para jamaah memperhatikannya, mereka juga tetap diam membisu agar tak batal sholatnya. Rakaat kedua sang Bapak kembali ke barisan dan langsung menyambung sholat, tanpa mikir rakaat yang semestinya dia hutang dari Tuhan.
Saat istirahat sholat, saat jamaah lain khusuk mengikuti dzikir yang dipandu sang Bilal, sang Bapak ini menjawil jamaah di seberang sampingnya seraya meminta sebotol aqua yang terlihat tergeletak di depan shof. Yang empunya aqua langsung memberikannya, meski dengan penuh tanda tanya. Habis sebotol air diembat, dia melirik botol yang lain, dia ambil dan sedikit ngomong kepada pemilik botol dan langsung mengembatnya pula. Dua botol air habis, dia pegang si botol, diamatinya merek botol tersebut, dielus-elus, seolah-olah barang antik yang sangat berharga dan baru pertama kali dijumpainya. Kemudian dia bilang ke pemilik botol, buat saya ya!Botol itupun dibawa sang Bapak kemudian disimpan menyatu dalam gombalannya tadi.
Fenomea aneh……Saya hanya bisa diam “nggumun”, siapakah sang Bapak. Apakah gerangan beliau Kiai Sudrun yang sering dilegendakan orang? Ataukah dia Khidzir yang belum sempat tuntas mengajarkan ilmu hikmah bagi Musa?Atau jangan-jangan dia adalah Tuhan sendiri yang sengaja “ngejawantah” untuk menyapa makhlukNya sendiri? Nyolowadi memang…….mbuh ah.

 

Posted by Nananging Jagad at 08:00:49 | Permalink | Comments (4)

Friday, June 15, 2007

GENDAM MAUT

 

HIPNOTIS via SMS

Pada suatu keremangan senja menjelang lengsering sang surya menjemput gema adzan maghrib di sudut kota wali Demak, kebetulan saya baru selesai ngayahi tugas saya sebagai penggawa negara untuk melakukan inspeksi terhadap suatu fasilitas rontgen di sebuah klinik, seorang ibu tergopoh-gopoh mendekati saya. Sang ibu sambil ngemong beberapa anak kecil, cucu-cucunya, menyalami saya dan kemudian dengan ramahnya berbincang menanyakan beberapa hal dalam bahasa Jawa kromo inggil yang sangat halus.

 

Beliau menanyakan keberadaan tugas saya, kemana lagi tujuan kami selanjutnya, berapa lama lagi, asal-usul saya dan sedikit bertanya mengenai keluarga. Saya sampaikan kepadanya, bahwa kami bertiga(satu tim) sedang bertugas inspeksi terhadap fasilitas rontgen di beberapa rumah sakit wilayah Semarang, Demak, dan Kudus. Dan senja itu kami akan langsung melanjutkan perjalan ke Kudus. Sang Ibu malah mempersilakan kami untuk menunggu sambil sekalian malaksanakan sholat Maghrib di tempatnya.

Beliau kemudian setengah berkaca-kaca dan terisak, bertutur bahwa Ibu Anisah, sang menantu pemilik klinik yang baru saya kunjungi tersebut, baru saja menerima musibah dan cobaan dari Yang Kuasa. Rupanya Ibu Anisah baru saya ditipu oleh seseorang dan beritanya sampai dimuat di harian terkemu di Jawa Tengah dan menjadi buah bibir di tengah masyarakat.

Ceritanya begini kisanak, pada suatu malam di kliniknya, Ibu Anisah menerima sms dari seseorang. Ketika kemudian ia membuka sms tersebut dan membacanya, seketika kesadarannya hilang terhipnotis dan seseorang datang menemuinya untuk kemudian mengajaknya keluar klinik. Orang tersebut kemudian mengajak Ibu Anisah berputar-putar keliling kota untuk kemudian menuju sebuah ATM. Kemudian disuruhnya sang Ibu untuk menarik tunai tabungannya secara bertahap. “Dan……duh Gusti, 49 juta rupiah berhasil digasak sang penyihir, masya Allah”, isak Ibu Mertua lemes dn tanpa sadar air mengalir dari kelopak matanya.

Saya menjadi terharu dan iba, serta saya coba untuk nglelipur, membesarkan hati sang Ibu Mertua tersebut agar tabah. Dan bahwasanya semua yang terjadi tersebut merupakan kehendak Allah dan pastilah ada hikmah indah di baliknya.

