Wednesday, February 20, 2008

BOYONGAN PROJO

KATETEPAN DALEM
NOMOR 01/SNJ/II-08 TAHUN 2008
TENTANG
BOYONGAN PROJO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SANG NANANGING JAGAD

Menimbang : dan seterusnya…
Mengingat   : dan seterusnya…


MEMUTUSKAN:
Menetapkan: Untuk dan atas nama aspirasi penulisan di jagad perbloggeran, menitahkan kepada yang bersangkutan untuk melakukan:


Pasal 1
Lengser keprabon, pindah secara bedhol desa dan sukarela untuk babad alas di
jagad baru.

Pasal 2
Segala hal yang terkait dengan pemindahan blog dan lain sebagainya akan diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pasal 3
Memberikan ketetapan kepada yang bersangkutan untuk menempati, lenggah dampar anyar di jagad baru.

Pasal 4
Segala hal yang terjadi akibat kesalahan ketetepan ini di kemudian hari dapat ditinjau kembali.

Pasal 5
Ketetapan ini mulai berlaku pada saat ditetapkan dan memerintahkan pengumumannya di dunia blogger.

Ditetapkan di Projo Njakarta Hadiningrat
pada tanggal 12 Sapar 1941 Jawa

ttd

Sang Nananging Jagad

Posted by Nananging Jagad at 01:50:50 | Permalink | Comments (8)

Thursday, December 21, 2006

MANGAYUBAGYA

IBU…………….

Mengenang sebait tembang,

 

RIBUAN KILO JALAN YANG KAU TEMPUH,

LEWATI RINTANGAN UNTUK AKU ANAKMU,

IBUKU SAYANG MASIH TERUS BERJALAN,

WALAU TAPAK KAKI PENUH DARAH PENUH NANAH,

SEPERTI UDARA KASIH YANG ENGKAU BERIKAN,

TAK MAMPU KU MEMBALAS,

IBU…………..IBU……………

INGIN KUDEKAP DAN MENANGIS DI PANGKUANMU,

SAMPAI AKU TERTIDUR BAGAI MASA KECIL DULU,

LALU DOA-DOA BALURI SEKUJUR TUBUHKU

DENGAN APA MEMBALAS,

IBU…………..IBU………………

 

Akhire sido mulih MBOK…………..!!!!!!!!!

Posted by Nananging Jagad at 13:46:53 | Permalink | Comments (16)

Thursday, October 19, 2006

MAHARGYA RIAYA

SUGENG MAHARGYA

DINTEN RIAYA IEDUL FITRI

1 SYAWAL 1427 H

 

********* 

Boyo papat ning Malioboro

Sedaya lepat nyuwun pangapuro

 

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Taqaballahu minna waminkum, siyamana wa siyamakum

Mugi Gusti Ingkang Maha Kuasa kersa anampi sedaya amal kita 

Posted by Nananging Jagad at 02:11:04 | Permalink | Comments (6)

Friday, September 22, 2006

MARHABAN YA RAMADHAN

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1427 H

 Tumapaking titi laksana tan kena kinira,

Kadya ubenging cakramanggilingan jagad nuswantara,

 

 

 

Assalamu’alikum…….. 

 

Serasa kemarin kita meninggalkan bulan Ramadhan, e…tahu-tahu sudah ketemu kembali dengan bulan nan agung,

Khilaf dalam tutur bahasa dan tingkah laku, terhadap saudara blogger semua, kiranya banyak tanpa sengaja saya lakukan,

Oleh kerena itu, seiring datangnya Bulan Suci Ramadhan tahun ini, bukakanlah pintu maaf bagi kawula ini,

Mohon maaf segala khilaf,

Sedaya lepat nyuwun ngapura,

I’m sorry very full, 

Moga kita dapat beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada ilahi rabbi di kesempatan mulia ini,

 

Wassalam. 

 

SUGENG NGIBADAH SIYAM 1427 H 

 **************************************

 

Posted by Nananging Jagad at 02:48:48 | Permalink | Comments (10)

Thursday, June 15, 2006

FLU GUNUNG(?)

