Thursday, December 27, 2007

REFLEKSI DIRI

HUKUM KEKEKALAN MASALAH

“masalah tidak dapat diciptakan dan masalah tidak dapat dimusnahkan”

Masalah demi masalah seperti tak lelah mendera bangsa “besar” bernama Indonesia ini. Mulai dari bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa dahsyat di Jogja, lumpur panas Lapindo, longsor di Bantargebang, Banjarnegara, Manggarai(NTT), banjir bandang di Njakarta, Kalimantan, dan terakhir gempa di Sumatra Barat. Di samping bencana dari “mengamuknya” alam, masih ditambah dengan berbagai bencana akibat kesalahan langsung manusia seperti kecelakaan kereta api Bengawan dan beberapa kereta api lain yang anjlok, tenggelamnya kapal Senopati Nusantara, hilangnya pesawat Adam Air, tenggelamnya Levina I, dan pesawat Garuda gagal landing dan terbakar di Jogja.

Kisah di atas terjadi beberapa waktu silam, bahkan bencana tsunami Aceh sudah berulang tahun untuk ke tiga. Kisah tersebut kembali ditambah dengan kisah sedih berbagai bencana di tahun 2007. Bahkan akhir tahun ini ditutup dengan berbagai bencana banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah. Indramayu, Solo, Purwodadi, Padang, Sulawesi, Denpasar, Tawangmangu, dan entah mana lagi yang akan menyusul. Belum mengenai air bah akibat laut pasang seperti di Muara Baru, Semarang, Demak, dan Probolinggo. Gempa juga masih mengancam di Bengkulu, juga Maluku dan Sulawesi. Opo tumon? Ono opo iki?

Ada apa dengan negara kita? Dengan bangsa kita? Dengan manusia Indonesia? Kenapa seolah bangsa dan negara kita ini semakin terpuruk? Dan kenapa di setiap peristiwa dan kejadian yang menyayat pilu hati nurani kita selalu melayang korban-korban tak berdosa? Dan kenapa korban-korban itu tidak lain adalah rakyat kecil, komponen anak bangsa yang semestinya mendapatkan perlindungan hidup dari institusi negara, dimana saham terbesar sebuah negara berasal dari pundak rakyat? Pemrentah yang semestinya melindungi segenap tumpah darah Indonesia, seakan berpangku tangan tak berdaya menyaksikan penderitaan anak bangsanya.

Masalah senantiasa datang silih berganti dan nampaknya menjadi semakin tak terkendali. Belum terselesaikan, atau bahkan belum tersentuh penanganan suatu masalah keburu datang masalah lain mendera dengan tiba-tiba, sehingga membuat pemrentah kita terbengong dan tak mengerti harus melakukan apa. Dan seringkali tindakan yang dilakukan pemrentah sebatas tindakan yang responsif, dalam artian hanya menunggu bergerak apabila memang suatu masalah telah timbul dan mendapatkan tekanan ataupun protes dari berbagai pihak. Tidak pernah ada konsep kebijakan pemrentah dalam suatu grand strategi yang valid dan teraplikasi secara baik. Itupun seringkali tindakan responsif yang dilakukan oleh pemrentah untuk mengatasi suatu permasalahan yang sudah terlanjur terjadi tidak pernah menyentuh akar permasalahan dan tidak jarang salah resep sehingga menimbulkan masalah baru.

Mengatasi masalah dengan masalah, barangkali demikianlah slogan yang semestinya disandang oleh pemrentah saat ini. Perhatian masyarakat terhadap suatu masalah harus dialihkan dengan menciptakan masalah baru. Masyarakat harus diyakinkan bahwa masalah yang baru harus diprioritaskan dan segara diatasi, sehingga masyarakat secara pasti harus melupakan masalah sebelumnya. Gali masalah tutup masalah, itu nampaknya rumus baku yang melandasi tindakan pemrentah kita.

Masalah bisa datang dan mendera siapa saja, tidak hanya pada level negara, bahkan setiap individu kita tentu mempunyai masalah masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Kerumitan dan tingkat kesulitan suatu masalah barangkali sesuai dengan kapasitas dan tingkatan hidup kita. Masalah yang dihadapi seorang tukang becak, semestinya tidak serumit masalah seorang sudagar yang tengah jatuh tempo hutangnya harus dilunasi. Dan bahkan Tuhanpun telah menegaskan tidak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan hamba-Nya. Jadi secara tidak langsung sebenarnya problematika kehidupan manusia juga mengenal jenjang dan tingkat.

Masalah tidak dapat diciptakan dan masalah tidak dapat dimusnahkan. Ini sekedar otak-atik gathuk perumusan derivatif dari Hukum Kekekalan Massa yang pernah diajarkan di bangku SMP. Apakah ada diantara kita yang merencakan suatu masalah? Kita tentu sebisa mungkin menghindari, menjauhi, atau paling tidak memperkecil potensi timbulnya masalah. Kalaulah ada orang yang merencakan masalah barangkali hanya orang yang sakit jiwa atau seorang provokator, yang sebenarnya mereka adalah bagian masalah di masa lalu yang menjadi residu kehidupan di kemudian hari. Intinya dalam setiap perencanaan sebisa mungkin manusia pasti mereduksi potensi timbulnya masalah. Masalah tidak dapat diciptakan, ia adalah bagian dari mata rantai sejarah kehidupan panjang manusia yang telah dimulai semenjak penciptaan Adam, sang manusia pertama.