Maka dari itu kisanak, di era kecanggihan teknologi saat ini, semua wahana dan cara bisa dihalalkan orang untuk mengeruk keuntungan secara tidak terpuji atas hak milik orang lain. Penipuan dan berbagai kecurangan acapkali kita dengar di berbagai media, tidak terkecuali melalui ponsel. Oleh karena itu kisanak, berhati-hatilah!!! Kejahatan terjadi bukan hanya karena kesempatan yang ada, namun juga keterlenaan kita. Bersikaplah sumeleh kepada Sang Kuasa dan waspadalah……..waspadalah!!!!

 

Posted by Nananging Jagad at 04:39:52 | Permalink | Comments (17)

Wednesday, August 16, 2006

HUT RI

 

SALAM KEMERDEKAAN

Hari-hari ini merupakan detik-detik menjelang peringatan kemerdekaan kita. Merdeka yang belum mardhika, karena kenyataanya masih banyak ide dan paham penjajahan yang malahan semakin mengakar kuat di tengah kehidupan kita.

Tanpa sadar banyak pihak yang menjadi penjajah sejati. Apakah orang tua terhadap anak, kakak terhadap adik, majikan terhadap buruh, guru terhadap murid, dosen terhadap mahasiswa, atasan terhadap bawahan, gusti terhadap kawula, pusat terhadap daerah, bahkan negara terhadap rakyatnya sendiri.

Bangsa kita semakin tidak mempunyai kiblat untuk memandu arah tujuan bahtera negara. Negara kita berjalan tanpa visi dan misi yang jelas. Format barisan kita amburadul. Bahkan Tuhanpun seakan sudah nglokro dengan sikap pongah dan congkak bangsa besar ini. Hukum Tuhan seakan kita lemparkan jauh ke sudut peradaban. Tuhan sudah tidak dianggep lagi, sekedar terngiang lirih pada tataran konsep bawah sadar kita. Setan dan iblis sudah bingung mencari konsep dan format untuk menyerang manusia. Karena kenyataannya manusia sudah lebih iblis dibandingkan nenek moyang iblis sekalipun. Iblis sudah menjaga jarak sedemikian rupa agar tidak kesurupan manusia.

Melihat kondisi negri ini, nampaknya kita tinggal pasrah penuh kepada Tuhan karena nampaknya hanya kekuatan Tuhan yang mampu mengubah keadaan. Pernah Mas Nevi, seorang seniman Bantul menyindir bangsa ini dengan parikan nylekitnya:

Hana cara ka

Data sawa la

Pada pekok a

Mangga modar a

Bagiamanapun kondisi negri ini, kita harus senantiasa setia dan sedia menjadi bhayangkara. Menegakkan kebenaran semaksimal kesanggupan kita. Ikut menyumbangkan dharma bakti dalam kerangka memayu hayuning bawana.

 

NDEREK MANGAYU BAGYA

DINTEN KAMARDIKAN NEGARI REPUBLIK INDONESIA

INGKANG KAPING SEWIDAK SETUNGGAL

***********

Posted by Nananging Jagad at 05:04:40 | Permalink | Comments (4)

Tuesday, July 18, 2006

BENCANA DATANG LAGI

TSUNAMI: Fenomena Kang Paijo

Yunami, begitulah Kang Petruk, rekan kerjaku menyebut tsunami karena menganggapnya perempuan dan masih prawan. Pagi kemarin Kang Petruk menyambangiku dan menanyakan keberadaan Kang Paijo yang tak nongol batang hidungnya. Kujawab bahwa Kang Paijo sedang  dines ke Lampung 2 minggu ini. Kang Petruk kemudian berkomentar, ” Wah kok tumben Lampung masih aman dari gempa ya…”. 

Kang petruk memang selalu berseloroh bahwa kejadian gempa Jogja bisa terjadi karena kepulangan Kang Paijo sarimbit naik kereta waktu itu(pernah saya posting Kang Paijo estafet mbecak Lempuya-Piyu(ngan)). Dengan asumsi yang sama, ketika kali ini Kang Paijo pergi ke Lampung bisa jadi mengakibatkan terjadinya gempa dahsyat di sana, karena selama ini Lampung sudah sedikit digoyangin(ini teori ngawur lho..). E…..lha kok lagi pagi dirasani, sorenya bener datang itu yunami di Pangandaran.

Anehnya lagi, sehari sebelumnya, Heri temen SMA-ku datang ke tempatku dengan kaos bertuliskan “Pangandaran” berwarna oranye. Kemudian di Senin dinihari menjelang pagi, saya bermimpi copot gigi dua buah, di bagian depan lagi. Dan ini jelas jenis mimpinya puspatajem kata simbahku, dimana kejadiannya pagi hari dan konon merupakan sasmita yang akan benar-benar terjadi. Apakah ini sekedar firasat atau gathuk anthuk?