MERAPI PENUH MISTERI

Baru satu hari masyarakat warga lereng Merapi merasa lega dengan penurunan aktivitas Gunung Merapi, hari Rabu, 15 Juni 2006 sekitar pukul 12.00 dan 15.00 WIB terjadi luncuran wedhus gembel dengan jangkauan sekitar 7 km yang menyebabkan kembali dinaikkannya status Merapi menjadi Awas. Status awas kali ini hanya diberlakukan secara sektoral untuk daerah arah selatan dan tenggara yang meliputi alur Kali Gendol di Kecamatan Cangkringan dan Kali Woro di perbatasan Klaten. Flu dan batuk Merapi seakan suatu penyakit yang sudah kronis dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengembalikan kondisi kestabilannya seperti semula.

    Meskipun guguran lava pijar yang menghasilkan awan panas tersebut selalu mengarah ke arah selatan dan tenggara bahkan kemarin sempat mencapai daerah wisata Kaliadem, namun karena arah angin selalu berhembus ke arah barat, mengakibatkan sektor barat Merapi termasuk desa kelahiranku kembali diguyur hujan abu dan pasir. Kondisi demikian membuat 150 warga di Desa Ngargosoka tetangga desaku terpaksa diungsikan untuk menghindari bahaya sekunder letusan Merapi berupa terhamburnya material mulai dari pasir, kerikil, krakal, bom, lapili dan mofet. Merapi memang penuh misteri dan sangat sulit untuk dipreksi akhir-akhir ini.

    Informasi dari media massa yang sempat saya baca, diantaranya memberitakan tragedi Kaliadem yang porak poranda dan dua orang relawan terjebak di dalam sebuah bunker perlindungan. Di beberapa titik lereng Merapi memang telah dibangun beberapa bunker untuk perlindungan terakhir warga apabila datang si wedhus gembel yang tak terantisipasi. Di awal tahun ini pada saat memberitakan sebuah berita lelayu seorang tetanggaku yang meninggal kepada Padhe Joyo sakbrayat di Tunggularum, saya sempat menyaksikan dari dekat sebuah bunker yang terletak di Dusun Tunggularum Desa Wonokerto Kecamatan Turi yang berada di sebelah barat kawasan Kaliurang.

    Bunker dirancang sebagai tempat perlindungan terhadap awan panas dan tidak dirancang secara khusus untuk perlindungan terhadap lava panas. Kasus kejadian Kaliadem kemarin dimana telah terjadi hamburan lava pijar yang mengubur bunker, sehingga menjadi sebuah teka-teki besar apakah dua relawan yang terjebak tersebut bisa bertahan. Pada sebuah bunker dilengkapi dengan fasilitas diantaranya persediaan air, tabung oksigen dan MCK. Barangkali kita semua hanya bisa berdoa semoga dua orang relawan yang diistilahkan oleh Pak Widi (seorang pejabat Pemkab Sleman) sebagai “bonek” tersebut dapat bertahan dan selamat.

    Batuk dan flu gunung Merapi itupun sepertinya membuat batuk yang kuderita seminggu ini dan sudah memasuki tahap kesembuhan, kembali bangkit menyerang. Untuk yang satu ini barangkali terlebih karena kondisi pemulihan yang harusnya saya jalani dengan istirahat total, namun karena terbawa gegap gempita para maniak bola yang begadang nonton pertandingan di waktu dini hari seperti dini hari ini saat pertandingan Swedia vs Paraguay, sehingga menyebabkan tertundanya pemulihan batukku.

    Dari dimensi mitologi masyarakat Jawa, Pangeran Mangkubumi, pendiri Kasultanan Ngayojakarto Hadiningrat membangun suatu konsep filosofis kesatuan imajiner diantara Merapi – Keraton – Laut Kidul. Konsep tersebut terkemuka dengan istilah Trihita Karana yang dapat diartikan tiga dimensi utama pilar penyangga sangkan paraning dumadi (asal, keberadaan dan tujuan hidup manusia).

        Merapi pralambang ketinggian Parahiyangan(Allah) yang merupakan dunia malakut(ghaib) tempat bertahtanya Sang Khalik kehidupan. Keraton lambang Pawongan(Aku) dimana hal tersebut merujuk kepada dimensi dunia nyata tempat kehidupan manusia. Sedangkan Laut Kidul(Alam) sebagai simbol tataran dunia di bawah manusia seperti dunia hewan, tumbuhan dan makhluk halus.