Kemudian kalaupun dengan perencanaan yang tliti dan njlimet, ternyata timbul masalah di tengah penerapan rencana yang telah dibuat, apakah ada jaminan kita mampu menyelesaikan masalah tersebut tuntas sampai 100%? Jawabnya sudah pasti tidak atau paling tidak relatif tidak tuntas, karena ditengah kesibukan kita menyelesaikan masalah keburu timbul masalah lain yang memaksa manusia untuk kemudian berpaling ke permasalahan baru. Begitu dan begitu seterusnya tanpa akan pernah berakhir sampai berakhirnya kehidupan duniawi. Masalah seakan manjadi siklus dan rantai maha panjang yang tiada akan pernah dapat terpecahkan misterinya oleh otak manusia yang terbatas. Masalah tidak pernah bisa dimusnahkan, ini sudah merupakan sunatullah, ketetapan dan hukum-Nya.

Barangkali jawaban jujur dan obyektif dari setiap masalah yang kita hadapi hanyalah bisa dijawab oleh sang waktu. Seiring berjalannya waktu, masalah akan selalu datang dan pergi silih berganti untuk kemudian tersimpan dalam catatan sejarah hidup kita untuk kemudian kita lupakan. Satu hal yang pasti bahwa semakin beragam jenis masalah yang kita hadapi, sadar atau tidak, semestinya akan memperkaya batin kita menuju kepada kematangan dan kedewasaan berpikir dalam menjalani roda kehidupan di muka bumi ini.

Permasalahan sebenarnya bukan pada masalah kekekalan masalah, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sikap dan tindakan kita dalam merespon suatu masalah. Suatu asumsi dan pendekatan harus dilakukan untuk memformulasikan masalah sehingga efek negatif suatu masalah sedemikian mungkin mempunyai peluang yang minimal dalam mendistorsi keselarasan hidup yang menjadi tujuan hidup manusia.

Ampun pemrentah………………..

Posted by Nananging Jagad at 07:06:21 | Permalink | Comments (5)

Tuesday, December 4, 2007

KTT PERUBAHAN IKLIM

PERUBAHAN IKLIM……

SALAH SIAPAKAH?

Selama kurang lebih sebelas hari, terhitung tanggal 3-14 Desember 2007 bertempat di Bali diselenggarakan KTT mengenai Perubahan Iklim. Belakangan memang kita sebagai orang awam sekalipun sangat merasakan terjadinya perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu lingkungan, anomali musim, curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun, hingga masalah kelangkaan air di musim kemarau dan “kelebihan” air(bah) di musim hujan. Pertanda apakah ini?….Itulah yang dimaksud dengan perubahan iklim.


Salah satu penyebab yang diindikasi sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim tersebut adalah berkurangnya fungsi paru-paru bumi akibat pembabatan hutan secara liar. Dan Indonesia sebagai salah satu kawasan paru-paru dunia dianggap telah lalai merusak kawasan hutannya. Kemudian untuk membayar kelalaian tersebut dunia internasional memfonis agar Indonesia lebih memperbesar anggaran dana untuk penghijauan kembali hutannya. Adilkah hal tersebut???


Hutan kita dibabat oleh para pemodal yang melakukan ilegal logging, tanpa memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Kayu hasil pembalakan tersebut kemudian diekspor secara ilegal pula ke beberapa negara. Dan negara-negara penerima kayu ilegal tersebut sangat menikmati kayu dengan harga yang murah meriah tersebut. Dengan demikian semetinya mereka, negara-negara penikmat kayu ilegal tersebut juga harus menanggung dana untuk pemulihan hutan agar kemabli hijau. Dan ini berarti kerusakan hutan tropis sebagai paru-paru dunia adalah kontribusi dunia yang telah langsung maupun tidak langsung ikut andil merusaknya, sehingga sebagai konsekuensinya harus ditanggung renteng bersama-sama.


Oleh karena itu, sangatlah tidak adil ketika negara-negara berkembang dituntut meratifikasi Protokol Kyoto untuk mengurangi emisi gas rumah kaca akibat kegiatan industri dan pembakaran fosilnya, juga akibat berkurangnya areal hutan sebagai penghisap karbondioksida, sementara di sisi lain negara maju seperti Amerika enggan dan tak mau meratifikasi protokol tersebut. Belakangan memang Australia ikut meratifikasi. Bagaimana pendapat kisanak sedoyo?

Posted by Nananging Jagad at 01:01:05 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, October 3, 2007

PIWULANG PARA PINISEPUH

KETUPAT:Laku kang papat

Tradisi lebaran di bumi Nusantara semenjak jaman nenek moyang senantiasa melekat erat dengan ketupat, nasi putih yang dibalut janur. Ketupat atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai kupat, sebenarnya tidak sekedar tampil secara fisik sebagai hidangan khas hari raya untuk kudapan para sanak sedulur yang atang bersilaturahmi.