Pagi hari kemarin ketika saya sampai di kantor, terdengar suara that.. thit.. that.. thit mesin fax yang setelah saya cek tak ada kiriman fax yang masuk. Saya jadi teringat sebuah email yang dikirim teman terkait tsunami di Aceh dan Jogja kemarin, dimana email tersebut menceritakan tanda atau fenomena yang dapat digunakan untuk memprediksi bakal terjadinya gempa yang kemungkinan juga disertai dengan tsunami.

Fenomena tersebut, seperti  adanya awan Cyrus, sebagaimana dikabarkan terlihat oleh temen-temen di Jogja beberapa hari kemarin. Adanya gangguan sinyal telekomunikasi, seperti terjadi pada mesin fax, frekuensi gelombang radio dan sistem wireless lainnya.

Ada yang bisa nembang Lagunya Kang Doel Sumbang berikut, saya yang Jawa tulen dijamin gak bisa, hanya pernah dengar tapi seneng juga. Sisi laut Pangandaran……. 

Harita basa usum halodo panjang
Calik paduduaan
Dina samak salambar
Hmmm.. saksina bulan anu sapotong
Hmmm.. saksina bentang anu baranang
Aya kasono aya katresna
Aya kadeudeuh aya kanyaah
Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan
Aya kasono aya katresna
Aya kadeudeuh aya kanyaah
Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan
Sisi laut Pangandaran?
Tina ati pada pada kedal jangji
Urang silih asuh silih asih silih jadi
Deg ngadegkeun arti asih saenyana
Deg ngadegkeun arti deudeuh saenyana
Ulah dugika rasa katresna
Kerep ngagedur ukur amarah
Nu balukarna nuntun kana jalan salah
Sisi laut Pangandaran?
Reup dicanggreud hate geus pageuh kabeungkeut
Sisi laut Pangandaran?
Reup dicangkrem beuki rapet beuki deudeuh
Sisi laut Pangandaran?..

Posted by Nananging Jagad at 02:49:43 | Permalink | Comments (8)

Monday, July 10, 2006

HUT KOPERASI

KEPRIHATINAN BU PRIHATIN……………….

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya tulis, namun sepertinya Tuhan menahanku untuk menunggu waktu yang tepat guna mempostingya. Tanpa sadar dan kuketahui dengan pasti, ketika suatu malam takdir melangkahkan kakiku dan membawaku menghadiri suatu Gelar Budaya Koperasi di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 Juli 2006 kemarin. Baru kali ini saya tahu HUT Koperasi Indonesia ternyata jatuh pada tanggal 12 Juli. Acara tersebut menghadirkan beberapa tokoh budayawan, peneliti, pemerhati dan pelaku dunia perekonomian sektor marjinal. Realitas ternyata masih menggambarkan betapa masih suramnya nasib para pengusaha kecil golongan ekonomi lemah kita yang berusaha mengembangkan usahanya dengan bergabung, menggalang kekuatan melalui koperasi. Tulisan di bawah ini setidaknya merupakan salah satu gambaran betapa masih buramnya potret anggota koperasi yang dari hari ke hari belum terangkat juga kesejahteraannya, bahkan semakin terseok dan terlindas oleh era globalisasi yang semakin menyudutkan mereka menuju kematian usahanya.

        Sabtu, 27 Mei 2006, seiring dengan tersebarnya kabar terjadinya isu tsunami terkait dengan kejadian gempa bumi Jogja yang waktu itu aku rasakan juga goyangannya, aku meluncur dari Gandrungmanis menuju kota Cilacap untuk suatu keperluan. Sehabis angon ponakanku, kami sedikit plesiran menengok Pantai Teluk Penyu dan PPNC di sampingya yang dulu pernah kutinggali selama beberapa bulan. Setelah urusan kami di Cilacap selesai, dalam perjalanan pulang kami singgah di sebuah sanggar kerja pembuatan boneka di tepian Jalan Raya Cilacap – Wangon untuk sedikit kulakan karena kakakku memang seorang yang bakulan di Gandrung. Sanggar tersebut berada di Desa Tritih Lor Kecamatan Jeruk Legi, beberapa menit dari Bandara Tunggul Wulung.

Sanggar tersebut dikelola oleh sepasang suami istri setengah baya. Pada saat kedatangan kami, sang tuan rumah, sebutlah Ibu Prihatin menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami untuk melihat-lihat dan memilih boneka yang kami inginkan. Beraneka ragam dan ukuran boneka diproduksinya secara tradisional dengan mengandalkan tenaga beberapa karyawan yang juga merupkan tetangga Bu Prihatin.