    Adanya Merapi yang sedang punya gawe dan senantiasa fluktuatif aktivitasnya bisa dimaknai bahwa Tuhan merupakan dzat Maha Kuasa yang mutlak kehendaknya atas titah makhluk-Nya di semua tingkatan kehidupan. Merapi barangkali merupakan sasmita bagi manusia agar kembali kepada jati diri dan kodrati fitrahnya untuk senantiasa berbakti, mengabdi dan beribadah hanya kepada-Nya. Terpaan globalisasi dunia barangkali telah banyak meninabobokkan manusia sehingga seringkali tidak mengindahkan perintah-Nya dan dengan segala kecongkakan jiwanya seringkali melanggar larangan-Nya.

    Begitupun peristiwa gempa tektonik beberapa waktu lalu sebenarnya sebagai peringatan alam bahwa manusia terlampau serakah dalam mengekploitasi sumber daya alam sehingga seringkali mengesampingkan fungsi dan kelestarian lingkungan hidup serta kepentingan generasi anak cucu kita..

    Manusia sebagai hamba Allah dan pengemban kekhalifahan alam semesta raya, harus waskitha dan bijak dalam memahami kehidupannya sehingga ia mampu mengambil sikap yang sebaik dan seadil-adilnya untuk kepentingan keberlangsungan keharmonisan kehidupan di semua dimensi kehidupan. Hal tersebut akan menciptakan suatu tatanan kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang dan akan membawa keberkahan bagi ketentraman dan keselamatan hidup di dunia hingga akhirat.

Wallahualam………………..

Posted by Nananging Jagad at 10:14:51 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, June 14, 2006

KABAR MERAPI

MERAPI LEBIH TENANG

 

               Selasa, 13 Juni 2006, Kantor BPPTK Yogyakarta menetapkan status aktivitas Gunung Merapi diturunkan dari Awas menjadi Siaga seiring dengan makin berkurangnya frekuensi terjadinya guguran lava maupun luncuran awan panas “si wedhus gembel”. Hal itu tentu saja membuat saya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari warga lereng Merapi merasa lega dan sedikit tenang. Meskipun dikatakan bahwa endapan kubah lava yang terbentuk selama periode 2006 sebesar kurang lebih 3 juta m3, namun apabila terjadi luncuran tidak akan mencapai daerah pemukiman penduduk.

           

            Dengan penurunan status tersebut paling tidak bisa menenangkan warga untuk kembali beraktivitas mengolah sawah dan ladang yang untuk beberapa hari ini ditinggal untuk mengungsi atau bagi warga yang daerahnya relativ masih aman dan tidak mengungsi bisa bertani kembali secara lebih normal. Semalam kabar tersebut saya klarifikasi ke rumahku di sisi barat Merapi, dan memang dikabarkan hujan abu dan bahkan pasir yang beberapa hari lalu mengguyur desaku telah berhenti meskipun masih sesekali terdengar gemuruh ledakan dari puncak Merapi.

             Untuk beberapa rentang waktu dimana Merapi berada pada puncak aktivitasnya, memang adanya hujan abu sangat mangganggu kegiatan pertanian di desaku. Beberapa varietas tanaman pertanian yang tidak tahan terhadap guyuran abu memang kebanyakan layu kemudian mengering, hal ini terutama terjadi terhadap jenis tanaman sayur-sayuran seperti sledri, loncang, wortel, tomat, kubis dan sawi. Namun  tanaman utama seperti padi dan tanaman palawija berumur sedang masih bisa bertahan terhadap abu vulkanik. Dengan demikian secara umum tanaman pertanian tidak mengalami kerusakan yang terlampau berat.