Kupat sejatinya memendam makna dan pesan ruhaniah yang dalam dari para wali. Lebaran berakar kata “lebar”, yang bermakna sesudah atau selesai, di sini mempunyai pengertian suatu peringatan dalam ujud Hari Raya Idul Fitri setelah selama sebulan dididik di kawah candradimuka melalaui serangkaian pembelajaran puasa Ramadhan, sholat tarawih, tadarus Qur’an, serta dilengkapi penyaluran infaq, sodaqoh dan zakat fitrah. Serangkaian pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadikan manusia menjadi bertaqwa, sehingga saat lepas dari Ramdhan lahir kembali sebagai pribadi nan suci dalam suasana lebaran. Dan tentu saja diharapkan bekal kebiasaan yang dilakukan di bulan Ramadhan dapat menjadi bekal dan tradisi di sebelas bulan berikutnya.

Di saat penghujuang bulan suci Ramadhan,para wali dan para sesepuh berpesan agar dalam merayakan Idul Fitri hendaknya harus dilakukan tanpa melupakan kupat:laku papat(empat tindakan). Apakah yang dimaksud dengan laku papat tersebut? Laku papat yang pertama adalah membayar zakat fitrah bagi semua jiwa muslim besar dan kecil, tua dan muda, tanpa kecuali. Laku yang kedua adalah mengumandangkan kalimat Allah, berupa takbir, tahmid dan tahlil di malam menjelang 1 Syawal. Kemudian laku yang ketiga adalah mendirikan sholat Id di pagi hari saat matahari terbit hingga sepenaggalah. Dan laku keempat yaitu bersilaturahim kepada para tetangga, sanak saudara dan handai taulan.

Kupat terbungkus dalam daun kelapa muda yang disebut janur. Kelapa sebagaimana telah kita pelajari di dunia kepanduan sebagai tanaman nan serba guna yang dapat dimanfaatkan semua unsur pohonnya, mulai ujung akar hingga pucuk daun. Janur, dalam tata sastra bahasa Jawa bisa dijarwo dhosokkan menjadi “sejatining nur”. Sejatinya cahaya yaitu nur illahi, cahaya Allah, sebagaimana ditegaskan bahwasanya Allahunnurusamaa wati wal ardl, Allah adalah cahaya langit dan bumi.

Demikianlah pesan para sesepuh yang amat luhur. Dengan jembatan empat laku utama tersebut diharapkan ibadah puasa Ramadhan dan semua ibadah sunnah yang menyertainya dapat lebih sempurna dan lengkap sehingga insan manusia akan menaiki peringkat derajat di mata Tuhan yang lebih tinggi sebagaimana makna “syawalun” atau peningkatan.

Sumber: Ceramah Prof.Dr. Bambang Pranowo.

Posted by Nananging Jagad at 02:02:56 | Permalink | Comments (2)

Monday, September 10, 2007

SAMBUT RAMADHAN

SELAMAT DATANG “BULAN SOK ALIM”

 

Ramadhan memang bulan penuh hikmah dan berkah bagi mereka yang mengerti dan atas petunjuknya mampu memanfaatkan moment penting tersebut sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan bahwasanya di bulan suci tersebut segala pintu kebaikan dan jalan untuk memperbanyak ibadah menuju surga dibukakan pintu lebar-lebar, sedangkan segala jalur penyesatan dan penjerumusan derajat manusia yang mengantarkannya ke neraka jahanam ditutup serapat-rapatnya. Setan dan iblis dibelenggu, cuti tahunan sementara waktu,  sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya menggoda manusia yang tak taat aturan Tuhan.

Di bulan Ramadhan, semua aktivitas manusia seakan terserap hanya untuk memikirkan ritual puasa semata. Ibu-ibu selalu lebih sibuk di dapur menyiapkan hidangan buka puasa. Anggaran belanja rumah tanggapun, sebagian besar dialokasikan untuk kepentingan menu istimewa sahur dan buka puasa. Para pembantu dan ibu rumah tangga memborong sembako dari mall-mall dan supermarket. Tak heran hal tersebut menimbulkan terjadinya kondisi pasar dimana ketika permintaan meningkat dan penawaran turun, sehingga seolah-olah terjadilah kelangkaan barang kebutuhan sehari-hari, dan tentu saja harga sembako melonjak tinggi. Kiranya hal demikian tidak pernah terjadi di negeri Madinah di jaman Nabi, karena fokus perhatian umat Islam di kala itu bukan pemaknaan Ramadhan sebagai ritual semata, namung secara hakiki Ramadhan dipandang sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri, bertaqarub ilallahu, untuk berlatih mencapai predikat manusia taqwa.

Lain lagi cerita khas di republik kita, Indonesia. Ramadhan senantiasi disambut dengan gegap gempita. Mulai koran, radio, televisi mengemas berbagai acara bernuansa “islamis”. Mulai sinetron Aisyah, Takdir Ilahi, Tobat, Anah Sholeh,dll. Semua acara dikemas dalam baju keislaman, talk show, kuis dibawakan oleh para artis dengan baju agamis. Orang menebar salam dan senyum dimanapun. 