Sambil kami memilih boneka yang dipesan, sedikit saya berkesempatan berbinsang dengan sang ibu. Beliau bercerita bahwa usahanya tersebut merupakan usaha yang dirintisnya sendiri sejak usia muda. Setelah sekian lama berusaha, sebenarnya pesanan semakin banyak dan berasal dari berbagi kota besar di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Semarang dan Jogjakarta. Terpaan badai krismon beberapa waktu yang lalu memang sempat dirasakan, namun usahanya masih dapat bertahan bahkan kemudian bangkit dan mulai berkembang. Di jaman Mega, bahan bakar minyak sempat dinaikkan beberapa kali dan hal itu membuat usahanya berjalan tersendat. Masa awal kepemimpinan SBY, dengan kenaikan BBM yang tinggi membuat usahanya seakan ngos-ngosan untuk sekedar bertahan dan kondisi tersebut berlangsung hingga kini.

        Pokok utama permasalahan yang dihadapi Bu Prihatin adalah langka dan mahalnya bahan dasar yang harus didatangkannya dari Bandung. Kemudian masalah berikutnya adalah sulitnya mencari, membina dan melakukan regenerasi tenaga kerja yang benar-benar bisa dididik trampil. Selama ini tenaga kerja yang dipekerjakan berasal dari daerah sekitar dan umumnya para remaja putri dan ibu-ibu muda. Tiga hal kendala yang dihadapi terkait dengan tenaga kerja ini. Pertama, tenaga kerja wanita yang lajang biasanya mengundurkan diri ketika memasuki jenjang perkawinan. Kedua, banyaknya terjadi eksodus tenaga kerja potensial yang memilih untuk mengadu nasib menjadi TKI di negeri orang karena tergiur oleh pendapatan yang lebih besar. Kendala berikutnya, tuntutan dari Pemda untuk menerapkan segala ketentuan perlindungan dan pemenuhan hak tenaga kerja seperti uang tunjangan, Jamsostek, pesangon dlsb, padahal menurutnya pekerjanya kebanyakan belum bisa memenuhi tuntutan perilaku sikap pegawai yang profesional seperti masalah disiplin jam masuk kerja yang sering tidak ditaati.

Di samping bercerita tentang permasalahan usahanya, Bu Prihatin juga merasa sedih dengan iklim usaha kecil khususnya pedagang yang semakin terdesak oleh para pemodal besar seperti maraknya jaringan Alfamart, Indomart, Hypermart dll. ”Pedagang kecil terdesak oleh ekspansi minimarket, sedangkan pasar tradisional kalah bersaing dengan supermarket dan mall”, ungkapnya. Dia mengisahkan dulu di jaman Pak Karno, pemerintah mempunyai kepentingan untuk melindungi ekonomi rakyatnya sehingga dibuat kebijakan pembatasan ruang gerak pedagang China hanya pada tingkat kota kabupaten. Dia mengusulkan agar para pedagang kecil saat ini untuk bersatu dalam menghadapi para pemilik modal besar, dengan cara mengajukan surat keberatan kepada bupati baik langsung maupun melalui Kadin untuk melakukan pembatasan pendirian minimarket di daerah tertentu, hal ini mengingat bahwa dengan adanya otonomi daerah maka Pemda Kabupaten atau Kotalah yang mempunyai banyak kewenangan untuk mengatur hal tersebut.

Isu globalisasi memang seringkali mengorbankan pertumbuhan usaha kecil dan menengah yang merupakan pilar utama perekonomian negara, sebagaimana telah terujinya usaha kecil dalam menghadapi badai krismon. Di sinilah sebenarnya peran pengambil kebijakan sangat menentukan. Apakah negara dan bangsa kita bisa berdikari dan mandiri sehingga mampu menjadi negara yang bermartabat di mata dunia? Apakah pemerintah cukup peka dan mendengar keluh kesah Bu Prihatin kita yang lain?Ampun pemerintah…………………

****************
Posted by Nananging Jagad at 02:11:19 | Permalink | Comments (11)

Tuesday, June 27, 2006

BENCANA TAN PARIPURNA

SAKSI SOPIR TAKSI

Kamis petang, 22 Juni 2006, aku bersama seorang rekan meluncur menumpang sebuah taksi dari Tunjungan Plaza menuju Terminal Bungurasih, Surabaya. Sang pengemudi taksi menawarkan apakah kami ingin menempuh jalur biasa dimana pada jam-jam segitu sering macet atau melewati tol masuk di gerbang Pasar Turi. Akhirnya kami memilih lewat jalur tol agar perjalanan lebih cepat.