               Dikisahkan oleh tetanggaku bahwa adanya hujan abu sedikit mengganggu kegiatannya ngarit untuk sapi dan kerbaunya karena kolonjonone terlapisi debu dan pasir sampai beberapa milimeter sehingga memerlukan proses pencucian rumput sebelum diberikan kepada hewan ternak. Di samping itu kegiatan di sawah atau ladang juga terganggu dengan adanya debu beterbangan yang mengganggu pernafasan warga meskipun mereka sudah mengenakan atribut sang hanoman (masker). Dalam kondisi demikian warga harus waspada dan selalu menjaga kondisi tubuh agar tidak mengalami gangguan saluran pernafasan.

              Di balik kendala “sementara” yang dihadapi warga tersebut, sesungguhnya ada beberapa keuntungan terkait dengan turunnya abu vulkanik Merapi. Abu yang mengandung beberapa unsur kimia seperti belerang ternyata cukup efektif untuk secara alamiah memberantas hama tanaman sayuran berupa ulat dan serangga. Manfaat yang akan dirasakan oleh warga kami untuk jangka panjang adalah meningkatnya unsur hara tanah akibat pengkayaan oleh abu vulkanik yang menimbulkan meningkatnya kesuburan tanah. Daerah kami semenjak dulu memang terkenal sebagai daerah utama penghasil tanaman holtikultura terutama jenis sayur mayur.

               Belum lagi keberadaan material berupa pasir dan batu yang mengendap  di beberapa sungai wilayah kami seperti Kali Putih, Kali Blongkeng dan  Kali Lamat merupakan sumber penghidupan bagi beberapa tetanggaku yang berprofesi sebagai penambang pasir tradisonal.

               Dengan demikian adanya Merapi yang punya gawe beberapa bulan ini merupakan keberkahan tersendiri bagi kami warga lereng Merapi. Marapi adalah anugrah penghidupan kami. Terima kasih Tuhan.

 

Posted by Nananging Jagad at 02:46:59 | Permalink | Comments (5)

Monday, June 12, 2006

MASIH JUGA BATUK

SEMANGAT MANDIRI UNTUK BANGKIT

Dua tiga hari barangkali cukup untuk sebuah pemulihan kondisi ketidakseimbangan akibat serangan batuk dan flu yang menimpaku. Namun demikian ternyata sampai hari ini memasuki hari ke enam, ternyata batukku belum reda juga. Merapi memang masih terus berkembang aktivitasnya secara fluktuatif, tetapi apakah batukku ada hubungannya dengan hal tersebut ataukah sengaja tumbuh mitos di dalam otakku sehingga seolah-olah dua dimensi kejadian tersebut mempunyai saling keterkaitan satu sama lainnya.

Diriku barangkali terlalu bandel, sehingga kondisi tubuh yang sudah sangat membutuhkan pemanjaan diri total melalui suatu proses istirahat yang cukup total pula, namun ternyata diriku tak sanggup untuk memenuhinya. Bukannya diriku egois untuk mengeksplotasi kemampuan tubuhku secara memaksa, namun di sisi lain dari diriku, di dalam kesadaran roh dan jiwaku ternyata diriku juga membutuhkan suatu konsumsi batiniah yang terlampau parah untuk selalu diitunda-tunda.

Di hari Jum’at malam Sabtu, demi memuhi kebutuhan sisi jiwaku yang lain tersebut, saya bersama beberapa rekan nDalem Kebun Kacang berangkat memenuhi panggilan suci dalam rangka klarifikasi, refleksi dan instrospeksi terhadap kejadian gempa Jogja dalam suatu acara Kenduri Cinta yang bertajuk Kubangan Laknat. Hadir dalam acara tersebut beberapa tokoh diantaranya Cak Nun dan Kiai Kanjeng, Wiranto, Kyai Budi Semarang, Cak Nurbuat dan Cak Kartolo, beberapa aktivis pro-demokrasi dan akademisi dan tentu saja sang maskot KC mBah Surip from Los Angeles. Meskipun acara tersebut diselenggarakan bersamaan dengan pembukaan Piala Dunia di Jerman, namun tidak mengurangi minat para jamaah yang memang sudah rutin hadir dalam acara tersebut setiap bulannya.

Malam Minggu, bertempat di kampus Paramadina, diselenggarakan juga perhelatan yang sama dengan tajuk Paramaswara. Kali ini selain CNKK hadir pula Agum Gumelar, Idris Sardi, Cak Kartolo dan mBak Kastini, Totok Tewel, Jelly Tobing, Once Dewa, mBak Bertha, Kyai Budi Semarang dan tak ketinggalan mBah Surip.