Pertanyaannya adalah adakah semua fenomena itu tulus, murni dan memang dilakukan dengan penuh kesadaran tinggi untuk menggapai ridzo Tuhan? Ataukah semuanya itu sekedar tuntutan dunia tontonan yang kebetulan musimnya lagi memasuki bulan dan edisi khusus, dalam artian semua itu hanya untuk memenuhi tuntutan kehausan “candu” dari masyarakat modern saat ini yang sengaja digali untuk merauk keuntungan material sebesar-besarnya? Dunia memang sudah edan, semua dinilai dengan parameter rupiah semata.

Ramadhan sebenarnya hanyalah cermin, kacabenggala kehidupan yang merupakan bayangan dari tingkah laku manusia sendiri.  Manusia yang baik akan mempergunakan momentum waktu yang baik tersebut semata-mata untuk menggapai kemulian hidup hakiki dunia dan akhirat di sisiNYa. Bagi manusia jenis ini, Ramadhan akan diisi dengan berbagai ibadah dan ritual sebagaimana ditauladankan oleh Nabi. Dengan demikian Ramadhan akan menjadi kaca jernih yang semakin menampakkan kejernihan jiwa, tulus ikhas batiniah, kesholehan, derajat ketaqwaan, bagaikan sinar nur ilahi yang memancar ke segenap penjuru semesta raya.

Sebaliknya bagi manusia prakmatis, yang ingin sekedar mendapatkan “image” sebagai manusia sholeh, Ramadhan akan memberikan bayangan kusam yang semakin menampakkan kotoran jiwa, kerendahan akhlak dan mentalitasnya. Maunya sok alim di hadapan Tuhan,namun yang didapat justru kehinaan derajat sebagai hambaNya.  Betapa murkanya sang Tuhan ketika melihat manusia mempermainkan dirinya, dengan berpura-pura seolah-olah taat di bulan Ramdhan, namun kemudian berkhianat di sebelas bulan berikutnya. Apakah seorang koruptor yang membelanjakan uang hasil korupsinya  untuk umroh tiap bulan terus disebut bukan koruptor? Maka wahai manusia, waspadalah terhadap semua fenomena kepalsuan dalam kehidupanmu……..”BECIK KETITIK ALA KETARA”.

Posted by Nananging Jagad at 09:13:01 | Permalink | Comments (8)

Friday, March 9, 2007

NEW PERSPEKTIF BARU

Wimar’s World

Sensor dan Somasi

Menyimak acara baru bertajuk Wimar’s World yang ditayangkan oleh JakTv seakan mengulang acara serupa di era 90-an berjudul Perspektif(Baru). Memang tidak mengherankan jika terdapat kemiripan, selain sang host acara yang sudah akrab di kalangan pemirsa setia yaitu si kribo Wimar Witular yang merupakan mantan juru bicara Presiden Gus Dur, juga pola diskusi yang dilemparkan tidak jauh dari format acara Perspektif(Baru).

Rabu malam, 7 Maret 2007, di tengah maraknya pemberitaan musibah kecelakaan pesawat Garuda di Jogja, talkshow ini malah mengambil tema sedikit menyimpang berupa kebebasan pers terkait kasus somasi Menkominfo kepada acara News.com Republik Mimpi.

Somasi tersebut berisi keprihatinan sang Mentri yang menerima berbagai aspirasi bahwa skenario tokoh maupun tata cara pengungkapan kritik di News.com dinilai sebagai tindakan mengolok-olok lembaga kepresidenan. Semestinya kelembagaan leadership dari tingkat presiden sampai lurah harus dihormati dan “disakralkan” sehingga memiliki kewibawaan(dibaca: kekuasaan) untuk mewujudkan visi pembangunan(dibaca: melanggengkan kekuasaan). Beliau mengaku mendapat banyak sms yang mengaku tidak senang dengan format acara News.com. Berdasarkan itulah, beliau berkeyakinan bahwa publik merasa acara tersebut tidak mempunyai manfaat yang signifikan, dan sudah selayaknya untuk didiskusikan bersama dan ditinjau ulang lagi.


Pertanyaan di benak saya kemudian muncul, apakah kepemimpinan presiden saat ini masih dianggap sakral atau paling tidak dihormati di masyarakat? Anda semua bisa mensurvei secara tidak langsung, seberapa banyak rumah warga kita yang masih memasang gambar Garuda Pancasila dengan diapit presiden dan wakilnya di sisi kanan kirinya. Seberapa banyak siswa SD yang mampu menghafal nama-nama menteri kabinet? Jawabnya pasti tidak sebanyak dulu lagi, ya… telah terjadi erosi dan degradasi angka yang cukup signifikan.

Sementara itu SBY(Si Butet Yogya) menyampaikan titah bahwasannya apa yang dilakukannya di News.com selama ini sebagai suatu cara melakukan pendidikan politik kepada masyarakat dalam kerangka kecerdesaan humor dan dibingkai suatu nilai estetika seni artistik yang tinggi untuk mengungkapkan kritik kepada para pemangku kepentingan. Format kritik yang disampaikan melalui News.com merupakan suatu sindiran halus nan lucu untuk menyampaikan sesuatu kepada penguasa dimana jurang dan gunung pemisah diantara rakyat dan pemerintah dicoba untuk dicairkan dengan rasa humor, sehingga kedua belah pihak merasa sejajar, elegan dan tidak emosi satu sama lain.