Sedikit basi-basi kupancing pembicaraan dengan menanyakan kabar terakhir luapan lumpur panas di Porong kepada Pak Sopir. “Wah makin parah Mas, sekarang tol km 37-38 sudah diblokir dan hanya kendaraan beroda tinggi boleh lewat pelan”, jawabnya. Ia kemudian melempar sebuah argumentasi bahwa kondisi tersebut dikarenakan “Yang ngecet lombok abang” lagi serius marah(dia mencoba mempersonifikasikan Tuhan secara lebih membumi dan akrab). Tak jauh dari lokasi sumur pengeboran PT Lapindo Brantas, pabrik tempat “Sang Pahlawan Buruh” Marsinah kebetulan berada. Barangkali karena banyak oknum di sekitar lokasi banyak yang terlibat kasus tersebut sehingga menjadikan kasus itu menjadi abadi tak pernah tersentuh keadilan tangan hukum. Dan ketika Tuhan membalas tindak ketidakadilan terhadap suatu kaum, maka yang terkena dampak adalah semua penduduk tanpa pandang bulu.

Dia kemudian menarik lingkup pembicaraan ke tingkat nasional. “Sing kuoso iku ra iso diduga Mas, sing dadi perhatiane pemrintah Merapi ee…Bantul malah kenek gempa. Gempa bar Mrapi rewel maneh, durung tuntas malah lumpur mecothot mbek Sidoarjo. Durung neh banjir Solowesi ro Kalimantan. Memala lan pagebluk ko yo ra leren nggih Mas,”kisahnya.

Tidak orang besar orang kecil kelihatan lupa diri dan mementingkan egonya masing-masing. Para pejabat memberi janji bahwa semua korban bencana akan mendapatkan bantuan pemerintah. Korban lumpur Porong akan mendapat ganti rugi dari Lapindo. Rakyat ndak percaya, terjadilah konflik vertikal. Antar warga saling memblokir lumpur yang menuju dusunnya, yang lain membobol tanggul agar lumpur tak mengalir ke kampungnya, meledaklah bibit konflik horisontal.

Yang menderita adalah yang benar-benar punya rumah dan lahan sawah serta kehilangan mata penghidupannya, sehingga merekalah yang pertama layak mendapat bantuan. Mereka menjadi stress tinggal di pengungsian tanpa melakukan aktivitas sebagaimana biasa mereka bersawah, berladang dan pekerjaan fisik yang lain. Haa.. lha yang enak, penduduk pengangguran, gak punyak sawah, lahan dan pekerjaan ikut mengungsi dan dapat jatah bantuan. Mereka sebenarnya yang mendapatkan pemasukan akibat adanya bencana, jadi dari sisi keuangan, mereka malah mendapatkan income.

Mestinya dalam kondisi darurat di pengungsian masyarakat korban bencana juga harus toleran dan maklum dengan keterbatasan pemerintah, sehingga tetap mengutamakan kebersamaan dan kepentingan umum. Mereka harus taat kepada mekanisme yang dibuat oleh para pamong untuk memudahkan penyaluran bantuan supaya tepat mengenai sasaran. Kejadian di Bantul dalam pembagian bantuan dimana warga diharuskan menunjukkan KTP, hendaknya jangan disikapi secara berlebihan dan dianggap aparat mempersulit warga. Hal tersebut harus disikapi sebagai suatu mekanisme meminimalisir kekeliruan penyaluran bantuan kepada yang tidak berhak, karena bagaimanapun di negeri Hastina kita ini terlalu banyak oknum yang sengaja memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri. “ Wong mung meruhne KTP, yen ora nduwe gur njaluk surat keterangan lurah sing cetho kenal wargane, opo susahe to?”, kilah sang sopir taksi.

Demikian pula di sisi pemerintah sebagai pelayan publik, agar dalam kondisi darurat dapat bertindak bijak, tanggap, akurat dan cepat serta proaktif terhadap kebutuhan warga korban bencana. Jangan pernah memberikan janji kosong danmuluk tanpa bukti yang di kemudian hari akan menjelma menjadi bom waktu. Semangat dan tekad warga untuk bangkit dari keterpurukan harus senantiasa ditumbuhkan dengan senantiasa berlandaskan kebijaksanaan lokal sehingga benar-benar menyentuh permasalahan yang ada.

Bencana barangkali bisa dimaknai agar manusia bisa saling bercermin untuk kemudian bangkit memperbaiki diri.

**********

Posted by Nananging Jagad at 04:57:38 | Permalink | Comments (11)

Wednesday, June 7, 2006

CRITO KANG PAIJO

mBECAK ESTAFET (Lempuya – Piyu)ngan…………….