Dalam kedua acara tersebut diungkapkan mengenai kisah para pelaku peristiwa tragedi gempa dan beberapa relawan yang terjun langsung ke lapangan. Diungkapkan mengenai keterlambatan bantuan dan koordinasi penanganan korban gempa disebabkan antara lain tidak adanya garis komando yang jelas dari pihak perintah. Dalam hal ini terjadi ketidakjelasan pemegang tongkat komando koordinasi gempa apakah berada di pihak Pemerintah Daerah (Pemprov dan Pemkab) ataukah koordinasi ditangani langsung oleh Pemerintah Pusat, karena kenyataannya SBY langsung berkantor di Jogja namun tidak jelas apa yang dilakukannya. Semestinya yang lebih logis untuk berkantor di Jogja adalah Jusuf Kalla sebagai Ketua Bakornas PBP, sehingga disimpulkan bahwa campur tangan pemerintah pusat tersebut dipandang sebagai sesuatu yang mubazir dan malah memperkeruh keadaan.

Berkenaan dengan kejadian pasaca bencana tersebut terjadi suatu rekayasa oleh beberapa pihak tertentu untuk mengambil keuntungan diri sendiri dan golongannya dengan mengatasnamakan solidaritas dan rasa kemanusiaan. Pertama terjadi kapitalisasi gempa, dimana gempa mejadi komoditas berbagai pihak untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang bersimpati tanpa disertai transparasi penggunaan dan penyaluran dana yang jelas. Bahkan Pemerintah Pusat sudah berencana untuk meminjam hutang luar negeri atas nama gempa Jogja yang dikritisi oleh beberapa kalangan hanya akan menimbulkan pengkorupsian dana besar-besaran. Kedua terjadi politisasi gempa, dimana dalam kondisi pemulihan terdapat berbagai macam bendera mengatasnamakan kelompok, golongan dan partai tertentu sehingga seolah-olah terjadi kampanye dan satu sama lain berusaha menanamkan budi baiknya untuk kemudian di belakang hari ditagih dalam bentuk dukungan politik kepada organisasi tertentu tersebut. Ketiga terjadi selebritasi gempa, di kalangan tokoh tertentu apakah dia pejabat, artis, politisi dan pihak lain berusaha menampilkan diri untuk memperoleh opini publik bahwa seolah-olah dirinya paling dermawan dan mempunyai kepekaan kepada sesama yang paling tinggi. Indikasi ini tersirat dari adanya beberapa kalangan yang datang ke lokasi korban dengan membawa perlengkpan dokumentasi yang selalu mendokumentasikan penyerahan sumbangan kepada warga maupun pihak Pemda dan hanya mau mengunjungi tempat-tempat tertentu yang populis saja.
Kondisi di lapangan seminggu setelah musibah terjadi, sebenarnya masyarakat korban gempa biak di Jogja maupun Jateng sudah mulai menampakkan kebangkitan. Hal itu nampak dari mulai turunnya para korban gempa ke sawah ladang untuk beraktivitas dan juga mulai bergeliatnya fasilitas perekonomian masyarakat seperti pasar, warung dlsb. Beberapa warga juga mulai bangkit secara bergotong royong menyisihkan puing reruntuhan bangunan rumahnya dan memilah beberapa bahan yang masih mungkin untuk dipergunakan. Semangat kebersamaan, solidaritas dan gotong royong yang masih melekat dan menggeliat bangkit tersebut sebenarnya merupakan aset utama yang tak ternilai bagi kebangkitan para korban gempa.