Ketika kemudian sang host menanyakan kepada sang Mentri, apakah derpatemennya saat ini juga mempunyai kewenangan untuk melakukan somasi terkait pemberitaan maupun isi muatan suatu media massa. Ataukah hal itu merupakan petunjuk Bapak Presiden sebagaimana dulu Harmoko sering mengutip? Karena kabarnya SBY asli dan beberapa mantan presiden merasa senang dan tidak merasa terolok-olok oleh kelucuan aktor-aktor dalam Republik Mimpi. Sang Mentri menjawab bahwa hal itu sudah tidak lagi menjadi kewenangannya.

Lhaa teru…..us? Dalam kapasitas apakah si Sofyan ini berkomentar?. Persoalannya sedari awal diskusi Pak Sofyan seolah-olah memposisikan diri sebagai seorang Menkominfo. Abu Sofyan menyampaikan bahwa dirinya bertindak atas nama pribadi sebagai anak bangsa yang meiliki keprihatinan terhadap pendistorsian lembaga leadership. Secara pribadi ia merasa terpanggil untuk melakukan penegakan etika dan budaya dalam penyampaikan pikiran. Apakah seorang Abu Sofyan sudah merasa bisa menjadi guru bangsa untuk penegakan moralitas anak bangsa? Oooo…..atas nama pribadi to.

Lha teruss….kemudian untuk masalah etika dan kode etik penyiaran maupun penyampaian opini publik melalui media masa siapa yang berwenang memberikan penilaian? Oooo itu tugas KPI, jawab Abu Sofyan. Kemudian kenapa KPI tidak menyampaikan catatan terhadap News.com? Apakah memang dari sisi etika media tidak ada persoalan, lalu kenapa seorang Abu Sofyan mempersoalkannya?Kemana niich KPI……?

Nah kalau atas nama pribadi, kemudian Abu Sofyan ini mewakili kelompok masyarakat mana? Ya berdasarkan sms yang masuk kepadanya tadi, jawab beliau. Apakah sms itu sudah jelas mewakili aspirasi masyarakat secara mayoritas? “Ataukah untuk mengetahui pendapat masyarakat perlu diadakan referendum secara menyeluruh”, tantang SBY. Sang host kemudian menawarkan untuk membuka polling bagi publik melalui situs perspektif.net. Kita lihat saja bersama bagaimana reaksi masyarakat…..

        Ketika kemudian pertanyaan berlanjut apakah somasi yang disampaikan akan mempunyai implikasi hukum, seperti penuntutan dlsb? Sang Abu Sofyan mengatakan bahwa dirinya juga ahli hukum karena S1 Hukum, S3 di ekonomi modal. Lho lho lho……jaka sembung??? Malah kemudian ditanya terus latar belakang pendidikan yang terkait dengan komunikasi, internet yang mana?sehingga kompeten menduduki jabatan mentri Kominfo. Beliau malah mejawab, memang dia hanya berlatar belakang praktisi media saja. Edaaaan…..wis wis wis mandeg, jangan dilanjut!!!!. Diskusinya kok jadi nggladrah ra genah…….Dagelan kabeh ki negoro. Kacian Pak Mentri semakin terdesak. Ampuuuun pemrentah!!!!
Posted by Nananging Jagad at 00:50:11 | Permalink | Comments (23)

Friday, February 16, 2007

TRI HITA KARANA

“Allah – Aku – Alam”

Di penghujung tahun 2006 salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia, Anak Agung Gde Agung pewaris Kerajaan Gianyar dari raja sebelumnya Ida Anak Agung Gde Agung, berhasil meraih gelar doktor pada Universitas Leiden Belanda dengan mempertahankan desertasi yang mengungkap falsafah hidup bertajuk “Tri Hita Karana”.

Tri Hita Karana merupakan produk nilai kearifan lokal yang telah bersemayam di kalbu nenek moyang kita semenjak awal peradaban Jawa, baik di era Mataram Hindu, Kediri, Singosari, Majapahit hingga Mataram Islam jilid ke dua di bawah Pangeran Mangkubumi di Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat. Di masa akhir pemerintahan Brawijaya V, ketika Majapahit mencapai era senja kalaning kedhaton, sebagian penganut Hindu Dharma bermigrasi mengungsi ke Pulau Dewata dan kemudian menjadi penduduk mayoritas di sana di samping suku Trunyan sebagai penduduk asli Bali. Begitupun konsep Tri Hita Karana kemudian terpelihara lestari di kalangan masyarakat Bali hingga dewasa ini.