Kang Paijo, begitulah sosok nama yang lebih disukainya menjadi nama panggilan dan kedekatan diantara sesama rekan kerjanya. Memang sosok yang sangat revolusioner dalam hal pola pikir, dimana sebagian Homo Jakartensis (meminjam istilah Mas Seno) lebih suka larut dan hanyut dalam kehidupan metropolitan nJakarta Hadiningrat, lebih menyukai nama sapaan yang lebih kebarat-baratan. Begitulah ketegaran sosok kita ini, seorang gubernemen yang tidak mau begitu saja kalah oleh pergolakan ibukota dan masih setia dengan identitas kebanggaan para leluhur terdahulu.

        Akhir Mei 2006 merupakan hari yang ditunggu oleh sekian juta warga urban nJakarta dikarenakan selang waktu tersebut, berdasarkan SKB Tiga Menteri telah ditetapkan sebagai hari cuti bersama bertepatan dengan Hari Kenaikan Isa Almasih yang jatuh pada hari Kamis 25 Mei 2006, sehingga empat hari berturut-turut merupakan hari libur. Bagi warga urban waktu tersebut jelas akan dimanfaatkan untuk mudik ke tanah halaman nun jauh di pedalaman Jawa. Begitu halnya dengan Kang Paijo, jauh hari ia telah mempersiapkan segenap uba rampe untuk menengok sang buah hati yang selama ini terpaksa dititipkan kepada mertuanya di kawasan Piyungan, mBantul, wilayah Mataram. Dikarenakan sang istri Kang Paijo yang bekerja sebagai pegawai partikelir di salah satu perusahaan nJakarta sehingga dengan agak berberat hati ia menunda kepulangannya hingga Jum’at petang.

        Dengan semangat empat lima, suami istri Kang Paijo bagaikan Batara Kama dan Dewi Ratih yang nampak bahagia akan bertemu dengan si buah hati, beriringan budhal dari ndalem “Kapaijan” menuju sebuah stasiun kereta yang akan membawanya ke Jogja.

      Singkat cerita pada pada Sabtu, 27 Mei 2006 jam 08.30 WIB, bertepatan hari terjadinya gempa, kereta yang dinaiki Kang Paijo and his wife, tiba di stasiun Lempuyangan. Semenjak dalam perjalanan kereta memasuki Kutoarjo, telah terdengar kasak-kusuk bahwa telah terjadi gempa skala besar di Jogja, sehingga ketika kereta tiba orang menjadi antusias untuk segera turun dan mencari informasi yang lebih benar tentang kejadian gempa tersebut.

        Rupanya pada sekitar pukul 08.00 WIB telah terjadi gempa susulan dan gawatnya disertai dengan isu akan terjadinya tsunami. Isu tersebut membuat warga mBantul dan Jogja panik dan semua bergerak menuju ke arah utara mencari daerah yang lebih tinggi dan aman. Mereka tak peduli lagi dengan rumah dan harta benda mereka yang porak poranda oleh gempa pertama, bahkan korban sanak keluarga yang tertimbun runtuhan bangunan, baik yang telah meninggal ataupun yang masih hidup ditinggal begitu saja.

        Begitupun di sekitar stasiun Lempuyangan di kala Kang Paijo tiba, suasana jalanan hiruk pikuk oleh kepanikan warga. Kang Paijo keluar dari area stasiun dan berusaha mencari bus angkutan yang bisa mengantarnya ke kawasan perempatan ring road – Jalan Wonosari. Namun dalam kondisi kacau balau ternyata tak satupun bus kota yang biasa menjadi tumpangannya nongol, bahkan jalanan dipadati kendaraan pribadi yang saling berebut jalan menuju kawasan utara. Kang Paijo tetap bertekad bahwa dirinya harus melanjutkan perjalanan ke Piyungan untuk mengetahui kondisi anak, mertua dan rumahnya. Stelah berjalan ke arah Pasar Lempuyangan akhirnya ia mendapatkan becak yang disewanya menuju daerah Kusumanegara dengan harapan di sana masih beroperasi bsu kota. Arah Jalan Hayam Wuruk – Gadjah Mada dilaluinya dengan tersendat dan perlahan karena suasana hiruk pikuk kemacetan yang sangat parah.