Aset utama yang kondusif tersebut kemudian ternodai dengan kedatangan sang Jusuf ”Betara” Kalla yang turun dan menjanjikan bahwa korban gempa akan mendapatkan dana bantuan rekonstruksi sebesar maksimal 30 juta. Kondisi itu sebenarnya menghancurkan mentalitas dan spirit masyarakat akar rumput yang sudah mulai menggeliat bangkit dengan modal semangat gotong-royongnya. Adanya informasi menyesatkan tersebut kemudian membuat warga yang rumahnya hanya rusak sebagian dan masih bisa diperbaiki kemudian beramai-ramai merobohkan rumahnya untuk mendapatkan ganti rugi maksimal yang 30 juta itu. Dalam kapasitas apa dan atas persetujuan siapa sebenarnya Jusuf Kalla menyampaikan hal itu dan siapa yang menjamin bahwa dana tersebut dapat cair dan tanpa adanya pemotongan.
Bagi sebagian masyarakat Bantul, mereka yakin akan ketangguhan nilai lokal seperti rasa gotong royong dan kebersamaan sebagai modal utama untuk bangkit sehingga mereka tidak ingin dininabobokkan oleh bantuan pihak lain dan mereka ingin bangkit secara mandiri dan terhormat. Mereka tak ingin kondisi mereka dijadikan alasan bagi Pemerintah, untuk atas nama korban gempa, meminjam utang padahal tak lebih dana tersebut hanya dijadikan bancakan bagi para koruptor. Semangat inilah yang dalam waktu dekat ini akan dikampanyekan ke seluruh pelosok Jogja oleh Bupati Bantul dan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam kapasitasnya sebagai raja Ngayojakarta Hadiningrat.

Bagi saya dan beberapa teman yang menyertai kedua acara tersebut, kiranya banyak sekali mendapatkan pencerahan batiniah bahwasanya setiap komponen masyarakat sebenarnya mempunyai kearifan lokal sendiri-sendiri dalam menghadapi berbagai masalah yang menimpanya. Di sinilah sebenarnya peran utama dari nilai-nilai dan norma luhur yang diwariskan oleh para pendahulu bangsa kita. Oleh karena itu semestinya pihak Pemerintah harus berperan aktif untuk melestarikan dan memberikan dukungan moril sepenuhnya terhadap semangat kemandirian dan gotong royong tersebut.

Tak rugi kiranya meskipun sambil terbatuk-batuk dan perasaan tidak nyaman saya mengurangi jatah istirahat untuk ikut menyimak acara tersebut. Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah……………………….

Posted by Nananging Jagad at 02:55:10 | Permalink | Comments (2)

Monday, June 5, 2006

SEMANGAT JOGJA(4)

 

Berita Seorang Sahabat……...

 

Terhenyak, kaget dan seakan tidak percaya, itulah yang terbersit di benakku ketika si Bos Yerri bercerita baru mendapatkan sms dari seorang rekan di Jogja pada sore itu, 28 Mei 2006. Sms tersebut mengabarkan bahwa Pak Waris, salah seorang dosen muda pengasuh padhepokan Gajah Mada yang sekaligus senior kami dan merupakan suami dari mBak Wibie teman seangkatan kami, telah berpulang ke rahmatullah pada peristiwa gempa mengenaskan, Sabtu 27 Mei 2006. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

       Kedua suami istri tersebut selama ini sebenarnya sedang melanjutkan menuntut ilmu di kota Bandung. Pada kesempatan liburan panjang tersebut mereka sengaja pulang ke rumah orang tua Pak Waris yang bertempat tinggal di wilayah Pundong, mBantul. Selain menyangkut suatu persoalan yang mesti diselesaikan sesegera mungkin, kepulangan itupun sekaligus untuk berpamitan dikarenakan kemungkinan besar hingga waktu lebaran nanti keduanya tidak dapat pulang terkait dengan kandungan mBak Wibie yang diperkirakan kelahirannya di seputar hari raya. Semenjak akan berangkat sebenarnya serasa ada firasat yang tidak mengenakkan dimana di hari yang ditentukan dan tiketpun sudah berada di tangan, Pak Waris merasa berat dan malas untuk budhal. Namun dengan kebulatan tekad akhirnya diputuskan untuk tetap berangkat pulang ke mBantul.