Tri Hita Karana merupakan trilogi konsep hidup dimana Tuhan, manusia dan alam berdiri di masing-masing sudut sebagai unsur mutlak terselenggaranya denyut nadi alam raya. Dunia semesta dibagi menjadi tiga lapis alam. Pertama alam Parahyangan, alam malakut di mana Tuhan bersinggasana. Kedua alam Pawongan, alam manusia dimana manusia melangsungkan hidupnya pada dimensi jasmani maupun rohaninya. Alam ketiga adalah alam Pelemahan, alam semesta raya di bawah derajat manusia, seperti dunia tumbuhan, binatang, atau pendek kata merupakan lingkungan hidup.

Terselenggaranya keselarasan dan keharmonisan hidup manusia sebenarnya mutlak merupakan keselarasan dari ketiga dimensi alam tersebut. Manusia harus taat dan patuh terhadap aturan dan hukum alam yang telah digariskan kepadanya melalui ajaran agama yang telah diturunkan oleh Tuhan. Agama berasal dari bahasa Sansekerta a-gama, a berarti tidak dan gama berarti kacau. Jadi agama mempunyai makna sebagai instrumen atau metodologi untuk mengatur segala segi kehidupan manusia agar tidak terjadi kekacauan dalam kehidupan dan sebaliknya keselarasan, ketentraman dan kedamaian hidup dapat dicapai.

Dilanggarnya norma dan aturan agama yang telah digariskan Tuhan akan berakibat terjadinya degradasi moral manusia yang akan menjadikan manusia menurutkan hawa nafsu untuk memenuhi segala hasrat hidupnya tanpa memperdulikan kaidah norma hidup, sehingga akan menimbulkan berbagai masalah sosial dan lingkungan hidup. Lingkungan hidup akan dieksploitasi dengan semena-mena tanpa memperhitungkan tata kelola lingkungan sehingga terjadi kemerosotan daya dukung lingkungan terhadap manusia, dan akibatnya akan timbul bencana dimana-mana sebagai balas dendam alam terhadap manusia.

Yogyakarta sebagai salah satu kerajaan yang mewarisi konsep Tri Hita Karana kemudian mengejawantahkannya dengan pembentukan garis imajiner Merapi-Kedaton-Segara Kidul. Konsep ini sejak awal telah disadari oleh Pangeran Mangkubumi dengan menempatkan kratonnya pada dataran tinggi yang diapit oleh Sungai Code di seberang timur dan Sungai Winongo di sisi barat, sehingga praktis keberadaan kraton akan selalu terhindar dari banjir. Di sisi hulu, kelestarian Merapi sebagai penyangga dan daerah resapan air bagi masyarakat Yogya diupayakan tetap terjaga kelestariannya dengan menempatkan Mbah Maridjan, seorang abdi dalem sebagai juru kunci penjaga alam. Demikian pula di sisi hilir ditugaskanlah Mbah Tomo di Panggang sebagai juru kunci laut Kidul. Ini berarti bahwa untuk mencapai keselarasan hidup, manusia harus melaksanakan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya dan mengupayakan kelestarian lingkungan hidup sebagai daya dukung terhadap kehidupannya.

Lain halnya dengan Jakarta, ibukota yang semula dirintis pertama kali oleh Fatahillah di awal abad 17 yang dilanjutkan oleh Pangeran Jayakarta. Jakarta merupakan daerah rawa yang sebagian tanahnya mempunyai ketinggian di bawah permukaan air laut. Hal inilah yang kemudian mendorong Belanda yang kemudian menjadikannya Batavia sebagai ibukota Hindia Belanda membuat sistem pintu saluran air sungai Ciliwung, kemudian berusaha menyodet aliran Ciliwung melalui pembuatan banjir kanal barat. Banjir kanal timur sebagai saluran kedua sampai saat ini belum terealisasi dan masih dalam tahap pembebasan lahan oleh Pemda DKI. Tata air di Jakarta terkait erat dengan daerah resapan dan penyangga di kawasan Bopunjur(Bogor-Puncak-Cianjur).

Andaikan budaya masyarakat Jakarta juga memiliki konsep semisal Tri Hita Karana, pastilah dimensi hulu, tengah dan hilir ketigabelas sungai yang memasuki kota dapat dijaga kelestariannya dengan penerapan tata kota dan ruang yang menjaga keseimbangan tata kelola lingkungan hidup dengan menyisakan paling tidak 40% daerah aliran sungai tetap hijau sebagai daerah reapan air. Keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam dan kegiatan pembangunan yang memusatkan uang di Jakarta mendorong warga dari berbagai penjuru daerah mengadu nasib di ibukota. Hal tersebut jelas akan menimbulkan dampak masalah sosial dan tentunya lingkungan hidup.

Kepadatan penduduk yang tinggi jelas membutuhkan sistem sanitasi lingkungan yang memadai sebagai kompensasi timbulnya limbah maupun sampah dari berbagai aktivitas manusia. Kesadaran masyarakat dalam membuang sampah akan sangat mempengaruhi lingkungan. Sampah yang dibuang di sembarang tempat, termasuk di sungai, akan menimbulkan sungai tercemar dan jika terjadi hujan deras di sisi hulu, maka banjirlah yang akan dituai oleh masyarakat.