        Akhirnya begitu sampai di kawasan Jalan Kusumanegara di daerah pertigaan Taman Siswa, Kang Paijo turun dari becak untuk kemudian berjalan ke arah timur dengan harapan dapat bertemu dengan bus kota yang menuju arah Jalan Wonosari. Harapan yang sia-sia dalam kodisi demikian, karena suasana di kanan kiri jalan sebagian besar dipadati warga yang hilir mudik tak karuan dan beberapa orang yang duduk seakan cemas dan kebingungan mengkhawatirkan keluarganya. Bahkan di sekitar Puro Pakualaman dilihatnya banyak para korban gempa terluka banyak dirawat sementara di tepian jalan.

Perjalanan berlangsung sampai sekitar kawasan Balai Kota Timoho dimana di kanan kiri jalan dilihatnya banyak rumah yang rontok gentengnya dan retak di beberapa bagian bangunannya, kemudian Kang Paijo menyewa becak lagi untuk melanjutkan perjalanan. Kang paijo inginya becak tersebut dapat mengantarnya langsung sampai ke rumahnya walaupun dengan biaya mahal karena dilihatnya armada angkutan umum sudah tidak ada yang beroperasi. “Seratus ribu!”, kata Kang Paijo meyakinkan, tetapi si abang becak tidak mau karena merasa tidak berani dengan kondisi yang semrawut di wilayah itu. Akhirnya wilayah Rejowinangun dilewatinya dengan suasana yang tidak berubah, kepanikan warga dimana-mana.

Tiba di Jalan Wonosari, Kang Paijo berusaha lagi mencari kendaraan alternatif untuk melanjutkan perjalanan. Tukang ojeg yang biasa mangkal sudah bubar bagai hilang entah kemana. Cari-mencari lagi akhirnya dapat becak lagi, sehingga untuk ketiga kalinya pasangan sarimbit ini mbecak maning. Perjalanan seakan dijalani dengan lamban bergulir diiringi gejolak pikiran yang harap-harap cemas akan kondisi keluarga. Akhirnya Stasiun JogjaTV dilewatinya, kemudian berbelok ke kanan dan kurang lebih 2 km sampailah Kang Paijo di kediaman sang mertua. Lega namun juga khawatir dan penuh tanda tanya, “untung masih ada becak, matur nuwun Pak Becak”, batinnya.

Porak poranda, begitulah pemandangan yang dilihatnya. Secara spontan Kang Paijo langsung lari menuju puing-puing rumah dan berusaha mencari lokasi bekas kamar anaknya karena rasa khawatir yang teramat sangat. Namun di berbagai sudut puing rumahnya ia tidak menemukan siapapun. Seorang tetangga memberitahukan bahwa anak dan keluarga mertuanya semua selamat dan mereka mengungsi menuju ke arah Jalan raya Wonosari. Legalah hati Kang Paijo mendengar keterangan tetangga tersebut, dalam batin ia mengucap puji syukur kepada Tuhan karena nasib baik masih menyertai keluarganya.

Dengan sepeda motor pinjaman seorang tetangga, Kang Paijo sarimbit mencoba menuju arah jalan raya untuk mencari rombongan pengungsi dari kampungnya. Akhirnya tak begitu lama dan tanpa kesulitan yang berarti, rombongan yang dimaksud berhasil ditemukannya di tepian jalan raya dan beberapa warga berada di tengah tegalan. Terharu dan trenyuh, itulah yang dirasakan dalam pertemuan suatu keluarga yang baru selamat dari ancaman bencana yang membawa maut tersebut. Gempa susulan masih terus berlangsung hingga menjelang senja sehingga warga kampung Kang Paijo terpaksa membangun tenda darurat di tengah tegalan dengan penerangan seadanya. Malam berlangsung dalam suasana mencekam dan basah kuyup oleh cucuran air hujan yang cukup deras mengguyur bumi Mataram waktu itu. Hal tersebut masih berlangsung untuk beberapa hari seiring datangnya bala bantuan dari para dermawan

Menimbang kondisi rumah yang ambruk dan tidak dapat ditempati, akhirnya Kang Paijo memutuskan secara bulat untuk memboyong anak dan mertuanya sementara waktu untuk tinggal di nJakarta saja. Barangkali masih banyak Kang Paijo yang lain yang terpaksa harus berprihatin dan tancut taliwanda lagi untuk bangkit dari keterpurukan bencana. Namun setidaknya dari bencana yang terjadi kita bersama bisa bercermin dan memperkokoh lagi tali persaudaraan, kebersamaan dan rasa solidaritas kemanusian yang seakan banyak dilupakan orang. Mangan ora mangan waton kumpul……………………

Posted by Nananging Jagad at 02:56:36 | Permalink | Comments (8)

Thursday, June 1, 2006

KIAMAT NASHUHA

KIAMAT NASHUHA……..