Pada saat kejadian gempa pagi itu, mereka sekeluarga bersama dengan tetangga sekitar berlari menuju sebuah SMP yang berada di kampung tersebut untuk mencari subuah tanah lapang dengan harapan dapat menyelamatkan diri. Namun bagi suami istri muda tersebut, untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat ditolak, karena justru di sekolah tersebut Pak Waris terkena runtuhan sekolah dan meninggal di tempat. Sedangkan mBak Wibie mendapatkan luka yang serius di bagian alis mata kanan dan bagian ibu jari kanan. Luka di kening yang mengucurkan darah sangat deras tersebut kemudian secara darurat diperban dengan sebuah jarit yang diberikan oleh seorang tetangga. Kemudian mBak Wibie dibawa ke rumah sakit di Bantul sebelum kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit DKT Kotabaru untuk perawatan luka. Selama kurang lebih sehari semalam berada di rumah sakit tersebut, banyak rekan, sahabat dan teman sejawat yang berkesempatan datang menjenguk. Hari Senin bersamaan dengan sang ayah yang baru datang dari Bogor semalam sebelumnya, mBak Wibie kemudian diputuskan untuk dibawa ke Bogor melalui Solo.

Setiba di Bogor kemudian perawatan mBak Wibie dilanjutkan di Rumah Sakit Azra selama beberapa hari, sampai akhirnya diijinkan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Cibinong.

Seminggu setelah gempa kami berempat (aku, nDoro Sinyo dan Harvit kemudian disusul Iqbal’97) berkesempatan menengok ke Cibinong. Sejenak mBak Wibie menceritakan peristiwa memilukan tersebut dengan tegar dan tenang serta sekan sudah pasrah dan dapat menerima takdir Tuhan yang telah berlaku atas keluarganya tersebut, sehingga hal itu membuat hati kamipun merasa lega dan bersyukur. Kamipun turut mendoakan semoga kesabaran santiasa dilimpahkan dan kelak mBak Wibie dapat menjalankan persalaninan putranya dengan selamat.

Kita semua yakin bahwa semua cobaan berasal dari Tuhan sebagai bukti tanda kasih sayang terhadap makhluk-Nya sehingga mau senantiasa mensyukuri segala karunia nikmat-Nya dan bersabar atas kesulitan hidup yang menimpa. Kitapun yakin bahwa rekan dan saudara kita dapat tegar dan akan segera bangkit untuk melanjutkan roda hidup masing-masing tanda termangu terlalu lama meratapi nasib akibat bencana kemarin sebagaimana mBak Wibie kami bangkit. Adalah bijaksana ketika Ngersa Dalem dan Bupati mBantul menginstruksikan agar warganya segera beraktivitas kembali mengurusi sawah dan ladangnya tanpa berpangku tangan mengandalkan bantuan terlalu lama. Gempa memang telah meluluh-lantakkan rumah tempat tinggal mereka, namun Tuhan masih menyisakan sawah dan ladang sebagai penopang mereka untuk melanjutkan hidup. Aset panenan untuk musim panen depan di mBantul saja diperkirakan senilai Rp. 300 M, sehingga jangan sampai aset yang sedemikian besar terlantar dan tidak bermanfaat karena terlalu mengandalkan dana bantuan pemerintah yang senilai Rp. 100 M.

Kita tahu bahwa masyarakat di Jogja dan Klaten adalah tipologi kawula yang senantiasa prihatin dan sakmadya dalam menjalani hidup sehingga dalam kondisi apapun tetap tangguh, tatag lan tanggon menghadapi cobaan dan terpaan badai. Jiwa dan semangat kemandirian, berdikari, berdiri di atas kaki sendiri dan pantang berpikir kridha lumahing asta kepada pihak lain adalah sikap dan pendirian hidup kita. Seluruh pelosok tanah air bahkan seantero penjuru dunia berdoa bagi kebangkitan saudara kita korban gempa Jogja-Jateng. Bersama Tuhan kita bisa…………….

Posted by Nananging Jagad at 02:57:56 | Permalink | Comments (4)

Friday, June 2, 2006

SEMANGAT JOGJA(3)


 Roda Kehidupan

 

……………………………

Ada yang hilang di hatinya

Sekeping masa-masa yang lalu

Ingin kau menggapainya

Namun hasrat tak mungkin merengkuhnya

 

Mengapa cobaan selalu datang

Dan kau tak mampu menghalaunya

Hari-haripun berjalan lamban

Sepi bergayut di jiwa yang hampa

…………………………….