Oleh karena itu, kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana, manusia harus sadar akan tugas dan fungsinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi untuk memakmurkannya bukan utnuk merusaknya. Setiap tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhannya harus dipandu dengan tata nilai dan norma yang telah dietentukan oleh-Nya. Hal ini berarti hubungan vertikal antara makhluk dengan sang khalik harus benar-benar diperhatikan. Demikian pula hubungan horisontal antar sesama manusia dan terhadap lingkungan hidup harus tetap dijaga lestari sehingga akan tercipta satu kesatuan fungsi dan keterpaduan yang saling mendukung kepentingan manusia baik generasi saat ini maupun anak cucu di kemudian hari. Terciptanya pola pikir yang didasari oleh nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kelestariaan lingkungan hidup akan membawa keselarasan hidup yang akan membawa kepada kesejahteraan manusia. Sebaliknya ketidakseimbang ketiga unsur di atas akan membawa kehancuran terhadap peradaban manusia dan kelestarian lingkungan hidup.

Posted by Nananging Jagad at 00:50:34 | Permalink | Comments (28)

Wednesday, December 6, 2006

RENUNGAN KEMBALI

OJO GUMUNAN, OJO KAGETAN

Ungkapan tersebut barangkali sangat tepat untuk menyikapi berbagai warta kekagetan nan super heboh yang belakangan ini menghiasi media kita. Dikatakan super heboh karena warta tersebut menyangkut “ta” yang terakhir dari trilogi “tiga ta” (harta, tahta, dan wanita) yang disebut-sebut dalam berbagai referensi primbon sebagai godaan terberat sekaligus penghancur peradaban bumi manusia apabila salah mengempan papankannya.

Pertama barangkali kisah menikahnya seorang da’i kondang Aa Gym untuk kedua kalinya. Beliau dikabarkan telah merabi lagi seorang janda beranak tiga sekitar pertengahan Ramadhan lalu.

Barangkali dengan pilihan poligami yang ditempuh Beliau, akan menjadi suatu referensi baru bagi para lelaki yang pingin rabi lagi, Meskipun telah dinyatakannya bahwasanya keputusan yang diambil tersebut merupakan hal yang telah dipikirkan secara masak dan panjang, serta dengan persyaratan yang sangat berat untuk dipenuhi. Persyaratan yang dimaksud adalah kemampuan sang suami untuk bersikap adil serta restu atau iikhlasnya pihak istri pertama. Oleh karena itu, orang atau pihak suami lain yang mempunyai niat untuk poligami jangan semata-mata anut grubyuk, mengekor dan menirunya, karena nantinya yang didapat bukannya sakinah malahan musibah. Ini bisa berarti bahwa sang Beliau telah yakin bahwa dirinya merupakan sosok suami yang mampu berbuat adil dan orang lain belum tentu bisa seperti dia dan apa yang dilakukannya semata-mata mencari ridlo Awwoh.(Betul begitu???)

Pendapat saya pribadi, sebenarnya sangat menyayangkan tindakan tersebut, karena Beliau sebagai seorang tokoh agama yang menjadi panutan dalam setiap ucapan dan perbuatannya sebegitu mudahnya mengambil keputusan yang sangat kontroversial. Hal yang kemudian menjadi korban dalam kasus ini adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa “Islam ki yo mung ngono kuwi jebule”. Nampaknya tidak ada lagi hal yang nyenengke lan nentremke untuk dilihat dari profil Islam. Dan ini berarti Beliau telah mengorbankan dakwah dan citra Islam yang tengah tertatih-tatih untuk membuktikan dirinya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Da’i tiada beda jauh dengan selebritis, hanya mencari popularitas dan ujung-ujungnya keuntungan pribadi.

Di sisi lain, pernah dalam kesempatan ceramahnya Beliau dintanya soal poligami dan menjawab bahwasanya meskipun hal tersebut dibolehkan oleh Awwoh, namun persyaratannya sangat berat dan Beliau menegaskan bagi dirinya istri satu saja tak habis-habis kok mau nambah. Ini berarti sudah terjadi ketidakkonsistenan ucapan seorang da’i yang mestinya bisa amanah berbicara. Ataukah sekarang filosofi Beliau telah berubah menjadi “istri satu saja tidak habis-habis, apalagi dua, tiga, empat……..”

Cerita kedua, sudah tentu mengenai skandal jepitnya seorang wakil rakyat sekaligus penggede elit partai angkel GORKAL. Lagi-lagi sangat disayangkan, sang tokoh yang mamtan aktifis HMI dan mengetuai bidang kerohanian terjerumus dalam perbuatan maksiat. Dan lagi-lagi juga yang menjadi korban, ketiban pulung menerima citra dan stigma negatif adalah agama Islam.