Dua pekan menjelang kejadian gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter di Yogyakarta, saya mendapatkan butiran kearifan sederhana dari seorang pengemudi busway jurusan Harmoni-Kali Deres yang memetakan berbagai fenomena penyimpangan terhadap berbagai norma dan kaidah kehidupan manusia ibu kota Jakarta. Sang pengemudi kemudian berkeyakinan bahwa Jakarta akan menyusul tempat lain menjadi kurban bencana alam berupa terpaan gelombang tsunami besar-besaran yang akan mengakibatkan terjadinya “kiamat nashuha” bagi sebagian besar warga Jakarta.

Berawal dari keprihatinannya tentang perilaku para peumpang busway yang saling egois satu sama lain dan tiada mempedulikan norma dan tata perilaku sosial sebagaimana bangsa yang beradap seharusnya bersikap. Beliau mencontohkan para penumpang yang tidak sabaran dalam mengantri saat masuk dan keluar bis, main selonong tanpa memperhatikan prioritas terhadap para manula, penyandang cacat dan ibu hamil. Demikian pula perilaku penumpang muda atau yang masih memiliki kesegaran fisik di dalam bis yang seringkali yang tidak memberikan kesempatan duduk kepada penumpang yang mendapatkan prioritas seperti di atas. “Segalanya dinilai hanya sebatas rupiah”, paparnya. Dengan berargumen penumpang membayar sebesar Rp.3.500,- kebanyakan penumpang paling merasa berhak mendapatkan prioritas pelayanan paling utama tanpa lagi mempedulikan rasa perikemanusiaan, saling tenggang rasa dan berbelas kasihan antar sesama. Orang menjual demikian murah harga diri kemanusiaannya demi satu tujuan kenyamanan diri sendiri yang semakin menunjukkan rasa egosentris pribadi kita.

Kisah kemudian melebar ke persoalan materialisme yang seakan menjadi salah satu ayat atau dalil dari “agama baru” yang bernama globalisasi dimana semua dimensi kehidupan sebatas diukur dengan materi atau uang. Dicontohkan, seorang ibu yang mangandung bayi dan semestinya dapat melahirkan secara normal alamiah sesuai dengan sunatullah-Nya, kemudian memilih melahirkan dengan operasi caesar karena tidak mau menanggung rasa sakit dan terlebih karena ia merasa mempunyai uang melimpah untuk membiayainya. Semasa mengandungpun, calon orang tua si bayi sudah ribut dan kasak kusuk mencari pembantu untuk mengurus sang bayi yang akan lahir kelak tanpa sedikitpun berpikir bahwa orang tualah yang mempunyai kewajiban utama dalam proses pendidikan anak. Setelah si bayi lahir, sang ibu tidak mau menyusui si bayi dengan asinya dan seringkali malah memilih susu sapi, sehingga secara hakikat anaknya kemudian menyusu sapi dan menjadi “anak sapi”. Sudah begitu, seringakali sang orang tua tidak memperlakukan si pembantu secara manusiawi, kesalahan yang kecil kemudian menimbulkan keluarnya kata-kata cercaan yang kotor dan kadang nama binatang segala macam keluar dari kebun binatang. Apakah dengan begitu memang sebenarnya sang anak sedari kecil diasuh oleh ” binatang”? Sekali lagi karena majikan tersebut merasa punya uang dan mampu membeli hidup manusia lain.

Gambaran di atas barangkali memang contoh yang sudah sangat ekstrim. Namun demikian barangkali kecenderungan mayoritas orang memang terjebak pada pola pikir bahwa semuanya dapat dibeli dengan uang dan masing-masing mengutamakan kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu sebelum segalanya terlambat untuk disadari dan menjadi penyesalan di kemudian hari, marilah kita kembali berkaca diri dan melakukan koreksi diri secara total dan jujur untuk mencoba bangkit memperbaiki pola pikir, sikap dan tingkah laku kita sebagai titah di muka bumi untuk kembali kepada fitrah kemanusiaan kita menjadi manusia yang manusiawi dan berperadaban luhur. Setiap butir kebajikan harus senantiasi diperjuangkan.

Apakah Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia di masa revolusi kemerdekaan dan sebagai daerah swapraja (istimewa) merupakan titik awal sebagai pemanasan suatu proses “kiamat nashuha” bagi Jakarta sang ibukota yang sesungguhnya dari Republik Indonesia di masa kini. Setelah dua daerah istimewa di pangkuan nusantara diterpa gempa dahsyat, apakah akan disusul satu daerah khusus? Tuhan semua terserah titahmu……………….

Posted by Nananging Jagad at 02:51:14 | Permalink | Comments (4)