Kembali sebuah lirik lagu lama yang pernah memberi warna di tahun 90-an dari Roland Band,sebuah kelompok lokal Jogja yang berjudul “Roda Kehidupan”. Barangkali demikianlah yang terjadi dengan Jogja pekan lalu dengan gempa maha dahsyatnya. Ya, sekedar menapaki sebuah cakra manggilingan, roda kehidupan yang penuh misteri.

Bencana alam barangkali merupakan sasmita, pertanda alam yang diberikan oleh Sang Khalik agar umat-Nya senantiasa eling lan waspada, ingat dan berhati-hati dalam menjalani roda hidupnya. Tuhan tiada pernah menitahkan segala sesuatu ke alam dunia kecuali tanpa ada tujuan. Dan kita harus benar-benar meyakini bahwa segala pemberiannya adalah sesuatu yang terbaik buat kita.

Gempa di satu sisi memang membawa kepiluan di hati setiap pihak yang menjadi korban dengan hilangnya nyawa, harta benda dan mungkin harapan hidup. Namun di sisi lain banyak hikmah dan pelajaran berharga yang sekaligus dapat dipetik oleh insan manusia yang mau berpikir. Sebagaimana halnya dengan bencana tsunami di Aceh beberapa waktu lalu, kita melihat begitu mendengar kejadian gempa di Jogja, secara spontan tanpa diperintahkan banyak kelompok masyarakat dan berbagai organisasi menghimpun bantuan bagi saudara-saudaranya. Sekonyong-konyong semua perhatian tertuju ke Jogjakarta. Berangkali semangat kepedulian, semangat berbagi suka derita dan kegotong-royongan yang selama ini seakan terpupus dengan derasnya globalisasi yang membawa sifat dan sikap yang semakin individualis, tiba-tiba bersemi kembali bagaikan tumbuhnya cendawan di musim hujan.

Naluri, sifat dan fitrah manusialah yang senantiasi menuntun makhluk-Nya ini untuk senantiasa peduli terhadap derita sesama. Semangat dan jiwa gotong royong itulah sebenarnya modal utama yang kita miliki sebagai pilar penopang berdirinya Republik ini semenjak jaman revolusi kemerdekaan. Oleh karena itu, sederas apapun badai globalisasi yang melanda dunia, alangkah lebih arif dan bijaksana apabila kita tetap mempertahankan sifat, sikap dan identitas lokal yang positif, karena sesungguhnya disitulah kekuatan kita. Untuk Jogja, dengan kepedulian dan gotong royong semua elemen bangsa, pasti kau akan segera bangkit dan mengukir kembali semua harapan masa depan. Dengan kebersamaan kita lanjutkan kembali roda kehidupan kita. Hidup adalah perjuangan………………..
Posted by Nananging Jagad at 08:41:24 | Permalink | Comments (4)

Tuesday, May 30, 2006

SEMANGAT JOGJA(2)

                 

   SEMANGAT JOGJA(2)

 

……………

Si mata elang dari Jogjakarta

Resahkah kamu

Kurindu sorot matamu yang tajam dalam gelap malam

Dimana runcing kokoh paruhmu

Tetapkah angkuhmu hadang keruh


Masih sukakah kau mendengar

Dengus nafas saudara kita yang terkapar

Masih sukakah kau melihat

Butir keringat kaum kecil yang terjerat

……………..

Terasa petikan syair lagu Willy yang khusus dibuat Iwan Fals di pertengahan tahun 80-an mengenai ketegaran Jogjakarta menantang jaman dengan segala tradisi dan budaya ala Mataramnya. Di tengah badai gelombang globalisasi, Jogja tetap eksis dengan nilai jatidiri tradisi tiada henti.

Jogja tidak akan tenggelam hanya oleh sapuan getaran gempa.

Jogja akan tetap berdiri tegak tak lekang ditelan jaman.

Jogja akan bangkit lagi menepis segala kedukaan.

Jogja akan abadi sepanjang jaman.

Kita semua yakin…………………

 

Posted by Nananging Jagad at 09:15:02 | Permalink | Comments (3)