Jaman barangkali memang tengah memasuki era kalatida setelah sebelumnya didahului kalabendu. Dan sikap kita menghadapi keadaan tersebut, sebagaimana diwariskan para pinisepuh kita, adalah ojo gumunan lan ojo kagetan. Para era jaman ini, Tuhan akan secara pelan namun pasti akan menampakkan kasejatene kang sejati, akan terlihat endi wingko endi kencono, akan nampak wujud asli dari semua sifat manusia. Ojo gumunan mengandung makna agar kita jangan menjadikan hal fisik, formalitas dan penampilan luar sebagai acuan dan standar dalam kehidupan dunia yang fana. Jangan mudah tertipu oleh hal-hal yang bersifat sementara dan kamuflase, kita harus lebih banyak belajar mengenai hakekat dan kesejatian hidup. Ojo kagetan berarti dalam menyikapi hal-hal yang aneh kita harus mengambil sikap yang wajar dan bijak untuk mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Sak beja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan wasapda. Waspadalah…………….waspadalah…………………..
Posted by Nananging Jagad at 08:27:52 | Permalink | Comments (17)

Wednesday, November 1, 2006

HIKMAH SYAWAL

SUCI DALAM DEBU

Hari Raya Idhul Fitri merupakan momentum yang sangat membahagiakan bagi kami, warga lereng Merapi. Bukan karena merdikonya kami dari kewajiban segala ritual di bulan Ramadhan, tetapi bagi kami lebaran merupakan waktu yang dinanti-nanti untuk ujung, ngaruhke lan sungkem kepada para sesepuh dan sanak kerabat. Dengan ujung, tali silaturahim senantiasa diperbaharui dan dilahirkan kembali, silsilah kekerabatan dipernahke, dijernihkan dan didongengkan kepada anak cucu kembali. Tak heran jika orang-orang desa kami selalu menyambut llebaran dengan suka cita dengan kegiatan bersih rumah dan kampung, dan yang tidak ketinggalan, membuat makanan hidangan khas lebaran untuk para kerabat yang akan datang.

Menurut cerita simbah, silaturahim harus senantiasa dipupuk, dan momentum lebaran dijadikan wahana untuk saling mengunjungi dan memohon maaf. Terkadang saya juga tidak habis pikir, lha wong sesama saudara tidak pernah ketemu, e…..ketika ketemu di hari raya, langsung saling minta maaf atas kekhilafan. Apakah mereka sempat saling membuat kesalahan, padahal mereka tidak pernah bertemu sepanjang tahun? Barangkali itulah yang namanya kebesaran jiwa, biso rumangso lan ojo rumongso biso sebagaimana diajarkan oleh para sesepuh dulu.

Hari Idul Fitri tahun ini sedikit kurang semarak dikarenakan adanya “dua hari raya “. Bagi warga dusun saya, rumus sakti yang dipakai untuk menentukan lebaran yang berbeda hari adalah dengan mengikuti hari raya yang lebih awal, tidak perlu susah-susah mikirnya, praktis wae. Di samping itu, tahun ini juga sedikitnya pihak berwajib memperkenankan beredarnya obat long(mercon), membuat suasana kurang gempita dengan ledakan petasan. Demikian juga para pemuda kampung juga jarang yang sempat membuat balon raksasa dari plastik maupun kertas wajik bandung. Namun demikian lebaran harus tetap dirayakan.

Yang menjadikan keprihatinan para warga dusun adalah suasana lebaran di tengah kemarau panjang yang membuat paceklik kawasan tempat tinggal kami, ditambah masih berterbangannya abu vulkanik akibat letusan Merapi beberapa waktu lalu yang masih melekat di dedauanan dan genteng rumah warga, yang hingga saat kini belum tersapu oleh air hujan yang tak kunjung tiba. Sungai kering, sumur kering, sawah dan ladangpun kering kerontang. Sawah bapak yang hanya beberapa petak di ngarep dan wetan ndeso dibiarkan saja bero tanpa tanaman sambil menunggu turunnya hujan.

Meski dalam suasana jalanan yang mabluk, membuat pedih kelopak mata, tidak menyurutkan warga desa untuk saling bepergian ujung kepada sanak saudara. Ujung merupakan ritual wajib yang harus kami jalani, yang menurut Pak Kiai di mesjid kami bisa memudahkan rejeki dan memanjangkan umur bagi siapapun yang menjalankannya. Bersihnya hati dengan saling memaafkan dan tersambungya persaudaraan merupakan harta termahal yang tidak boleh hilang begitu saja. Meskipun baju bluthuk karena terkena abluk jalanan yang terik, tak menyurutkan langkah kami. Suci dalam debu, barangkali perupamaan kami. Biar secara fisik rambejaji, namun kami berharap hati kami terlahir kembali menjadi fitrah yang suci.

Tidak kurang dari dua puluh saudara saya kunjungi setiap harinya, mulai budhal dari rumah jam 09.00 pagi hingga Maghrib menjelang. Begitupun bapak saya di rumah senantiasa kedatangan saudara tak kurang dari 100 orang per harinya, yang sowan untuk menyampaikan sungkem pangabektennya. Lebaran senantiasa menjadi lahan panenan bagi anak-anak yang pasti senantiasa mendapatkan bebungah dari para simbah, sekedar buat uang jajan. Tak heran seperti Citra, keponakan saya, yang bisa mengantongi kekucah sampai Rp.65.000 di hari lebaran pertama. Akankah tradisi yang adiluhung ini bertahan oleh desakan arus gombalisasinya dunia edan?
Posted by Nananging Jagad at 08:05:48 | Permalink | Comments (8)